KUDUS – Upaya menghidupkan kembali transportasi umum di Kabupaten Kudus kembali mengemuka.
Salah satu usulan yang mendapat sorotan adalah inisiasi angkutan khusus pelajar sebagai solusi menurunnya jumlah armada dan penumpang angkutan umum konvensional.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kudus, Mahmudun, mengungkapkan bahwa saat ini jumlah angkutan umum yang beroperasi di Kudus menurun drastis.
Dari sebelumnya 650 unit yang tersebar di 20 trayek, kini hanya tersisa sekitar 150 unit dengan 13 hingga 14 trayek aktif.
“Dulu itu ada 20 trayek, sekarang tinggal separuh yang jalan. Banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari mudahnya kredit motor hingga menurunnya jumlah penumpang,” ujarnya.
Menurutnya, penurunan tersebut diperparah dengan menjamurnya angkutan ilegal berpelat hitam yang digunakan untuk mengangkut buruh, termasuk di pabrik rokok besar di Kudus.
Hal ini dinilai sangat memukul pendapatan sopir angkutan resmi.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Mahmudun menilai perlu adanya inovasi.
Salah satunya adalah program angkutan pelajar yang mengadopsi sistem serupa di Kota Magelang, di mana pelajar sekolah dasar hingga menengah mendapatkan fasilitas antar-jemput menggunakan kendaraan umum yang disubsidi pemerintah daerah.
“Saya waktu itu ikut rapat di Jawa Tengah, dari Magelang memunculkan ide yang sangat bagus. Anak-anak sekolah dijemput dan diantar sesuai jadwal yang ditentukan. Ini bisa diterapkan di Kudus,” jelasnya.
Baca Juga: Tak Sekadar Lomba, Ini Terapi Jiwa Penyandang Disabilitas di PPSDSN Pendowo Kudus
Mahmudun menilai, jika program ini dijalankan, tidak hanya akan membantu perekonomian sopir angkutan, tetapi juga berdampak positif bagi pembentukan karakter pelajar.
Mereka akan terbiasa disiplin waktu dan tidak bergantung pada kendaraan pribadi sejak dini.
Selain itu, ia menyebut program ini juga akan berdampak langsung pada pengurangan kemacetan dan menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas yang kerap melibatkan pelajar di bawah umur yang belum layak berkendara.
Meski demikian, Mahmudun mengakui bahwa realisasi program ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Mulai dari peningkatan kualitas layanan, perbaikan etika sopir, hingga bantuan subsidi bahan bakar dan operasional.
“Tentu kita juga harus berbenah. Supir tidak bisa ngetem terlalu lama, pelayanan harus lebih baik, agar masyarakat kembali percaya,” tegasnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kudus, khususnya Bupati Sam’ani Intakoris yang memiliki latar belakang di bidang perhubungan, dapat memberikan perhatian lebih pada sektor ini.
Menurutnya, angkutan pelajar bukan hanya solusi transportasi, melainkan juga bagian dari pendidikan karakter.
“Harapan kami, semoga Kudus bisa meniru daerah lain. Angkutan pelajar ini bukan hanya solusi untuk transportasi, tapi juga bentuk pendidikan karakter sejak dini,” katanya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya