KUDUS — Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, berhasil menyelesaikan persoalan sampah melalui sistem pengelolaan berbasis partisipasi masyarakat.
Langkah ini dinilai sukses karena mampu menekan penumpukan sampah di tingkat desa, bahkan menjadi contoh bagi desa-desa lain.
Camat Kaliwungu, Satria Agus Himawan, mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Sidorekso.
Baca Juga: DPRD Kudus Bentuk Tim Khusus Hadapi Pemangkasan Dana
Menurutnya, apa yang dicapai desa tersebut patut ditiru desa lain di Kudus.
“Itu sangat bagus karena berhasil menyelesaikan permasalahan sampah di desanya. Harapannya semua desa di Kudus, khususnya di Kecamatan Kaliwungu, bisa meniru dan mencontoh program ini,” kata Satria.
Ia menegaskan, kunci keberhasilan pengelolaan sampah ada pada keterlibatan masyarakat.
Tanpa partisipasi warga, kata dia, sulit bagi desa menyelesaikan permasalahan sampah.
“Pesan saya, sampah itu bisa selesai apabila masyarakat ikut berpartisipasi. Minimal membiasakan diri memilah dan membuang sesuai jenisnya, organik dan nonorganik, dari rumah,” imbuhnya.
Kepala Desa Sidorekso, Mohammad Arifin, menjelaskan bahwa program pengelolaan sampah di wilayahnya sudah berjalan efektif sejak 2024, setelah sebelumnya dilakukan sosialisasi sejak 2021.
Baca Juga: Camat Kaliwungu Kudus Tindaklanjuti Edaran Hidupkan Poskamling
“Awalnya hanya membuat TPS, tapi sampah selalu menumpuk. Lalu saya pikirkan solusi lain dengan membangun TPS3R dan kebijakan wajib pemilahan sampah dari rumah,” jelas Arifin, Kamis (2/10).
Setiap rumah tangga di Sidorekso diwajibkan memilah sampah dengan menggunakan dua karung yang disediakan desa.
Jadwal pengambilan pun diatur.
Senin untuk organik, Selasa nonorganik, dan seterusnya, dan hari Minggu libur.
“Kalau sampah tidak dipilah, tidak kami ambil. Kalau dibuang ke TPS3R pun harus sesuai jadwal,” ujarnya.
Menurut Arifin, di TPS3R kini sampah tidak pernah menumpuk.
Pagi hari ada sampah, sore sudah bersih.
CCTV juga dipasang untuk memastikan kepatuhan warga.
Sampah organik diolah menjadi pupuk, sebagian diambil PT Djarum, sampah nonorganik dipilah dan dijual, sementara plastik masuk ke mesin pyrolisis untuk dijadikan bahan bakar.
Adapun residu yang tersisa hanya sekitar 10 persen, kemudian dibakar.
“Kuncinya adalah mindset. TPS3R jangan dianggap tempat pembuangan, tapi tempat pengelolaan. Kalau tidak terpilah, sampah kami kembalikan ke rumah. Sekarang sudah ada 500 rumah pelanggan tetap. Ke depan, kami siapkan langkah agar hasil pengelolaan ini memberi manfaat ekonomi bagi warga,” kata Arifin. (dik)
Editor : Ali Mustofa