Sekitar 2018 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan research tentang cicak batu Muria. Dari hasil penelitian cicak ini, dijumpai pada habitat berupa bebatuan di sepanjang sungai, perkebunan kopi, serta mungkin juga dalam hutan pada ketinggian 600-650 mdpl.
Menurut peneliti Green Community Lutfian Nazar, ada beberapa informasi baru dari observasi yang ditemukan. Populasi cicak batu Muria tidak ditemukan di bawah 500 mdpl. Sedangkan di ketinggian 700 mdpl masih dijumpai. ”Kami juga mendapat data distribusi cicak batu Muria di Desa Kajar," katanya.
Penelitian ini, dilakukan Green Community sejak Agustus hingga November. Ada 12 desa di tiga kabupaten dalam kawasan Gunung Muria yang dijadikan tempat penelitian.
Di Kabupaten Kudus, penelitian dilakukan di Desa Colo tepatnya di Montel, Desa Kajar, Ternadi, dan tiga titik di Desa Rahtawu. Di Kabupaten Jepara berada di Desa Somosari, Sumanding, dan Tempur. Sedangkan di Kabupaten Pati di Desa Sitiluhur, Jepalo, Panggonan, dan Tlogowungu.
Hasilnya, cicak batu Muria itu hanya ditemukan di Desa Kajar. Tepatnya berada di sungai Ceweng, perbatasan Desa Colo dan Kajar. Mereka hidup di habitat bebatuan dan cenderung memilih tekstur yang kasar. ”Kondisi habitat sekitar sungai dengan bebatuan. Ada pasir sekaligus tebing. Di sekitarnya juga ada perkebunan kopi milik warga," katanya.
Observasi di Desa Kajar berlangsung menyusuri sungai sepanjang satu kilometer. Mulai dari ketinggian 500 sampai 700 mdpl. Di sana ditemukan 60 spesies cicak batu Muria.
Cicak yang ditemukan di Desa Kajar, ciri-cirinya panjang tubuh dewasa 55-60 sentimeter. Cnemaspis Muria memiliki kepala lonjong dan ekor agak berduri. ”Cicak batu ini tidak memiliki bisa. Hewan tersebut cenderung memakan hama pada pohon kopi,” jelasnya.
Namun, keberadaan spesies ini terancam. Petani kopi sering menyemprot herbisida dan insektisida. Serangga atau hama di kopi terkena pestisida, kemudian dimakan cicak, maka akan mengganggu kelangsungan hidupnya. ”Pestisida juga akan mencemari air sungai yang menjadi habitat cicak serta makhluk lain," katanya.
Lutfi menuturkan, diperlukan kesadaran masyarakat. Untuk itu, di samping melakukan penelitian, pihaknya juga menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat lokal.
Selain itu, sosialisasi ini juga dilaksanakan di sejumlah sekolah. Di antaranya, di SMPN 3 Satu Atap Gebog Kudus; MTs Mathali’ul Huda, Tempur, Jepara; dan SMA 1 Tayu, Pati.
Dia menambahkan, observasi ini masih belum final dan masih dasar. Pihaknya akan meneliti secara mendalam spesies asli Gunung Muria itu.
Hewan ini ditemukan di kawasan Asia Tenggara berada di wilayah Vietnam, Camboja, Laos, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Indonesia ditemukan delapan spesies dari Kalimantan dan Sumatra. ”Pada 2018 cicak batu kali pertama ditemukan di Pulau Jawa di sisi selatan Gunung Muria, perbatasan Desa Kajar dan Colo,” imbuhnya. (gal/lin) Editor : Ali Mustofa