Sebab, politik memberi sumbangan partisipasi di kehidupan berbangsa dan bernegara.
KH Ma’ruf Amin datang ke Kabupaten Kudus dimulai dengan berziarah ke makam Habib Ja’far Al Kaff yang berada di Makam Umum Ploso, Kecamatan Jati, Kudus.
Kemudian menghadiri acara silaturahmi dengan pengasuh pesantren yang dilaksanakan di Aula Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Kudus.
Cucu dari Syekh Nawai Albantani ini mengatakan, seorang ulama jangan sampai tidak peduli atau abai dengan politik. Terlebih lagi, ulama harus memberikan warna dalam kehidupan sesuai tuntunan Allah SWT.
”Ulama harus peka dengan situasi sekitar. Jangan sampai terpecah belah dalam urusan politik,” ujarnya.
”Jangan sampai politik tanpa nilai-nilai keimanan. Supaya aturan-aturan mengarah pada sistem yang di dalamnya dipenuhi dengan prinsip-prinsip keimanan,” imbuhnya.
Kiai yang identik dengan peci hitam dan sorban putihnya ini menyebutkan, warna kehidupan dan keimanan sesuai tuntunan Allah SWT harus diberikan di berbagai kegiatan, seperti ekonomi, dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Selain itu, ulama juga menyertakan warna kebudayaan, cara berpikir, pendidikan, dan politik dalam mengambil peran.
Di hadapan para peserta yang hadir, beliau mengingatkan lagi, agar seluruh ulama dan tokoh agama dalam berdakwah jangan sampai berselisih.
Kiai yang menjadi wakilnya Presiden Jokowi ini menambahkan, ulama juga harus berinovatif dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Menurutnya, sebagai ulama yang tumbuh di Nahdlatul Ulama (NU), ulama harus memiliki cara berpikir NU, karakteristiknya meliputi tawasuth (moderat), tathawwur (dinamis), dan berjalan sesuai manhaj.
Usai menghadiri acara tersebut, KH Ma’ruf Amin menunaikan Salat Jumat di masjid Al Aqsha Menara Kudus.
Sore harinya dilanjutkan dengan menghadiri acara tahlil dan ziarah umum dalam rangka haul KH Raden Asnawi di kompleks makam Sunan Kudus.
Kegiatan ditutup dengan menghadiri pengajian umum haul KH Raden Asnawi di Pondok Bendan tadi malam sekitar pukul 20.00. (dik/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma