RADAR KUDUS - Di usia yang masih sangat muda, Salsabila Tsaniatul (18) harus melewati masa perkuliahan semester awal sembari berjuang melawan penyakit hipertiroid dan gerd yang menyerangnya.
Flu yang tidak kunjung sembuh menjadi awal mula dokter mencurigai adanya penyakit serius di tubuhnya, hingga akhirnya ia diharuskan menjalani pemeriksaan laboratorium. Di RSU Kumala Siwi, diagnosis itu tegak. Dokter menyatakan dirinya positif hipertiroid.
“Rasanya kaget, tapi saya berusaha tetap tenang dan mengikuti petunjuk dokter. Minggu lalu saya sudah cek laboratorium kemudian diperiksa juga oleh dokter dan hari ini kunjungan ketiga saya untuk pengambilan sampel darah lagi. Hasilnya, positif hipertiroid,” ucapnya saat ditemui usai pemeriksaan.
Menurut Salsabila sikap profesional dokter yang menanganinya membuat ia merasa lebih tenang selama menjalani perawatan. Setiap keluhan didengarkan, penjelasan mengenai diagnosis diberikan secara lengkap, dan pengobatan selalu disesuaikan dengan kondisi terkini.
Baginya, perhatian itu sangat berarti, terutama saat ia harus menghadapi hasil diagnosa baru. Ia berharap pelayanan serupa dapat diterapkan secara konsisten agar pasien lain juga merasakan kenyamanan yang sama selama proses pengobatan.
“Dokternya sangat komunikatif, penjelasannya tidak terkesan menakuti, dan saya jadi paham kondisi yang sedang saya alami ini. Pokoknya saya dibimbing mulai dari penggunaan obat dan kontrol rutin untuk bisa segera pulih. Saya berharap pasien lainnya juga mendapatkan pelayanan yang terbaik dan segera sembuh,” ujarnya.
Sebelum terkena hipertiroid, Salsabila beberapa kali harus menjalani rawat inap karena nyeri di ulu hati dan mual hebat yang membuat tubuhnya lemas hingga memerlukan penanganan di IGD. Dirinya mempunyai riwayat penyakit gerd yang dimungkinkan berasal dari faktor genetik keluarganya.
“Dua tahun ini saya merasakan sakit di lambung dan sudah beberapa kali opname karena sakit yang luar biasa dan badan itu lemas sekali sampai dibawa ke IGD," keluhnya.
Sakitnya itu muncul biasanya saat kuliah sedang padat, jadi tubuh kondisinya capek, pola makan tidak teratur dan akhirnya kambuh.
"Sebenarnya ibu saya juga mempunyai riwayat gerd, jadi mungkin ini faktor keturunan juga," ungkap Salsabila.
Dibalik rasa sakit yang dirasakan, Salsabila merasa tenang. Ia bersama orang tuanya telah terdaftar Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) sejak 2018 silam.
Setiap kali datang untuk berobat, ia tidak perlu khawatir tentang biaya karena seluruh layanan mulai dari pemeriksaan dokter, cek laboratorium, pelayanan IGD hingga rawat inap, semua ditanggung tanpa ada pungutan tambahan.
“Alhamdulillah, selama digunakan berobat, kami tidak pernah dikenai biaya tambahan apapun. Saya dan keluarga benar-benar sangat terbantu. Di IGD pelayanannya cepat, dokter langsung memberikan penanganan, perawatnya juga ramah. Jadi meskipun sakit, saya merasa lebih tenang,” ceritanya.
Salsabila juga memanfaatkan menu antrean online pada aplikasi Mobile JKN untuk pelayanan di rumah sakit. Ia menuturkan bahwa layanan digital tersebut sangat membantunya menghemat waktu, mengingat jarak antara rumahnya dan rumah sakit cukup jauh.
Dengan adanya antrean online, Salsabila dapat memperkirakan waktu kedatangan dengan lebih tepat dan mengurangi risiko menunggu terlalu lama di fasilitas kesehatan.
“Saya menggunakan antrean online untuk kontrol rutin di rumah sakit, karena untuk ke rumah sakit, saya diantar orang tua kemudian pulangnya dijemput lagi. Dengan antrean online ini saya bisa memperkirakan jam berapa orang tua saya antar dan saya juga tidak telalu lama menunggu antrean di polinya,” ucap Salsabila.
Setelah dinyatakan positif hipertiroid, Salsabila kini harus menjalani tahapan pengobatan lanjutan.
Meskipun masih harus bolak-balik kontrol, ia tetap berusaha menjaga kuliahnya agar tidak tertinggal.
Ia bersyukur, dengan adanya Program JKN, ia tidak perlu memikirkan tambahan biaya lagi. (*)
Editor : Mahendra Aditya