KUDUS – Suasana balai desa di Desa Lebengjumuk, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, Rabu (01/07), tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pagi, warga berdatangan sambil membawa KTP, kartu keluarga, hingga nomor rekening.
Sebagian duduk mendengarkan sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sementara lainnya mengantre di layanan BPJS Keliling yang dibuka langsung di lokasi kegiatan.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Semarang (UNNES), BPJS Kesehatan Cabang Kudus, dan Dinas Sosial Kabupaten Grobogan.
Tidak hanya menjadi ruang edukasi, kegiatan ini juga dimanfaatkan warga untuk menyampaikan berbagai persoalan kepesertaan JKN yang selama ini mereka alami.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kudus, Fahrurozi, mengatakan masih banyak masyarakat yang sebenarnya sudah terdaftar sebagai peserta JKN, namun belum memahami alur layanan maupun hak yang dapat mereka akses.
“Kadang masyarakat sebenarnya sudah punya JKN, tapi belum tahu cara memanfaatkannya. Ada yang bingung soal pindah fasilitas kesehatan, ada yang belum tahu cara cek status kepesertaan, bahkan ada yang takut berobat karena mengira JKN-nya tidak bisa digunakan,” ujar Fahrurozi.
Menurutnya, edukasi mengenai JKN perlu dilakukan langsung di tengah masyarakat agar informasi yang disampaikan lebih mudah dipahami dan dirasakan manfaatnya.
“Kami ingin masyarakat merasa lebih dekat dengan layanan BPJS Kesehatan. Program JKN ini bukan hanya soal iuran, tapi bentuk perlindungan kesehatan bagi masyarakat,” katanya.
Selain sosialisasi, BPJS Kesehatan Cabang Kudus juga membuka layanan BPJS Keliling.
Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat mengakses berbagai pelayanan administrasi seperti pendaftaran peserta baru, perubahan data, pengecekan status kepesertaan, hingga konsultasi layanan.
“Fasilitas layanan di BPJS Keliling sama seperti di kantor. Jadi masyarakat bisa mengurus administrasi lebih dekat dan lebih mudah tanpa harus pergi jauh, cukup menunjukkan NIK sudah bisa langsung dilayani,” jelas Fahrurozi.
Di sela kegiatan, suasana yang awalnya formal perlahan berubah lebih hangat.
Warga mulai aktif bertanya mengenai persoalan kesehatan dan kepesertaan yang mereka alami sehari-hari.
Ada yang menanyakan prosedur pelayanan rumah sakit, ada pula yang khawatir karena kepesertaannya tidak aktif.
Fahrurozi pun mengingatkan masyarakat agar tidak menunda berobat ketika sakit dan tetap mengikuti alur layanan kesehatan yang berlaku.
“Kalau sakit jangan menunggu parah dulu. Langsung datang ke FKTP seperti puskesmas atau klinik tempat terdaftar. Dari situ dokter akan menentukan apakah perlu dirujuk ke rumah sakit atau cukup ditangani di FKTP,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Grobogan, Muh Hadi, menjelaskan bahwa peserta PBI JK ditentukan berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang disandingkan dengan berbagai data pendukung lainnya.
Menurutnya, peserta PBI JK diperuntukkan bagi masyarakat pada kategori desil satu sampai lima.
Muh Hadi juga menjelaskan beberapa penyebab kepesertaan PBI JK menjadi nonaktif, seperti pindah domisili, data individu tidak ditemukan, meninggal dunia, hingga perubahan status pekerjaan.
“Kalau masyarakat memang membutuhkan tetapi kepesertaannya nonaktif, bisa direaktivasi kembali melalui operator desa dengan membawa syarat seperti SKTM, foto rumah, KK, KTP, serta surat keterangan membutuhkan pelayanan kesehatan dari fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Mahasiswi KKN UNNES, Valensia Pramudya, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keresahan mahasiswa yang melihat masih banyak masyarakat desa belum memahami Program JKN secara menyeluruh.
“Kami melihat masih ada masyarakat yang bingung soal BPJS Kesehatan. Dari situ kami ingin menghadirkan BPJS Kesehatan langsung ke desa supaya masyarakat bisa mendapatkan penjelasan secara langsung,” ujar Valensia.
Salah satu peserta kegiatan, Lestari, mengaku terbantu dengan adanya sosialisasi dan layanan BPJS Keliling tersebut. Saat mengecek kepesertaan melalui layanan PANDAWA, ia menemukan ketidaksesuaian data karena namanya tercantum dalam kartu keluarga orang lain.
“Tadi saya baru tahu ternyata data saya tergabung di KK lain. Langsung dibantu dijelaskan dan diarahkan ke area BPJS Keliling, jadi tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk mengurus administrasi. Tadi juga dijelaskan untuk perubahan data bisa dilakukan melalui PANDAWA,” ungkapnya.
Mayoritas masyarakat Desa Lebengjumuk sendiri bekerja sebagai petani dan peternak. Di tengah aktivitas sehari-hari yang padat, urusan administrasi kesehatan sering kali baru diperhatikan ketika masyarakat membutuhkan pengobatan.
Karena itu, kegiatan jemput bola seperti ini menjadi ruang penting agar masyarakat lebih memahami kondisi kepesertaan JKN mereka sebelum membutuhkan pelayanan kesehatan. (*)
Editor : Ali Mustofa