KUDUS - Minimnya peminat dan terbatasnya tenaga perajin menjadi tantangan bagi Sumitri (47), dalam mempertahankan usaha kerajinan anyaman bambu.
Perajin yang tergabung dalam kelompok usaha Bambu Kreatif tersebut tetap memproduksi beragam anyaman meski pesanan tidak selalu datang setiap hari.
Sumitri mengatakan, saat ini kegiatan produksi dibantu anggota keluarga dan seorang perajin bernama Kati.
Kondisi tersebut membuat jumlah produksi menyesuaikan pesanan yang diterima.
Menurutnya, minat masyarakat untuk menekuni kerajinan anyaman bambu semakin berkurang.
Sebagian warga lebih memilih bekerja di pabrik karena menginginkan penghasilan yang lebih pasti.
Padahal, proses pembuatan anyaman membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan kesabaran.
Jenis produk yang dibuat pun beragam, mulai dari besek, keranjang, hingga caping untuk kebutuhan tari tradisional.
“Kalau tantangan terbesar, peminatnya sudah jarang,” ungkap Sumitri saat ditemui di tempat usahanya.
Sumitri telah mengenal keterampilan menganyam sejak kelas IV madrasah ibtidaiyah (MI).
Kemampuan itu dipelajarinya secara mandiri dengan mengamati anggota keluarga yang lebih dahulu membuat anyaman bambu.
Awalnya, Sumitri belajar membuat besek.
Seiring waktu, keterampilannya berkembang hingga mampu menghasilkan berbagai produk anyaman sesuai permintaan pelanggan.
Usaha yang dijalankannya juga berawal dari Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang dibentuk melalui pendampingan Program Keluarga Harapan (PKH).
Saat itu, terdapat sekitar 10 orang yang tergabung dalam kelompok tersebut untuk mengembangkan kerajinan bambu.
Namun, seiring berjalannya waktu, anggota kelompok lainnya memilih mengundurkan diri.
Sumitri akhirnya melanjutkan usaha tersebut dengan bantuan orang-orang terdekat.
Dalam menjalankan produksi, Sumitri menyesuaikan jenis anyaman dengan kebutuhan pelanggan dan musim tertentu.
Menjelang Ramadan dan Lebaran, misalnya, permintaan keranjang untuk hantaran cenderung meningkat.
Sementara itu, besek kembali banyak dibuat pada periode tertentu sesuai kebutuhan masyarakat, terutama saat musim mantu atau pernikahan yang biasanya membutuhkan besek untuk wadah hidangan maupun hantaran.
Belakangan, pesanan yang diterimanya juga mencakup perlengkapan tari tradisional, seperti caping dan lingkaran untuk pertunjukan tari.
Sumitri menjadi salah satu perajin yang menyiapkan perlengkapan untuk Tari Lajur Caping Kalo yang memecahkan Rekor Dunia Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) di Halaman Pendapa Kabupaten Kudus pada 26 September 2026.
Meski demikian, permintaan produk dengan anyaman halus atau kualitas asli tidak selalu tersedia.
Dari sisi pemasaran, produk anyaman Sumitri tak hanya menjangkau pasar lokal, tetapi juga merambah sejumlah daerah di luar Kudus, seperti Demak, Jepara dan Gresik.
Bahkan, produk kerajinannya pernah menembus pasar Malaysia melalui bantuan rekan di IKM Dekranasda yang menjadi perantara pengiriman.
Meski telah menjangkau pasar luar daerah hingga luar negeri,
Sumitri masih mengandalkan rekomendasi pelanggan dan penyebaran informasi dari mulut ke mulut melalui WhatsApp untuk memasarkan produknya.
Sumitri menyebut harga produk bervariasi, bergantung pada jenis, ukuran, dan tingkat kerumitan pembuatannya.
Produk anyaman sederhana dapat dijual mulai Rp3.000, sedangkan harga keranjang menyesuaikan ukuran dan model yang dipesan.
Di tengah keterbatasan tenaga dan permintaan yang tidak menentu, Sumitri berharap usaha yang dipertahankannya dapat terus berjalan.
Ia juga ingin kerajinan anyaman bambu semakin dikenal masyarakat luas.
“Harapannya, usaha ini bisa maju dan bertahan,” tuturnya. (saf)
Editor : Ali Mustofa