KUDUS – Prosesi upacara adat Dandangan kemarin tampak sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pj Bupati Kudus M. Hasan Chabibie kemarin ikut menabuh bedug di atas Menara Kudus.
Sebagai tanda hari ini dilaksanakan puasa Ramadan. Dirinya juga ikut tahlilan di kompleks makam Sunan Kudus.
Pj Bupati Hasan ditemani jajaran pemerintahannya bersama Forkopimda. Mereka berkumpul di Taman Menara sekitar pukul 15.00 kemarin.
Acara pelepasan peserta kirab oleh PJ Bupati Kudus M.Hasan CHabibie, yang diikuti Asisten 2 Djatmiko Muhadi dan jajaran kepala desa serta Yayasan Menara Masjid Makam Sunan Kudus (YM3SK) keliling sembari menabuh bedug kecil menuju ke kawasan Menara Kudus.
Di tempat terpisah, kawasan Menara Kudus sejak pukul 16.00 kemarin (11/3) masyarakat Kudus sudah memadati lokasi.
Mereka ingin menyaksikan langsung prosesi Upacara Adat Dandangan.
Mereka berkumpul di bawah kaki Menara Kudus. Ikut menyaksikan dan menunggu pengumuman awal puasa yang ditandai dengan tabuh bedug di atas Menara Kudus.
Sebelumnya, ada Nyadran ke Makam Sunan Kudus dengan membaca tahlil bersama dengan warga Desa Kauman dan sekitarnya.
PJ Bupati Hasan pun ikut membacakan tahlil dihadapan pintu makam Sunan Kudus.
Kali ini masyarakat setelah mengikuti tahlil. Langsung menempatkan diri.
Duduk di bawah kaki atau halaman Menara Kudus. Menyaksikan tabuh bedug dandang.
Selain itu, juga ada jajanan khas tempo dulu intip ketan, apem, pecel meniran dan lodeh puli serta soto kerbau yang menjadi kuliner Kudus.
Agenda tahunan ini menjadi nostalgia tersendiri bagi masyarakat yang hadir.
Usai ziarah rombongan, penabuh bedug yang rata-rata masih muda mulai menaiki tangga bangunan menara secara bergantian.
Usai menaiki tangga bagian pertama, para penabuh menginjak tangga bagian kedua. Tangga ini terbuat dari kayu.
Dalam menaiki tangga tersebut harus berhati-hati. Sebab ukuranya kurang dari lima meter. Sekaligus ruangan di dalam Menara Kudus terbilang sempit.
Di atas menara para penabuh mulai bersiap memukul bedug yang dilapisi kulit hewan tersebut. Bedug tersebut dipukul dari sisi utara dan selatan.
PJ Bupati Hasan turut menabuh bedug, bersama para pemuda, yang juga menabuh kentongan yang digantung di sisi bedug.
Tempo nada pukulan bedung berubah-ubah. Kadang lamban juga cepat. Durasinya pun panjang. Kurang lebih hampir 1,5 jam.
PJ Bupati Kudus Hasan, mengatakan saat hendak ziarah ke makam Sunan Kudus dan ikut naik ke menara, ada beberapa orang menanyakan ”beneran berani pak PJ?”.
Mitosnya kalau pejabat masuk ke Makam Sunan Kudus bisa lengser.
"Saya kan jadi Pj ditunjuk bukan mencalonkan diri. Ini tugas yang diamanahi kepada saya untuk memimpin Kudus. Dan, tradisi tabuh bedug ini peninggalan Sunan Kudus. Sehingga ini menarik bagi saya dan suatu pengalaman yang luar biasa dalam hidup saya," jelasnya.
Hasan menambahkan, tradisi ini harus dilestarikan dan terus diuri-uri. Peninggalan Sunan Kudus, harus tetap dijalankan sampai kapanpun.
Sementara itu, tokoh masyarakat atau sesepuh Syaifudin Lutfi, saat membuka tabuh bedug, disampaikannya upacara adat Dandangan ini sejak ia kecil sudah ada.
Biasanya dibarengi dengan tradisi Dandangan.
”Upacara adat Dandangan ini tradisi sebagai tanda datangnya bulan Puasa dengan waktu yang sudah pasti. Ya ini patut dilestarikan. Uri-uri budaya untuk generasi selanjutnya. Antusias masyarakat juga bagus, ingin menyaksikan langsung tabuh bedug” ungkapnya.
Tepat pukul 16.30 tabuh bedug dandangan dipukul sebagai pertanda, esok hari puasa. Manfaatkan puasa sebaik-baiknya dan minta ampunan kepada Allah SWT.
Sejak ditetapkannya warisan budaya tak benda (WBTB) tradisi tabuh bedug dandangan sebagai pertanda awal puasa, dibuat berbeda dari tahun sebelumnya.
Setelah ditetapkan WBTb, menjadi Upacara Adat Dandangan.
Konsep yang dipaparkan ke masyarakat, merupakan visualisasi yang menggambarkan kejadian tempo dulu pada saat santri-santri Sunan Kudus, menunggu pengumuman awal puasa Ramadan.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah, kirab kecil menggambarkan para santri bersama masyarakat berbondong-bondong ke Menara Kudus, untuk mendengarkan pengumuman awal puasa. (san/zen)
Editor : Ali Mustofa