KUDUS – BPJS Kesehatan Cabang Kudus kembali menggelar kegiatan BPJS Goes to Campus di Universitas Muria Kudus (UMK), Kamis (18/06).
Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMK melalui kuliah umum bertema “Employee Well Being Strategy: Peran Social Health Insurance dalam Membangun SDM yang Sehat dan Produktif”.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Kepala Bagian Mutu Layanan Kepesertaan BPJS Kesehatan Cabang Kudus, Syarifatun Karuniaekawati, mengatakan mahasiswa menjadi kelompok penting dalam sosialisasi JKN karena masih banyak yang belum memahami manfaat maupun tata cara penggunaan layanan Program JKN.
Menurutnya, generasi muda perlu mulai aware terhadap pentingnya jaminan kesehatan sejak dini, apalagi masih ditemukan mahasiswa yang belum pernah membuka aplikasi Mobile JKN ataupun memahami alur layanan JKN secara lengkap.
“Mahasiswa itu termasuk kelompok usia produktif yang harus mulai aware terhadap pentingnya jaminan kesehatan. Ternyata masih banyak yang belum tahu alur layanan JKN, bahkan ada juga yang belum pernah membuka aplikasi Mobile JKN,” ujar Nia.
Dalam pemaparannya, Nia menjelaskan konsep layanan BPJS Kesehatan yang mudah, cepat, dan setara. Menurutnya, kemudahan layanan saat ini didukung berbagai kanal digital sehingga peserta tidak harus datang langsung ke kantor BPJS Kesehatan untuk mengurus administrasi maupun mengakses informasi kepesertaan.
Ia mencontohkan layanan administrasi kini dapat diakses melalui Mobile JKN maupun PANDAWA, sementara pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan juga semakin praktis karena peserta bisa memanfaatkan antrean online melalui aplikasi.
“Sekarang layanan administrasi bisa diakses lewat Mobile JKN maupun PANDAWA. Jadi peserta bisa mengurus administrasi dari rumah. Kalau mau berobat juga lebih cepat karena bisa antre online lewat aplikasi,” jelasnya.
Nia juga menekankan bahwa pelayanan bagi peserta JKN diberikan secara setara tanpa membedakan latar belakang kepesertaan, baik peserta mandiri, PBI, maupun pekerja.
Menurutnya, BPJS Kesehatan juga terus memastikan mutu pelayanan di fasilitas kesehatan tetap terjaga dengan membuka kanal pengaduan dan penilaian pelayanan yang dapat diakses langsung oleh peserta.
“Peserta mandiri, PBI, maupun pekerja mendapatkan hak pelayanan yang sama di fasilitas kesehatan. BPJS Kesehatan juga menyediakan kanal pengaduan jika ada kendala pelayanan agar bisa segera ditindaklanjuti,” katanya.
Selain pemaparan materi utama, kegiatan tersebut turut menghadirkan Duta Muda BPJS Kesehatan Cabang Kudus, Claudya Lasya Putri Alfriyan.
Dalam sesi edukasi, Claudya memperkenalkan berbagai kanal layanan BPJS Kesehatan mulai dari Aplikasi Mobile JKN, PANDAWA, hingga layanan virtual melalui VIOLA (Virtual Online Assistant).
“Masih ada mahasiswa yang ternyata belum pernah mengakses Mobile JKN. Padahal di aplikasi itu fiturnya lengkap, mulai dari cek status kepesertaan, pindah faskes, antre online, sampai pengaduan layanan,” ujar Claudya.
Menurut Claudya, mahasiswa perantauan juga perlu memahami manfaat layanan digital JKN agar lebih mudah mendapatkan akses pelayanan kesehatan selama kuliah di luar daerah asal.
Ia menjelaskan mahasiswa yang sedang merantau tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan di daerah tempat kuliah dan bahkan dapat melakukan pindah FKTP sementara melalui aplikasi Mobile JKN.
“Kalau mahasiswa rantau sakit di Kudus tetap bisa dilayani. Bahkan pindah FKTP sementara juga bisa dilakukan lewat aplikasi Mobile JKN,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nia juga mengingatkan mahasiswa untuk memastikan status kepesertaan JKN tetap aktif, khususnya bagi anggota keluarga segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) yang telah berusia di atas 21 tahun.
Banyak mahasiswa yang status kepesertaannya menjadi nonaktif karena faktor usia, padahal status tersebut masih dapat diaktifkan kembali dengan melampirkan surat aktif kuliah atau bukti pembayaran UKT melalui layanan PANDAWA.
“Banyak mahasiswa yang statusnya nonaktif karena usianya sudah lewat 21 tahun. Padahal kalau masih kuliah bisa diaktifkan kembali melalui PANDAWA dengan melampirkan surat aktif kuliah atau bukti pembayaran UKT pertahunnya, jadi bisa ditanggung lagi hingga umur 25 tahun,” jelasnya.
Para mahasiswa mengaku kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai Program JKN dan layanan BPJS Kesehatan.
Salah satunya disampaikan Naura Zalfa (20) yang menilai edukasi seperti ini penting karena masih banyak mahasiswa yang belum memahami manfaat BPJS Kesehatan secara menyeluruh.
“Menurut saya kegiatan seperti ini penting karena masih banyak mahasiswa yang belum memahami manfaat BPJS Kesehatan secara lengkap,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Muhammad Bintang (20). Ia mengaku mendapatkan banyak wawasan baru terkait Program JKN dan inovasi layanan BPJS Kesehatan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena menambah wawasan kami tentang pentingnya BPJS Kesehatan dan Program JKN. Ternyata sekarang pelayanannya juga semakin mudah dan cepat,” katanya.
Sementara itu, Putri Himatun Nafis (22) mengaku tertarik dengan berbagai kanal layanan digital BPJS Kesehatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
“Acara BPJS Goes to Campus ini menarik karena tidak hanya sosialisasi, tetapi kami juga jadi tahu kanal layanan BPJS seperti aplikasi Mobile JKN dan PANDAWA dan tadi juga praktek langsung untuk mengaksesnya,” ungkapnya.
Kepala Program Studi Manajemen UMK, Noor Indah turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai Program JKN sangat penting bagi mahasiswa.
“Alhamdulillah kegiatan BPJS Goes to Campus ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa kami, khususnya mahasiswa FEB. Mahasiswa mendapatkan banyak pencerahan terkait Program JKN,” ujarnya. (*)
Editor : Ali Mustofa