KUDUS – Karyawan dan Direktur Jawa Pos Radar Kudus merayakan Hari Pers Nasional (HPN) ke-78 di Joglo Radar Kudus Building, Jumat (9/2).
Pada momen ini, lima wartawan dapat kado istimewa berupa mendapat surat keputusan (SK) tetap menjadi wartawan dari Radar Kudus.
Mereka adalah M. Nur Syahri Muharrom (wartawan Jepara), Andre Faidhil Falah (wartawan Pati), Eko Santoso (wartawan Blora), Hanif Kusgianto (Media Sosial-Kudus), dan Nining Purwanti (admin Biro Grobogan).
Dalam perayaan HPN, acara diisi dengan penyampaian kesan-pesan menjadi wartawan yang berdedikasi dan berintegrasi.
Salah satunya disampaikan wartawan Radar Kudus Biro Rembang Vachry Rinaldi Luthfipambudi.
Dia bercerita bagaimana dirinya bertahan menjadi seorang wartawan dengan tempaan fase training yang keras. Sejak masuk Radar Kudus pada Desember 2018 silam.
Ada beberapa fase yang dirasakan selama dia menjadi wartawan.
Mulai dari fase sulit mencari berita, fase untuk tetap bertahan, fase merasa nyaman, dan fase untuk sadar.
Suatu ketika keyakinannya bertambah, saat dia mengikuti pelatihan jurnalistik yang diisi oleh redaktur Jawa Pos.
”Saat itu, redaktur Jawa Pos menyampaikan pengalamannya yang relate dengan yang saya rasakan. Awal-awal menjadi wartawan itu sulit. Sulit mencari berita. Apalagi saat saya masih penempatan Kudus yang banyak wartawan senior-senior. Untuk dapat berita yang layak tayang itu susah,” jelasnya.
Dia kemudian mengambil ”jalan cerdas” dengan memperbanyak membuat berita feature.
Berita feature punya peluang besar tayang di koran. Memasuki tahun kedua, dia dipindah tugas ke Kabupaten Rembang.
Dia harus menyesuaikan diri. Lalu memasuki tahun ketiga, dia mulai merasa nyaman, kerena sudah tahu strategi mendapatkan berita bagus.
Sedangkan untuk fase sadar, memberikan gambaran seorang wartawan yang sudah berpengalaman. Namun, fase itulah yang berbahaya.
Karena wartawan akan merasa pintar, lebih tahu, dan sudah bisa berani membantah redaktur.
”Ego dalam diri sering muncul di fase ini. Jadi harus sadar dan mengerem ego itu,” ujarnya.
Menurutnya, dari waktu ke waktu, junalistik itu ada perubahan. Misalnya perubahan yang awalnya fokus ke media cetak dan sekarang perlu belajar menerima kedatangan online dan televisi.
Sebagai wartawan harus bisa menyesuaikan perubahan.
”Mau tidak mau harus belajar terus, karena jurnalistik merupakan sebagian dari ilmu pengetahuan yang terus berkembang,” ungkapnya.
Usai Vachri, Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Kudus Zainal Abidin memberi sambutan.
Isinya, di antaranya mengingatkan terkait gawe besar yang akan dihadapi tahun ini.
Yakni pemberitaan pemilu dan pilkada yang akan diselenggarakan pada November mendatang.
Karena dari situlah isi produk koran, online, maupun televisi akan diuji untuk bisa menyajikan berita berbobot dan berbeda dibandingkan media lain.
”Itu nanti akan dinilai pembaca,” cetusnya.
Dia mengingatkan, agar semua awak redaksi mempersiapkan strategi untuk menghadapi gawe besar itu.
”Saya berharap teman-teman bisa fight. Bisa bersama-sama menampilkan halaman koran yang bagus, page view di online dan TV tinggi, dan pemasaran juga baik. Terutama jaga integritas dan indepedensi. Karena dengan menjaga integritas, dapat menjaga nama baik redaksi dan perusahaan,” terangnya.
Pada momen peringatan HPN, juga diikuti para anggota Pena Muda.
Ini merupakan sekelompok pelajar binaan Djarum Foundation bekerja sama dengan Radar Kudus dalam wadah jurnalistik.
Sri Wahyuningsih, perwakilan Pena Muda menyampaikan, selama dibimbing Radar Kudus, dia dan teman-temannya dapat belajar berinteraksi dengan narasumber, belajar liputan di lapangan, dan latihan percaya diri.
”Kami mengucapkan terima kasih atas bimbingan selama ini. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi. Radar Kudus keren,” katanya.
Sambutan terakhir oleh Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi dengan menceritakan pengalamannya saat menjadi wartawan.
Dulu pernah liputan desa tertinggi di Gunung Bromo, Desa Ngadas. Perjalanan ditempuh dengan sepeda motor Binter Merzy.
Motor itu ditunggai dia dan rekannya bernama Agus Sunyoto.
Hingga beberapa kali terjatuh, karena berhadapan dengan jalan berbatu besar tanpa aspal.
Lepas dari medan berbatu, motor Tangguh itu akhirnya macet saat melewati medan berlumpur. Sebab, kepuntel lumpur yang sampai as roda.
Akhirnya motor keluaran pabrikan Kawasaki ini, ditinggal di hutan dengan kabel businya dilepas.
Mereka pun akhirnya berjalan kaki menerjang hutan dengan waswas jika tersesat. Sesampainya di Desa Ngadas disambut hangat warga.
Usai liputan itu, pulangnya mereka numpang mobil Jips Willys pengangkut sayuran dengan tumpukan tinggi sekali.
”Rasanya mau ngguling ke jurang Jips itu,” kenangnya.
Sesampainya di tempat menyembunyikan motornya, ternyata kuda besinya masih utuh di hutan itu. ”Saya bersyukur motor masih bisa jalan. Dan tidak kehabisan bensin,” katanya.
Dia juga menyinggung semangat perjuangan jurnalis Tirto Adhi Soerjo yang dikenal sebagai bapak pers nasional.
Menurutnya, wartawan itu dituntut cerdas dan kerja keras. Saat ini, semua pers di Indonesia diuji dengan kondisi demokrasi.
”Pers merupakan benteng terakhir perjuangan demokrasi. Kalau pers luntur, demokrasi selesai. Industri pers itu sulit, tetapi kalau tidak ada pers, demokrasi di Indonesia akan hancur,” ungkapnya.
”Jadi, perjuangan pers itu memang berat dari sononya. Sudah beart sejak zaman Tirto hingga saat ini. Tapi harus tetap fight,” imbuhnya.
Pada sesi-sesi terakhir perayaan HPN itu, Direktur Baehaqi memanggil lima karyawan yang ditetapkan sebagai karyawan tetap ditandai dengan SK.
Mereka, M. Nur Syahri Muharrom (wartawan Jepara), Andre Faidhil Falah (wartawan Pati), Eko Santoso (wartawan Blora), Hanif Kusgianto (admin Media Sosial-Kudus), dan Nining Purwanti (admin Biro Grobogan).
Mereka pun bersalam-salaman dan berterima kasih kepada Direktur Baehaqi.
Acara ditutup dengan potong tumpeng. Potongan tumpeng pertama dari Direktur Baehaqi diberikan kepada dua calon wartawan baru Fikri Thoharudin dan Pramatya Sukarno Putri.
Setelah itu, juga ada kejutan dari tim Pena Muda dengan memberi kue tart bertuliskan Hari Pers Nasional 2024 kepada Direktur Baehaqi.
Potongan kue pertama diserahkan kepada perwakilan Pena Muda Sri Wahyuningsih. (ark/lin)
Editor : Ali Mustofa