KUDUS – Pertapaan Eyang Buyut Sakri di antara lokasi di Desa Rahtawu, Gebog, yang ramai didatangi pengunjung saat 1 Suro. Sejak sore, pertapaan yang berada di RT 3/RW 1 itu, pun tampak sudah ramai.
Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini, menyaksikan keramaian Desa Rahtawu. Desa wisata itu, memang identik dengan 1 Suro. Sebab, memang banyak petilasan yang dijadikan pertapaan saat malam pergantian tahun Jawa itu.
Dari pengamatan wartawan, petugas pelidung masyarakat (linmas), pengelola badan usaha milik desa (BUMDes), karang taruna, hingga perwakilan pemerintah desa sudah berjaga di area portal setelah masuk Desa Rahtawu.
Saat wartawan sampai di depan Balai Desa Rahtawu, kondisinya ramai dengan beragam pedagang. Ada yang sudah buka siap berjualan. Ada juga yang masih menata barang dagangannya.
Abdul Janawi, pedagang dari Desa Gondosari, Gebog, misalnya. Dia sudah menggelar dagangan berupa mainan anak-anak sejak pukul 12.00. Dia mengaku berjualan hingga hari ini.
Wartawan melanjutkan perjalanan ke pertapaan Eyang Sakri. Lokasinya tak jauh dari balai desa. Sudah ramai pengunjung. Ada yang hanya duduk beristirahat. Ada pula yang menyiapkan makanan yang diletakkan di nampan.
Tentunya ada peziarah yang membawa kembang bungkusan daun pisang untuk sesajen. Termasuk dupa yang dibakar di tempat padupan yang berada di dalam pertapaan itu.
Agus Supriyadi, juru pelihara (jupel) di pertapaan Eyang Sakri mengatakan, di pertapaan itu, saat malam 1 Suro biasanya diadakan selametan dan menerima kunjungan peziarah untuk berdoa.
Sedangkan pada malam Jumat besok, ada ritual wilujengan saat tengah malam pukul 00.00. Berupa selametan tumpeng, jamasan, sesuci, mandi, dan keramasan.
”Peziarah datang dari berbagai daerah seperti Demak, Pati, Jepara, Rembang, Semarang, Tegal, hingga Jakarta," jelasnya.
Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini, berada di lokasi luar padupan, satu per satu peziarah bergantian masuk. Mereka berdoa yang di hadapannya ada sesajen berupa kemenyan, bunga, dan dupa. Mereka ada yang semedi. ”Istilahnya sowan atau sungkem ke Eyang Buyut Sakri," kata Agus.
Mulyo, 79, salah satu peziarah asal Demak mengatakan, dia menginap di pertapaan itu sehari semalam. Dia akan mengikuti acara selametan di pertapaan tersebut. Tentu saja, keberangkatannya menuju Rahtawu itu sudah ada hajatnya.
Sementara itu, di Dukuh Watu Putih, RT 8/RW 2, ada ritual menyembelih kambing jantan yang diadakan besok. ”Itu kalau di wilayah saya Punden Mbah Ratih sebagai bentuk syukur," kata Yuli Muhammad Rifan, staf Pemdes Rahtawu. (ark/lin)
Editor : Ali Mustofa