GEBOG – Musim panen tembakau di Kabupaten Kudus telah dimulai.
Petani di beberapa desa mulai memetik daun tembakau yang ditanam sejak Mei lalu.
Tahun ini, Kudus melanjutkan uji coba budidaya tembakau jenis Srumpung yang difasilitasi pemerintah melalui demplot seluas 9 hektare di Desa Menawan dan Klumpit, Kecamatan Gebog.
Baca Juga: Mengenal Tari Baswera Ngara-Ara, Makna Refleksi Ekologis Lokal Lewat Gerakan
Salah satunya kelompok tani Mekar Melati Desa Menawan yang mendapat demplot seluas 2 hektare.
Sejak sepuluh hari lalu, kelompok ini telah memanen daun tembakau basah.
Ketua Kelompok Tani Mekar Melati, Susanto, mengaku tahun ini menjadi pengalaman pertama menjajal budidaya tembakau di lereng Muria.
“Kami dapat demplot dari pertanian, kemudian membentuk kelompok tani dan menanam tembakau,” terang Susanto di sela-sela memanen, Senin (15/9).
Ia menambahkan, lima petani terlibat dalam uji coba ini dan hasilnya cukup menjanjikan, meski masih ada kendala utama di pemasaran.
“Kesulitan di petani masih seputar pemasaran. Ini uji coba pertama Poktan kami, supaya Kudus juga bisa dikenal sebagai penghasil tembakau,” ungkapnya.
Menurutnya, perawatan tanaman tembakau membutuhkan perhatian ekstra.
Baca Juga: Petani di Desa Gamong Kudus Sepakat Hentikan Jebakan Listrik Sawah, Ternyata Ini Alasannya
Beberapa lahan bahkan terserang hama.
Selain itu, pembibitan yang dilakukan saat musim hujan juga berdampak pada kegagalan tanam sebagian bibit.
“Ada beberapa bibit yang gagal sehingga saat proses tanam kita kekurangan bibit. Semoga tahun depan bisa menyiasati ini,” tambahnya.
Kendala serupa juga dialami Subardi (50), petani Dukuh Krajan Desa Menawan yang turut menggarap lahan tembakau seluas 7.500 meter persegi.
Baca Juga: Ogoh-Ogoh Jadi Perdebatan di Festival Ampyang, Ini yang Disoalkan
Ia mengaku bersyukur bisa tetap merasakan hasil panen meski kesulitan mencari pengepul.
“Hari ini panen ketiga, sebab cara panen tembakau dipanen 4-6 daun dari daun terbawah sampai atas. Biasanya tiap panen kami jeda lima hari,” jelasnya.
Menurut Subardi, harga jual tembakau saat ini tergolong rendah.
Ia berharap hasil panen petani Kudus bisa dihargai sesuai jerih payahnya.
“Kalau dijual basah hanya laku Rp 2-3 ribu per kilogram. Makanya kami olah dulu jadi kering,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Subardi menjelaskan kualitas panen tembakau dibedakan berdasarkan posisi daun di batang.
“4 daun paling bawah namanya krosok, 3-4 daun diatasnya disebut filler, 4-6 daun diatasnya disebut premium, di atasnya lagi ada super premium, sedangkan pucuk paling atas kembali krosok karena kualitasnya jelek,” paparnya.
Proses panen dilakukan bertahap dengan memilih daun-daun yang matang dari bawah ke atas.
Dalam penggarapannya, Subardi mempekerjakan tiga tenaga bantu sejak tanam hingga panen.
Baca Juga: Khitan Massal Menara Kudus Meriahkan Peringatan Maulid Nabi
“Saat panen, setiap petani punya trik sendiri, ada yang dijual basah atau dikeringkan dulu. Sebagian tembakau kering saya simpan di rumah,” jelasnya.
Para petani berharap pemerintah benar-benar turun tangan membantu pemasaran hasil panen.
“Dari dinas pernah disampaikan begitu, ketika petani kesulitan menjual hasil panen, akan dibantu mencarikan pembeli. Tetapi juga harganya harus sepadan,” tandas Subardi. (dik)
Editor : Mahendra Aditya