KUDUS – Tradisi Dandangan yang telah mengakar selama berabad-abad kembali diselenggarakan di Kudus dengan kirab budaya yang meriah.
Ribuan warga tumpah ruah ke jalan untuk menyaksikan prosesi yang menjadi penanda datangnya bulan suci Ramadan.
Kegiatan ini digelar pada Jumat (28/2) sore dan menjadi salah satu agenda tahunan yang paling dinantikan masyarakat setempat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus, Revlisianto Subekti, menegaskan bahwa Dandangan kini telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional, sehingga pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.
"Alhamdulillah, tradisi ini masih bisa terus berjalan dan akan kami lestarikan.
Selain aspek budaya dan religi, Dandangan juga membawa dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat, meskipun angka pastinya masih perlu dikaji lebih lanjut," ujar Revlisianto.
Ia menambahkan bahwa Pemkab Kudus berkomitmen untuk terus mengembangkan Dandangan agar tidak hanya menjadi perayaan lokal, tetapi bisa menarik minat wisatawan dari berbagai daerah.
Dengan demikian, event ini dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, terutama bagi sektor UMKM dan industri kreatif di Kudus.
Kirab Dandangan, Perpaduan Sejarah dan Budaya
Kirab Dandangan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari perwakilan sembilan kecamatan, kepala desa dan kelurahan, pelaku usaha, hingga komunitas budaya dan pariwisata.
Mereka berjalan bersama menuju Menara Kudus, tempat bersejarah yang menjadi pusat perayaan ini.
Arak-arakan kirab ini menggambarkan bagaimana masyarakat pada zaman dahulu berbondong-bondong mendatangi Menara Kudus untuk menunggu pengumuman awal Ramadan yang ditandai dengan tabuhan bedug oleh Sunan Kudus.
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Mutrikah, menjelaskan bahwa Dandangan bukan sekadar festival tahunan, tetapi juga memiliki makna edukatif bagi generasi muda.
"Dandangan bukan hanya perayaan, tetapi juga sarana edukasi sejarah Islam di Kudus.
Kami ingin anak-anak muda memahami bagaimana tradisi ini telah berlangsung sejak zaman Sunan Kudus dan menjadi bagian dari identitas budaya kita," jelas Mutrikah.
Kirab dimulai setelah pelaksanaan Salat Asar, dilanjutkan dengan ziarah ke Makam Sunan Kudus, lalu prosesi persiapan tabuh bedug yang dipimpin oleh Yayasan Menara Kudus.
Dalam tradisi ini, bedug tidak sekadar alat pemanggil ibadah, tetapi juga menjadi simbol pengumuman awal Ramadan yang telah dilakukan sejak zaman Wali Songo.
"Sebelum ada pengumuman resmi dari pemerintah seperti sekarang, Sunan Kudus menggunakan tabuhan bedug untuk memberi tahu masyarakat bahwa Ramadan telah tiba.
Tradisi ini tetap kami pertahankan agar nilai-nilai sejarahnya tidak hilang," tambahnya.
Antusiasme Warga Tinggi Meski Diguyur Hujan
Meskipun perayaan tahun ini sempat diwarnai hujan, antusiasme warga tidak surut. Ribuan orang tetap memadati kawasan Menara Kudus dan sepanjang rute kirab untuk menyaksikan momen sakral ini.
Para pedagang pun kebanjiran pelanggan karena banyaknya pengunjung yang datang untuk menikmati suasana khas Dandangan.
Pemerintah Kabupaten Kudus berharap agar perayaan Dandangan ke depan semakin berkembang dan bisa menjadi daya tarik wisata nasional.
Dengan promosi yang lebih luas, diharapkan festival ini dapat menarik wisatawan dari luar daerah serta memperkuat posisi Kudus sebagai destinasi wisata budaya dan religi.
Dandangan bukan sekadar tradisi, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Kudus.
Dengan terus melestarikannya, generasi mendatang dapat tetap merasakan kemeriahan dan makna spiritual dari tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini.(dik)
Editor : Mahendra Aditya