KUDUS – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 di Kabupaten Kudus menunjukkan tantangan besar dalam kemampuan numerasi siswa.
Rata-rata nilai mata pelajaran Matematika pada jenjang SD dan SMP masih berada di bawah angka 50, meski sejumlah peserta berhasil meraih skor hampir sempurna.
Data dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus mencatat rata-rata nilai TKA Matematika tingkat SD mencapai 47,91. Sementara itu, rata-rata nilai siswa SMP justru lebih rendah, yakni 43,39.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan hasil tersebut memang belum sesuai harapan.
Namun, ia menegaskan bahwa TKA tidak digunakan sebagai penentu kelulusan peserta didik.
“Nilai TKA menjadi bahan evaluasi untuk melihat capaian akademik siswa, terutama dalam aspek literasi dan numerasi,” ujarnya.
Bahasa Indonesia Lebih Unggul
Berbeda dengan Matematika, capaian siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia menunjukkan hasil yang lebih baik.
Pada tingkat SD, rata-rata nilai Bahasa Indonesia mencapai 66,74. Sedangkan pada jenjang SMP, rata-ratanya berada di angka 67,20.
Perbedaan cukup jauh antara nilai Bahasa Indonesia dan Matematika menunjukkan bahwa kemampuan numerasi masih menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan, termasuk di Kabupaten Kudus.
Fenomena ini juga sejalan dengan sejumlah laporan nasional yang menunjukkan bahwa nilai Matematika dalam pelaksanaan TKA masih cenderung lebih rendah dibandingkan mata pelajaran literasi.
Pemerintah bahkan menjadikan hasil TKA sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah.
Sejumlah Siswa Raih Nilai Hampir Sempurna
Meski rata-rata nilai Matematika masih rendah, terdapat sejumlah siswa yang berhasil mencatatkan prestasi membanggakan.
Pada jenjang SD, nilai Matematika tertinggi mencapai 96,67 dan diraih oleh 12 siswa dari sembilan sekolah berbeda.
Sekolah tersebut antara lain SD 4 Bulungcangkring, SD 1 Jekulo, SD 1 Mijen, SD Al Islam Kudus, SD Umar bin Khathab, SD Muhammadiyah Birrul Walidain, SD 1 Rendeng, SD Masehi Kudus, dan SD 1 Payaman.
Sementara pada tingkat SMP, nilai Matematika tertinggi sebesar 96,67 hanya diraih oleh satu siswa dari SMP 1 Kudus.
Prestasi lebih tinggi terlihat pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebanyak 34 siswa SD berhasil memperoleh nilai sempurna 100.
Sedangkan pada tingkat SMP terdapat sembilan siswa yang mampu meraih skor maksimal.
Banyak Nilai Masih Berkisar 30 hingga 40
Disdikpora Kudus mengungkapkan masih banyak peserta TKA yang memperoleh nilai di rentang 30 hingga 40, terutama pada mata pelajaran Matematika.
Meski demikian, tidak ada peserta yang mendapatkan nilai nol selama pelaksanaan TKA tahun ini.
Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa penguatan numerasi perlu dilakukan secara lebih intensif.
Sekolah diharapkan mampu meningkatkan metode pembelajaran agar siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga memahami konsep dan mampu menyelesaikan soal berbasis penalaran.
Sebelumnya, hasil uji coba TKA di Kudus juga disebut belum memenuhi target yang diharapkan.
Karena itu, Disdikpora telah meminta sekolah dan orang tua untuk lebih aktif mendampingi siswa dalam proses belajar.
Nilai TKA Mulai Dilirik dalam SPMB
Selain menjadi alat evaluasi pembelajaran, hasil TKA juga mulai digunakan sebagai salah satu komponen tambahan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027, khususnya pada jalur prestasi.
Meski demikian, sejumlah regulasi nasional menegaskan bahwa nilai TKA bukan satu-satunya faktor penentu dalam proses seleksi.
Nilai rapor dan komponen prestasi lainnya tetap menjadi bagian penting dalam penilaian siswa.
Dalam waktu dekat, Disdikpora Kudus akan melakukan sosialisasi kepada sekolah dan masyarakat terkait mekanisme SPMB 2026, termasuk pemanfaatan hasil TKA dalam proses penerimaan peserta didik baru.
Hasil TKA 2026 ini menjadi gambaran nyata kondisi kemampuan akademik siswa di Kudus.
Di satu sisi masih terdapat capaian yang perlu diperbaiki, namun di sisi lain muncul siswa-siswa berprestasi yang mampu menunjukkan kemampuan akademik sangat baik.
Pemerintah daerah berharap hasil tersebut menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam penguatan literasi dan numerasi di sekolah.
Editor : Mahendra Aditya