Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tak Sesuai Tema, Ogoh-Ogoh Tetap Meriahkan Takbir Keliling Desa Getaspejaten Kudus

Andika Trisna Saputra • Minggu, 15 Maret 2026 | 18:51 WIB
Kreativitas Pemuda Warnai Takbir Keliling Kudus, Ogoh-Ogoh Tetap Dibuat Peserta
Kreativitas Pemuda Warnai Takbir Keliling Kudus, Ogoh-Ogoh Tetap Dibuat Peserta

KUDUS – Persiapan takbir keliling di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, mulai dimatangkan menjelang malam Idulfitri.

Meski panitia telah menetapkan tema budaya Islam dalam kegiatan tersebut, sejumlah peserta diketahui tetap membuat ogoh-ogoh sebagai bagian dari kreativitas mereka untuk memeriahkan acara.

Seksi acara panitia takbir keliling Desa Getaspejaten, Khafidhotuz Zakiyah, mengatakan panitia sebenarnya telah menyusun aturan secara jelas dalam petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (juklak dan juknis).

Namun dalam praktiknya, masih ada beberapa peserta yang memilih membuat ogoh-ogoh meski karya tersebut tidak akan masuk dalam penilaian lomba.

“Memang banyak juga peserta yang tetap membuat semacam ogoh-ogoh meskipun itu di luar tema. Mereka tetap membuatnya walaupun tidak masuk penilaian, alasannya untuk meramaikan dan ikut berpartisipasi,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi takbir keliling di Desa Getaspejaten merupakan agenda rutin yang digelar setiap malam 1 Syawal. Kegiatan ini menjadi bentuk perayaan kemenangan umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.

Selain itu, takbir keliling juga dipandang sebagai upaya melestarikan budaya masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun. Tradisi tersebut bahkan dianggap sebagai bagian dari warisan budaya yang terus dijaga oleh warga desa.

Dalam juknis kegiatan, panitia sebenarnya telah menyarankan peserta untuk membuat replika atau miniatur yang sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam.

Contohnya seperti miniatur Ka’bah, masjid, menara, atau simbol lain yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Islam.

Khafidhotuz menjelaskan bahwa cakupan kebudayaan Islam sangat luas sehingga peserta tetap memiliki ruang berkreasi. Misalnya dengan menampilkan unsur sejarah dakwah para nabi dan rasul, termasuk kehidupan masyarakat pada masa itu yang berdampingan dengan hewan seperti unta yang digunakan sebagai kendaraan.

“Dalam Islam juga diajarkan untuk menjaga makhluk hidup, bahkan semut pun kita dilarang membunuhnya. Selain itu ada juga kisah kurban Nabi Ismail yang digantikan dengan kambing. Hal-hal seperti itu bisa menjadi inspirasi dalam membuat replika,” jelasnya.

Meski demikian, panitia menegaskan bahwa apabila terdapat karya atau karakter yang tidak sesuai dengan ketentuan, maka hal tersebut berada di luar tanggung jawab panitia. Sebab sejak awal seluruh aturan telah disampaikan kepada peserta melalui juknis yang telah dibagikan.

“Jika terjadi sesuatu yang membahayakan atau merugikan orang lain, itu bukan tanggung jawab panitia karena sejak awal kami sudah mengingatkan dan menetapkan aturan,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan peserta yang tidak mengikuti tema akan menjadi bahan evaluasi panitia untuk penyelenggaraan kegiatan di tahun-tahun berikutnya. Ke depan, panitia berencana lebih tegas dalam menegakkan aturan agar kegiatan tetap selaras dengan budaya Islam yang diusung.

Dalam kegiatan tersebut, setiap peserta juga diberi kesempatan menampilkan pertunjukan di depan panggung dengan durasi maksimal empat menit, termasuk waktu persiapan. Nomor urut peserta akan ditentukan panitia saat pemberangkatan.

Panitia juga menetapkan sejumlah larangan, seperti tidak diperbolehkannya membawa obor, petasan, maupun benda lain yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Peserta masih diperbolehkan menggunakan pengeras suara, tetapi tidak boleh memakai alat perekam atau konsep takbiran bergaya DJ.

Selain itu, peserta wajib mengikuti rute yang telah ditentukan, menjaga kebersihan selama kegiatan berlangsung, serta mengikuti acara hingga selesai. Kegiatan ini juga tidak dipungut biaya sehingga seluruh masjid dan musala dapat ikut berpartisipasi.

Dalam aturan lomba juga ditegaskan bahwa ogoh-ogoh yang menyerupai setan, genderuwo, atau bentuk sejenis tidak akan masuk dalam penilaian. Ketentuan ini dibuat agar kegiatan tetap selaras dengan tema “Budaya Islam Kudus” yang diusung panitia.

Sementara itu, Pembina Remaja Musala Baiturrahman, Ahmad Tridian Yusnil Ihza, mengakui bahwa ogoh-ogoh sebenarnya kurang tepat ditampilkan dalam takbir keliling karena tidak sesuai dengan juknis yang telah ditetapkan panitia.

Namun ia menilai kreativitas pemuda juga perlu diberikan ruang agar mereka tetap aktif berkegiatan di lingkungan musala. Menurutnya, kegiatan kreatif sering menjadi cara untuk menarik minat generasi muda agar tetap terlibat dalam aktivitas keagamaan.

“Kalau anak muda dilarang membuat ogoh-ogoh, dikhawatirkan mereka justru malas datang ke musala. Yang penting mereka tetap punya kegiatan dan tetap berjamaah di musala,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan takbir keliling tetap menjadi momentum syiar Islam sekaligus ruang kreativitas bagi generasi muda, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan Islam dalam pelaksanaannya. (dik)

Editor : Admin
#ogoh-ogoh takbir keliling #Desa Getaspejaten Kudus #tradisi takbir keliling #budaya Islam Kudus #takbiran Idulfitri Kudus #ogoh-ogoh Kudus #kegiatan Ramadan Kudus #takbir keliling Jati Kudus #berita Kudus terbaru #takbir keliling kudus