Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hilal Tak Terlihat di Kudus, Awal Ramadan 1447 H Tunggu Sidang Isbat

Andika Trisna Saputra • Selasa, 17 Februari 2026 | 19:53 WIB
PEMANTAUAN: Sejumlah perukyat memantau hilal menggunakan teleskop teodolit di MAN 2 Kudus, Selasa (17/2). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
PEMANTAUAN: Sejumlah perukyat memantau hilal menggunakan teleskop teodolit di MAN 2 Kudus, Selasa (17/2). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Pemantauan hilal awal Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Kudus belum membuahkan hasil.

Tim rukyat dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus menyatakan hilal tidak terlihat saat pemantauan yang digelar di MAN 2 Kudus, Selasa (17/2) petang.

Kepala Kemenag Kudus, Shony Wardana, menjelaskan bahwa MAN 2 Kudus menjadi salah satu dari 15 titik rukyatul hilal di Jawa Tengah yang ditetapkan Kementerian Agama.

Secara nasional, terdapat 96 titik pemantauan yang hasilnya akan dibahas dalam sidang isbat tingkat nasional oleh Kemenag RI.

“Pada sore ini tidak ada perukyat yang melihat hilal. Hasilnya akan kami laporkan ke Kemenag pusat untuk menjadi bahan sidang isbat malam ini,” ujarnya di lokasi pemantauan.

Rukyatul hilal dilaksanakan di lantai 4 dan 5 Gedung Laboratorium Olimpiade Sains Terpadu MAN 2 Kudus.

Pemantauan berlangsung sekitar 30 menit dengan dukungan peralatan representatif, seperti teleskop teodolit, kompas, kamera, data hisab, dan kalkulator.

Penunjukan lokasi ini karena kelengkapan alat yang dinilai memadai untuk observasi astronomi.

Berdasarkan rekapitulasi data hisab Kantor Kemenag Kabupaten Kudus, ijtimak atau konjungsi terjadi pada pukul 19.02.01 WIB, sedangkan matahari terbenam pukul 18.01.00 WIB.

Tinggi hilal tercatat minus 2 derajat 2 menit 17 detik, dengan elongasi 1 derajat 10 menit 50 detik.

Artinya, posisi hilal masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam.

Secara perhitungan, kriteria baru MABIMS mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar memenuhi imkan rukyat.

Dengan posisi minus dan elongasi rendah, peluang terlihatnya hilal sangat kecil meskipun cuaca di lokasi relatif cerah dan tidak terhalang awan.

Shony menambahkan, meskipun faktor cuaca dan kesiapan perukyat telah mendukung, secara astronomis hilal memang belum memenuhi kriteria visibilitas.

Perukyat yang bertugas juga akan disumpah oleh Pengadilan Agama apabila berhasil melihat hilal sebagai bagian dari prosedur resmi.

Ia menambahkan, hasil rukyat tidak menunjukkan penampakan hilal, besar kemungkinan 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada Kamis (19/2).

Namun kepastian tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar Kementerian Agama RI berdasarkan laporan dari seluruh titik pemantauan di Indonesia. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#puasa ramadan #1 ramadan #rukyat hilal 2026 #pemantauan hilal #MAN 2 Kudus