Sebelumnya, Pengurus Hoek Hien Bio Kudus menerima 48 Kong Co (patung Dewa). Sementara yang ikut dalam kirab Bwee Gee ada sebanyak 47 Kong Co.
Sebelum dilaksanakan kirab, para peserta berdoa terlebih dahulu di Kelenteng Hoek Hien Bio, agar diberikan keselamatan dan kelancaran. Setelah itu, para peserta kirab berurutan membawa patung dewa keluar.
Kirab ini diikuti dari berbagai kota, mulai dari Semarang, Kudus, Jakarta, Semarang, dan lainnya. Kirab dibuka dengan liong dan barongsai.
Peserta memulai kirab dengan rute melintasi jalan Loekmono Hadi. Kemudian belok kiri menuju jalan Mangga dan langsung berjalan ke jalan KH Wahid Hasyim (perempatan Pekojan).
Peserta kirab kemudian menuju Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, kemudian masuk ke dalam Pendapa Kudus. Setelahnya keluar dan melanjutkan ke jalan Ahmad Yani sekaligus kembali ke kelenteng.
Penasehat Kelenteng Liong Kuo Tjun mengatakan ini dua tahun kegiatan itu sempat vakum. Lantaran adanya pandemi Covid-19.
Bwee Gee diadakan, sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewa Bumi. Di mana selama satu tahun telah diberikan rezeki, kesehatan, dan diberkati.
Di samping itu, kirab yang digelar sebelum Imlek itu sebagai tolak balak. Diharapkan agar kondisi alam bersahabat.
”Bencana alam tidak bisa dihindari namun kami harapkan tidak memberatkan kami,” katanya.
Sedangkan untuk peserta kirab Bwee Gee ada sebanyak 47 peserta. Yang dikirab meliputi Dewa Bumi, Dewi Welas Asih, dan lainnya.
Peserta kirab biasanya menawarkan kepada dewa bumi untuk mengikuti agenda tersebut. Jika sang dewa enggan, peserta kirab menawarkan dewa lainnya.
”Tahun lalu bisa dua kali lipat. Tahun ini di bawahnya tetapi tetap meriah,” katanya.
Salah satu penonton kirab Bwee Gee Farida asal Jakarta mengungkapkan, ia bersama enam rombongan sengaja datang ke Kudus menyaksikan acara tahunan ini. Pasalnya acara tahunan ini ditunggu dan sempat vakum.
”Dia berharap kepada dewa bumi agar korban banjir di nusantara bersabar menghadapi bencana,” harapnya.
Bupati Kudus HM Hartopo menyampaikan semoga tahun ini acara tersebut berjalan lancar. Sekaligus tidak ada hujan saat berlangsungnya kirab.
”Ini bentuk rasa syukur kepada Dewa Bumi, rasa syukur ini diberikan kesehatan dan kelancaran satu tahun lalu,” katanya. (gal/zen) Editor : Ali Mustofa