KUDUS – Anggota Komisi X DPR RI yang juga Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, mendorong para pendidik untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman dan menumbuhkan semangat pembelajaran mendalam (deep learning) dalam dunia pendidikan.
Hal itu ia sampaikan saat membuka Workshop Pendidikan bertajuk “Transformasi Pendidikan Melalui Pembelajaran Mendalam” yang digelar di Majesty Grand Ballroom Aula Pertemuan Hotel Griptha, Senin (20/10) pukul 09.00 WIB.
Kegiatan yang digelar bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tersebut diikuti sekitar 150 guru dari berbagai sekolah di Kabupaten Demak.
Baca Juga: Melepas Cemas, Menyambut Harapan Penyintas Kanker Bersama Lestari Moerdijat
Dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Demak, Haris Wahyudi Ridwan; Widyaprada Ahli Utama, Jumeri.
Serta pemateri dari Direktorat SD, Yohan Rubiyantoro; Praktisi Pendidikan, Leny Noviani; dan Akademisi Pendidikan, Wahyudi.
Workshop ini menjadi ajang bagi para pendidik untuk memperkuat pemahaman tentang metode pembelajaran holistik yang berorientasi pada kebutuhan dan keingintahuan murid.
Dalam sambutannya, Lestari Moerdijat atau yang kerap disapa Rerie menyampaikan bahwa konsep transformasi pendidikan dan pembelajaran mendalam merupakan keniscayaan yang harus dihadapi dunia pendidikan Indonesia.
“Dulu pendidikan identik dengan menghafal. Sekarang kita dituntut untuk membangun kemampuan berpikir dan menjawab rasa ingin tahu murid. Esensi deep learning bukan sekadar menghafal, tetapi memahami dan menerapkan,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan holistik menuntut guru tidak hanya menjadi pengajar, melainkan juga pembelajar sepanjang hayat.
Ia menekankan pentingnya menciptakan sekolah yang belajar (learning school), di mana guru dan murid tumbuh bersama dalam proses pendidikan.
“Belajar adalah proses yang terus menerus. Kita tidak boleh berhenti menjadi pembelajar, karena hanya dengan itu masyarakat kita bisa maju,” tegasnya.
Rerie juga menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi pendidikan dasar dan menengah, terutama keterbatasan teknologi dan informasi.
Meski demikian, ia optimistis para guru di Demak memiliki semangat dan modal dasar untuk mulai menjalankan transformasi pendidikan melalui fasilitas yang tersedia.
“Kurikulum fleksibel tidak perlu dipertentangkan. Justru memberi ruang bagi guru untuk berinovasi,” katanya.
Baca Juga: Gus Rozin Harapkan Bupati Kudus untuk Segera Terbitkan Perbup Pesantren
Ia mencontohkan praktik pembelajaran di Sekolah Sukma Bangsa Aceh yang menerapkan pola belajar di luar kelas.
Siswa belajar di bawah pohon atau di lingkungan sekitar untuk belajar. Misalnya memahami langsung proses alam seperti pembuahan tanaman.
“Sepuluh tahun lalu pola ini dianggap aneh, tapi sekarang justru dibutuhkan agar anak tidak bosan dan lebih memahami makna belajar,” ungkapnya.
Rerie juga mengingatkan bahwa di era digital, guru harus mampu mengimbangi perkembangan teknologi tanpa melarang penggunaannya secara kaku.
“Hari ini jempol sangat berkuasa. Anak-anak mencari referensi lewat AI. Tugas guru bukan melarang, tapi mengarahkan. Ajarkan mereka untuk jujur, menelusuri sumber, dan berpikir kritis,” pesannya.
Ia menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar menghasilkan ijazah, melainkan membentuk manusia yang berpikir, beranalisis, dan adaptif terhadap perubahan.
“Transformasi pendidikan hanya bisa tercapai jika kita semua memahami maknanya. Dari tangan guru lahir generasi yang mampu menjadi pemimpin bangsa,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya