Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sensasi Naik Ojek Gunung Muria, Jalur Ekstrem Menuju Makam Sunan Muria

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 23 Januari 2026 | 15:32 WIB
ilustrasi ojek muria
ilustrasi ojek muria

RADAR KUDUS - Makam dan Masjid Sunan Muria di Desa Colo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjadi salah satu destinasi ziarah religi paling populer di Pulau Jawa.

Berada di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), kawasan ini kerap dijuluki sebagai situs sejarah Islam “di atas awan”.

Untuk mencapai kompleks makam, peziarah dapat memilih dua jalur, yakni berjalan kaki dengan ratusan anak tangga atau menggunakan jasa ojek gunung.

Opsi ojek menjadi pilihan banyak pengunjung karena dinilai lebih praktis, meski menawarkan sensasi ekstrem.

Jalur sempit, tanjakan curam, serta jurang di sisi kiri dan kanan membuat perjalanan memacu adrenalin.

Pengunjung dengan riwayat penyakit jantung pun disarankan untuk mempertimbangkan opsi ini dengan matang.

Di balik sensasi tersebut, profesi ojek gunung Muria ternyata menyimpan potensi ekonomi yang besar.

Dalam sehari, pengojek bisa meraup pendapatan Rp300 ribu pada hari biasa, bahkan mencapai Rp700 ribu saat akhir pekan atau hari libur.

Jika diakumulasi, penghasilan bulanan mereka dapat menembus belasan hingga puluhan juta rupiah, jauh melampaui Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Kudus.

Namun, tidak semua orang bisa menjadi pengojek di kawasan ini. Jasa ojek hanya boleh dijalankan oleh anggota Asosiasi Angkutan Sepeda Motor Muria yang saat ini berjumlah sekitar 410 orang.

Keanggotaan bersifat tertutup, tetapi dapat diwariskan atau diperjualbelikan. Bahkan, pada lelang Februari 2023 lalu, sebuah rompi ojek resmi Sunan Muria terjual hingga Rp277 juta.

Sebelum berziarah ke makam, peziarah biasanya singgah di Masjid Sunan Muria yang menyimpan kisah unik.

Konon, Sunan Muria atau Raden Umar Said pernah membakar masjidnya sendiri karena merasa tidak nyaman saat bangunannya dipuji terlalu indah oleh Sunan Kudus.

Ia khawatir pujian tersebut menumbuhkan rasa riya dan mengganggu niat dakwahnya. Masjid itu kemudian dibangun kembali dalam bentuk yang lebih sederhana.

Meski telah mengalami renovasi berkali-kali, beberapa bagian masjid tetap dipertahankan, salah satunya tempat imam yang menjorok ke dalam.

Bentuk ini melambangkan ajaran agar umat Islam lebih mengutamakan kepentingan akhirat dibandingkan urusan duniawi.

Sunan Muria dikenal sebagai wali yang dekat dengan rakyat jelata. Ia berdakwah di wilayah lereng Gunung Muria hingga pesisir utara Jawa, menyasar nelayan, pedagang, dan masyarakat kecil.

Metode dakwahnya dilakukan melalui pendekatan kehidupan sehari-hari, seperti mengajarkan keterampilan bercocok tanam, berdagang, hingga membuat perahu.

Kompleks makam Sunan Muria tertata rapi dan bersih. Tidak ditemukan pengemis yang kerap dijumpai di lokasi ziarah lain. Area sedekah dan berjualan pun telah diatur khusus sehingga pengunjung merasa nyaman.

Salah satu oleh-oleh khas dari kawasan ini adalah buah parijoto. Buah kecil berwarna ungu kemerahan tersebut dipercaya memiliki nilai simbolis.

Secara turun-temurun, parijoto kerap dijadikan ritual bagi pasangan yang mendambakan keturunan atau berharap memiliki anak yang rupawan.

Perjalanan ke Makam Sunan Muria tidak hanya menawarkan pengalaman spiritual, tetapi juga menyuguhkan kisah sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini. (Ghina)

Editor : Mahendra Aditya
#muria #ojek colo