KUDUS – Rencana pembangunan rumah sakit Sunan Muria Kudus di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, terkendala sumber anggaran.
Imbas dari adanya pemotongan dana Transfer Kas Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr. Mustiko Wibowo mengatakan, sebelumnya rencana pembangunan RS Sunan Muria dianggarkan melalui Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2026.
Namun, karena dana TKD 2026 mengalami pemotongan, maka alokasi anggaran sekitar Rp 40 miliar dari DBHCHT yang semula diperuntukkan untuk pembangunan RS Sunan Muria tahap pertama akhirnya dicoret.
“Rencana awal bangun RS Sunan Muria Kudus dapat dana cukai. Tahap pertama harusnya di 2026 dengan anggaran Rp 40 miliar. Tetapi, karena anggaran dana cukai itu dipotong banyak, terpaksa harus dicoret,” kata dr. Mustiko, kemarin (30/12) 2025.
Prioritas anggaran DKK saat ini difokuskan pada program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti Universal Health Coverage (UHC) serta rehabilitasi fasilitas dan alat kesehatan yang mendesak.
Pihaknya, mengungkapkan bahwa Detail Engineering Design (DED) pembangunan RS Sunan Muria telah rampung. Rencana rumah sakit tersebut akan dibangun di atas lahan milik Pemkab Kudus seluas 10 ribu meter persegi.
Saat ini, Pemkab Kudus tengah menjajaki opsi lain sumber dana pembangunan melalui kerjasama dengan pihak swasta.
Komunikasi awal dengan investor asing telah dilakukan, dengan harapan dapat mendukung rencana pembangunan rumah sakit.
“Sudah ada pertemuan awal, masih perkenalan. Belum masuk ke sistem kerja sama atau skema pendanaan. Masih perlu banyak rapat lanjutan,” ungkapnya.
Dokter Mustiko menjelaskan, estimasi kebutuhan dana pembangunan fisik rumah sakit mencapai Rp 140 miliar hingga Rp 150 miliar. Anggaran tersebut mencakup pembangunan gedung empat lantai beserta instalasi pendukung seperti IPAL.
“Namun itu belum termasuk pengadaan sarana prasarana medis seperti tempat tidur dan alat kesehatan,” tandasnya.
RS Sunan Muria berstatus RS Umum Tipe C ini disiapkan dengan kapasitas 105 tempat tidur (TT) dan memiliki layanan unggulan di bidang penyakit paru, termasuk penanganan Tuberkulosis (TB) MDR.
“Untuk sumber daya manusia (SDM) rumah sakit juga belum kami siapkan sekarang, karena masih menunggu kejelasan sumber anggaran. Rencananya bertahap, mulai bangunan dulu, lalu pengisian sarpras, baru rekrut tenaga,” imbuhnya. (san)
Editor : Mahendra Aditya