Hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Mutrikah menyampaikan rasa bangga dan kagum saat menyaksikan pementasan tari caping kalo. ”Dengan penampilan tari caping kalo tadi, masyarakat Kudus diingatkan kembali kalau Kudus memiliki warisan budaya caping kalo yang sangat luhur. Dinas Pariwisata akan terus mengajak masyarakat untuk melestarikan warisan budaya kabupaten Kudus,” ungkapnya.
Penampilan tari caping kalo, didukung penuh oleh Yayasan Karya Bakti Nojorono (YKBN). Kali ini, kegiatan YKBN menyasar pada pelestarian budaya Caping Kalo. Sebelumnya YKBN me-launching buku ”Caping Kalo” pada Oktober 2022 lalu.
YKBN koordinasi dengan pemerintah Desa Gulang, SMA 1 Mejobo, dan Balai Budaya Rejosari (BBR) sebagai pemilik hak cipta tari caping kalo. Tari caping kalo dan Lagu ”Caping Kalo” diciptakan oleh Kinanti Sekar Rahina dari BBR dan di-launching bulan September tahun lalu.
Menurut Astri dan Fanny yang kali pertama memainkan tari caping kalo, setiap gerakan yang dimainkan memiliki makna kesatuan gerakan pembuatan Caping Kalo. Mulai dari pemilahan bambu dan proses penganyaman hingga terbentuklah Caping Kalo.
Caping kalo merupakan caping berbentuk kalo yang terbuat dari anyaman bambu pilihan. Caping kalo merupakan karya asli warga Desa Gulang Kabupaten Kudus. Minimnya ketertarikan generasi muda untuk membuat caping kalo menjadi alasan kuat bagi YKBN untuk melestarikan. Saat ini, perajin caping kalo hanya tersisa dua orang yakni Mbah Kamto dan Mbah Rudipah.
Menurut Ketua Pengurus YKBN FX Sri Martono, yayasan meliliki visi yang salah satunya menyasar ke UMKM dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. ”Caping kalo sudah hampir punah, kalau kita tidak berupaya untuk melestarikannya, generasi penerus kita tidak tahu apa itu caping kalo. Sekarang ini, anak-anak muda kalau kita tanya apa itu caping kalo, mereka sudah tidak tahu. Kalau yang sepuh-sepuh masih pada ingat,” ungkapnya.
Menurut FX Sri Martono, kurangnya publikasi menjadi faktor utama keterputusan informasi tentang caping kalo. ”Karenanya, kami membuat buku tentang caping kalo. Buku tersebut sudah tersedia di seluruh toko buku Gramedia. Mudah-mudahan, dengan begini awarness generasi muda bisa tumbuh kembali. Sehingga mampu meningkatkan pendapatan pengrajinnya,” ungkapnya.
Menurut Kades Gulang Arif Subkan, masyarakat Desa Gulang saat ini banyak yang belum berminat menjadi perajin caping kalo. Sebab, tingkat kesulitannya tinggi. ”Kendala kami saat ini adalah masalah regenerasi. Sangat sulit mencari pengrajin yang mampu membuat caping kalo.
Pembuatan caping kalo terkenal memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan memakan waktu yang lama. Sekitar satu pekan. Perajin harus sabar dan teliti. Karena bambu yang dianyam terlebih dahulu dibuat seperti serat benang yang halus. Semoga dengan support dari Yayasan Karya Bakti Nojorono, caping kalo makin dikenal dan generasi muda lebih berminat untuk melestarikannya," imbuh Arif. (*/lia/lin) Editor : Ali Mustofa