KOTA – Pameran “Intelektual Syaikh Abdul Hamid Kudus dan Jejak Ulama Kudus dalam Khazanah Keilmuan Islam” resmi dibuka pada Minggu (13/7).
Pameran tersebut digelar di kompleks Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK).
Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian Pameran Turots Nusantara yang berlangsung hingga Rabu, (16/7), dengan tujuan mengangkat kembali warisan intelektual ulama-ulama Nusantara.
Baca Juga: Transportasi Massal Lintas Kabupaten Segera Hadir, Kudus Jadi Pusatnya!
Ketua Nahdlatut Turots, KH Utsman Hasan Al-Akhyari, menjelaskan bahwa Kudus menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian nasional ini.
Sebelumnya, pameran serupa telah digelar di beberapa kota dan akan dilanjutkan ke Makassar, mengangkat tokoh besar seperti Syekh Yusuf Makassar.
“Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa kita jangan sampai tercerabut dari akar para ulama terdahulu yang sangat kuat secara intelektual,” ujar Utsman.
Salah satu tokoh yang diangkat dalam pameran ini adalah Syekh Abdul Hamid Kudus, seorang ulama mutafannin yang dikenal ahli di berbagai bidang keilmuan Islam, khususnya tata bahasa Arab.
Karya beliau yang dilaunching dan ditampilkan yaitu Fathul Aliyyil Karim fi Maulidin Nabiyil Adzim, menjadi sorotan utama karena mengandung nilai sastra tinggi dalam bahasa Arab.
“Syekh Abdul Hamid adalah bukti bahwa ulama lokal memiliki kapasitas keilmuan luar biasa. Kita boleh merujuk ulama luar, tapi jangan sampai melupakan tokoh-tokoh hebat dari negeri sendiri seperti Syekh Mahfud Termas, Mbah Sholeh Darat, dan tentu saja Syekh Abdul Hamid Kudus,” tegas Utsman.
Pameran ini juga menjadi respons atas dorongan para masyayikh setelah peluncuran kitab di bulan Syawal lalu.
Utsman menyebut, setelah Kudus, pameran akan menyasar wilayah-wilayah lain seperti Sumatera, Makassar, Indonesia Timur, dan kota-kota besar lain.
Harapannya, generasi muda semakin dekat dengan manuskrip klasik dan tidak merasa minder dengan khazanah keilmuan lokal.
Sementara itu, Muhammad Fathan, Ketua YM3SK mengaku bersyukur Menara Kudus dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan.
“Pameran ini menjadi ajang berkumpulnya pecinta kitab kuning dari Kudus dan sekitarnya. Ini momen langka dan sangat berharga,” katanya.
Baca Juga: Murid Baru di SMP 1 Kudus Ikuti Gladi Bersih Sambut MPLS, Ada Musik dan Tari Tradisional
Ia juga menyoroti tren positif meningkatnya minat santri terhadap kitab-kitab kuning, terlihat dari banyaknya santri luar daerah yang mondok di sekitar Kauman Menara.
Menurut Fathan, pameran ini juga menjadi bentuk nyata dari cita-cita para pendahulu yayasan seperti KH Hamid, KH Asnawi, dan KH Nur Hadi.
“Kami berharap para santri dari madrasah seperti Qudsiyyah dan TBS bisa semakin akrab dengan literatur klasik Islam,” tambahnya.
Ketua PCNU Kudus, KH Asyrofi Masyitho, turut mengapresiasi penyelenggaraan pameran ini.
Ia berharap kegiatan ini menginspirasi generasi muda untuk tidak hanya membaca, tapi juga mulai menulis karya-karya Islam modern.
“Semoga mereka bisa melahirkan kitab-kitab baru yang relevan dan bermanfaat bagi umat,” harapnya.
Baca Juga: Patut Berbangga, Kudus Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Peluncuran Jelajah Turats Nusantara PBNU
Dalam pameran ini, pengunjung dapat melihat berbagai naskah klasik, termasuk beberapa koleksi langka yang baru pertama kali dipamerkan ke publik.
Tak hanya memperkenalkan karya para ulama terdahulu, agenda ini juga membuka jalan bagi kampus-kampus dan pesantren untuk turut terlibat dalam pelestarian manuskrip warisan Nusantara. (dik)
Editor : Mahendra Aditya