MADRASAH Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus memiliki sejarah panjang sebelum menjadi lembaga pendidikan besar seperti saat ini.
Berawal dari sistem pengajian klasikal di Pondok Tasywiquth Thullab, para masyayikh kemudian merintis pendidikan yang lebih terprogram hingga lahirlah MI TBS dan pendidikan lainnya.
Awal berdirinya Madrasah TBS bermula dari Pondok Tasywiquth Thullab (TB) Balai Tengahan.
Pada masa itu, sistem pembelajaran di pondok masih bersifat klasikal dan belum terprogram.
Melihat kondisi tersebut, Mbah KH. Nur Chudlri bersama KH. Abdul Muhith menggagas ide untuk membuat pembelajaran di Pondok TB menjadi lebih terstruktur.
Dari inisiatif itu, para masyayikh kemudian mendirikan lembaga pendidikan MI TBS.
Pada masa awal, tingkatan kelas masih menggunakan istilah Shifir Awal (01), Shifir Tsani (02), Shifir Tsalits (03), hingga Shifir Qismun.
“Shifir Qismun itu setingkat MTs atau SMP,” terang Salim, S.Ag., M.Pd., Kepala MTs NU TBS Kudus sekaligus Panitia Pelaksana Jalan Sehat 100 Tahun TBS Kudus.
“Sejak saat itu, model pembelajaran menjadi terprogram meski tetap mempertahankan sistem klasikal,” tambahnya.
Murid pertama MI TBS adalah KH. Turaichan Adjhuri. Pada masa itu, lembaga masih berada pada jenjang Shifir. “Jadi waktu itu masih Shifir,” tegasnya.
Pada pagi hari KH. Turaichan mengajar, sementara malam hari ia belajar. Para guru yang mengajar pagi, malamnya juga belajar. Karena itu beliau disebut sebagai murid sekaligus guru pertama.
“Pagi hari KH. Turaichan mengajar adik-adiknya di kelas Shifir (yang ketika itu belum bernama MI). Malamnya, beliau belajar di Sekolah Rakyat (SR),” jelasnya.
Pada masa kolonial Belanda, Sekolah Rakyat lebih menekankan aspek administratif untuk kepentingan pemerintahan Hindia Belanda.
Namun, pendidikan di TBS tidak hanya berorientasi administratif, tetapi juga membekali santri dengan ilmu agama serta semangat perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.
Dalam perkembangannya, TBS awalnya bernama Tasywiquth Thullab Balai Tengahan. Pada masa penjajahan Belanda, nama itu kemudian ditambah kata School agar tidak dicurigai dan dibubarkan kolonial, sehingga menjadi Tasywiquth Thullab School.
“Setelah Indonesia merdeka, barulah nama tersebut diubah menjadi Salafiyah, melalui proses yang panjang. Beberapa kiai mengusulkan agar huruf S tidak lagi bermakna School, tetapi diganti untuk menegaskan identitas pendidikan klasik. Maka dipilihlah istilah Salafiyah, sehingga menjadi Tasywiquth Thullab Salafiyah,” jelasnya.
Semangat (hirrah) para pelajar untuk mempelajari ilmu-ilmu salaf membuat TBS terus mempertahankan sistem pembelajaran berbasis kitab.
Hingga kini, kitab tetap menjadi materi utama, seperti Fiqh menggunakan Sulam Taufiq, Taqrib, dan kitab-kitab klasik lainnya.
Pembelajaran tetap terprogram dengan kurikulum pesantren, namun dilaksanakan dengan metode pembelajaran modern.
Para guru dituntut menguasai metode sesuai standar pemerintah dan profesionalisme pendidikan, sembari tetap menjaga pelajaran-pelajaran turas (kitab kuning).
Selain mengikuti regulasi dari Diknas maupun Kemenag, TBS juga mempertahankan kekhasan kurikulum pesantrennya.
Hingga saat ini, jumlah mata pelajaran di Madrasah TBS cukup banyak: MI memiliki sekitar 20 mata pelajaran, MTs sekitar 26 mata pelajaran, MA sekitar 28 mata pelajaran.
Kurikulum pemerintah dan kurikulum pesantren berjalan bersamaan.
Jumlah keseluruhan siswa Madrasah TBS kini mencapai hampir lima ribu santri yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
TBS dikenal sebagai lembaga yang memiliki toleransi tinggi terhadap kehidupan dan budaya masyarakat, serta dapat menerima dan diterima oleh semua kalangan.
Harapannya, ilmu yang diperoleh para santri dapat dimanfaatkan dan disebarluaskan sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat. (zen)
Editor : Ali Mustofa