KOTA – Persoalan sampah yang terus menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Kudus, mendorong lahirnya berbagai upaya edukasi kepada masyarakat.
Salah satunya melalui workshop dan talkshow pengelolaan sampah dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang mengajak warga memahami pentingnya daur ulang dan memperpanjang usia pakai barang bekas agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.
Kegiatan yang digelar di Kudus itu dihadiri berbagai unsur, mulai komunitas lingkungan, pegiat sampah, hingga perwakilan dinas terkait.
Sejak pukul 08.30 WIB, puluhan peserta dari berbagai kalangan mulai memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian acara edukasi yang mengusung konsep ekonomi sirkular.
Ketua Panitia Hari Lingkungan Hidup Kudus, Muhamad Alaika, mengatakan peserta yang hadir terlebih dahulu melakukan registrasi sebelum menerima starter kit untuk kebutuhan workshop.
Menurutnya, kegiatan ini dirancang agar masyarakat tidak hanya mendapat teori, tetapi juga pengalaman praktik langsung.
“Kami ingin memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat bahwa barang sisa masih memiliki nilai guna dan bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat,” ujarnya.
Dalam sesi materi, peserta mendapat penjelasan mengenai pengelolaan sampah, pemilahan limbah rumah tangga, hingga konsep ekonomi sirkular.
Setelah itu, mereka diajak praktik membuat kerajinan dari kain perca, salah satu jenis limbah tekstil yang selama ini sering terbuang tanpa dimanfaatkan secara optimal.
Melalui pendampingan narasumber, peserta membuat dua jenis produk, yakni bunga tulip dan cepol rambut.
Alaika menjelaskan, bunga tulip dipilih karena mudah dibuat dan dapat dikerjakan siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.
Sementara cepol rambut dipilih karena mayoritas peserta yang hadir merupakan perempuan, mulai remaja hingga ibu rumah tangga.
Menurut Alaika, pemanfaatan kain perca menjadi salah satu solusi sederhana untuk menekan volume sampah tekstil.
“Kain perca sebenarnya masih memiliki potensi besar untuk diolah kembali. Dengan kreativitas sederhana, limbah ini bisa menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mengurangi jumlah sampah,” katanya.
Panitia awalnya membuka kuota sebanyak 130 peserta.
Namun, tingkat kehadiran mencapai sekitar 60 hingga 70 orang atau lebih dari separuh kuota.
Mayoritas peserta adalah perempuan yang tertarik belajar membuat kerajinan dari bahan bekas.
Ketua Komunitas Kresek.id Kudus, Faesal Adam, menegaskan kegiatan ini tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah.
Peserta yang hadir memang tidak dipungut biaya, namun diwajibkan membawa sampah untuk disedekahkan.
Sampah tersebut kemudian ditimbang dan dijual, hasilnya digunakan untuk kegiatan sosial komunitas.
“Kami ingin mengubah sampah menjadi produk yang bernilai. Hari ini juga ada pameran kerajinan daur ulang. Acara gratis, tapi peserta yang hadir sedekah sampah. Itu akan ditimbang dan dijual untuk kegiatan sosial kami selanjutnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, persoalan sampah menjadi masalah umum di hampir semua daerah.
Menurutnya, sumber terbesar timbulan sampah berasal dari rumah tangga sehingga pemilahan harus dimulai dari tingkat paling dasar.
Bahkan, untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai, panitia tidak menyediakan air minum dalam kemasan dan mewajibkan peserta membawa tumbler sendiri.
Selain workshop dan talkshow, kegiatan tahunan yang digelar Kresek.id ini juga menghadirkan pameran produk ramah lingkungan dari sejumlah pelaku usaha kreatif.
Kolaborasi dengan komunitas, bank sampah, serta pelaku UMKM diharapkan mampu memperkuat gerakan peduli lingkungan di tengah masyarakat.
Salah satu peserta, Febrian, mengaku mendapat banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut.
Menurutnya, workshop itu membuka pandangannya bahwa limbah kain yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata bisa diolah menjadi produk kreatif dengan nilai manfaat sekaligus nilai jual.
“Saya jadi paham ternyata barang yang sering dianggap sampah bisa diubah menjadi sesuatu yang berguna. Ini menarik dan bisa dicoba di rumah,” ungkapnya. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra