DAWE – Panggung Ngepringan di Desa Piji Wetan, Kecamatan Dawe, Kudus, Minggu (14/9) malam, menjadi saksi pergelaran karya seni bertajuk gelar karya Madrasah Seni Islam Nusantara KBPW yang digelar Komunitas Budaya Piji Wetan (KBPW).
Acara tersebut menghadirkan tiga kelas seni, yakni tari, kaligrafi, dan teater, yang menampilkan karya setelah menempuh pembelajaran beberapa bulan terakhir.
Dari kelas tari, tampil karya berjudul Baswera Ngara-Ara yang memukau penonton.
Baca Juga: Petani di Desa Gamong Kudus Sepakat Hentikan Jebakan Listrik Sawah, Ternyata Ini Alasannya
Sementara itu, kelas kaligrafi memamerkan sejumlah karya dengan nuansa islami yang dipajang di sekitar area panggung, dan kelas teater menghadirkan pertunjukan pantomim yang mengisahkan kehidupan seorang peternak.
Koordinator kelas tari, Asri Noorrodiyah, menjelaskan bahwa Baswera Ngara-Ara mengangkat kisah nyata tentang perubahan hutan desa Ngara-ara di kawasan Kebun Agung.
“Hutan yang dulu penuh pohon besar, sumber mata air, dan kehidupan, kini perlahan berubah. Banyak belik mengering, dan keanekaragaman hayati mulai hilang,” ujarnya.
Lewat gerakan tari, penonton diajak menyaksikan transisi dari masa keemasan hutan yang penuh kehidupan, dengan burung, serangga, dan musang jelarang yang berlarian, menuju kehampaan ketika pohon ditebang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tanpa pengelolaan yang bijak, ekosistem bisa rapuh dan akhirnya musnah,” imbuh Asri.
Namun, kisah tarian ini tidak berhenti pada kehancuran.
Di babak berikutnya, Baswera Ngara-Ara menampilkan simbol kebangkitan.
Baca Juga: Khitan Massal Menara Kudus Meriahkan Peringatan Maulid Nabi
Gerakan tari berubah lebih cerah, menggambarkan masyarakat yang kembali menanam buah-buahan seperti rambutan, durian, alpukat, dan kopi.
Kehijauan perlahan pulih, membawa harapan baru bagi Ngara-ara.
“Tarian ini sekaligus pesan bahwa harapan selalu ada jika masyarakat mau kembali merawat alamnya,” katanya.
Selain sebagai refleksi ekologis, pementasan tari ini juga menyiratkan semangat generasi muda Piji Wetan untuk menjaga warisan alam leluhur.
Baca Juga: Ogoh-Ogoh Jadi Perdebatan di Festival Ampyang, Ini yang Disoalkan
Ngara-ara kini bahkan dilirik sebagai potensi agrowisata, yang tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Melalui perpaduan seni tari, kaligrafi, dan teater, gelar karya ini bukan sekadar unjuk kebolehan peserta kelas.
Lebih dari itu, ia menjadi ruang kontemplasi bagi masyarakat tentang pentingnya merawat alam, menyatukan nilai seni dengan pesan pelestarian lingkungan, serta membangun harapan akan masa depan yang lebih hijau di Desa Piji Wetan. (dik)
Editor : Mahendra Aditya