Pada perayaan Maulid Nabi ini tidak meninggalkan tradisi khas Kudus yaitu menghadirkan golok-golok mentok. Naya atau keranjang yang di tempatkan di tengah joglo diisi dengan makanan ringan yang dibawa para karyawan Radar Kudus.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad ini juga dimeriahkan penampilan grup rebana Mahbubee dari UKM JQH Asy-Syauq IAIN Kudus. Direktur Jawa Pos Radar Kudus beserta karyawan bergantian membaca kitab Al-barzanji karangan Syekh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim Albarzanji.
Ekspresi kegembiraan terlihat saat Mahalul Qiyam. Ini ditunjukkan proses pemotongan tumpeng oleh Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi diserahkan kepada Redaktur Pelaksana M. Ulin Nuha.
Sekaligus dilanjutkan menikmati makanan ringan yang berada di dalam keranjang usai baca kitab Albarzanji.
"Menurut isi dari kitab itu (Albarzanji, Red) peringatan Maulid Nabi harus dengan rasa gembira hatinya. Karena menyambut kelahiran Nabi Muhammad, " Kata Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi.
Baehaqi juga menuturkan, kegembiraan tidak hanya dirasakan lewat tertawa saja. Akan tetapi juga diekspresikan lewat tangisan haru mengenang perjuangan Rasulullah untuk para umatnya.
"Menurut riwayat di kitab Albarzanji kegembiraan juga datang dari alam semesta. Contohnya burung berkicau hingga alam yang sedang kekeringan menjadi hijau saar Rasullah Muhammad lahir," Ungkapnya.
Sementara itu, mauidhoh hasanah Redpel Radar Kudus, M. Ulin Nuha menceritakan perjalanan dan pengalamannya saat beribadah umrah September lalu. Dirinya juga berkesempatan menuliskan kisah perjalananya yang tayang di Jawa Pos Radar Kudus.
Ulin terharu dan meneteskan air mata saat bercerita berziarah ke makam Rasulullah. Saat itu ia teringat sebuah hadis Qudsi. Yang pada inti bunyinya, jikalau, jikalau, jikalau Allah tidak menciptakan Nabi Muhammad maka tak akan tercipta pula alam semesta beserta isinya.
"Saya termasuk orang galak di kalangan redaksi, tapi saat umrah saya gembeng (Mengingat perjuangan Nabi Muhammad, Red), " Kenangnya.
Sebagai umat Nabi Muhammad Ulin mengajak harus banyak bersyukur. Pasalnya menjadi umat Nabi Muhammad dijamin dan beruntung. Umatnya akan mendapatkan syafaat dan dijamin masuk surga, dengan kunci menanamkan kalimat tauhid.
Selain itu, dirinya juga mengapresiasi pelestarian tradisi golok-golok mentok. Tradisi asal Kudus yang ada saat Maulid itu, merupakan simbol kesetaraan perempuan dengan laki-laki. Ketika dahulu zaman jahiliyah di Arab bayi perempuan menjadi sasaran untuk dibunuh.
Selesai acara semua karyawan menikmati golok-golok mentok dan tumpeng. Semua gembira. (gal/zen) Editor : Abdul Rokhim