Ketua KBPW Zaeni mengatakan karena pihaknya sudah berada dibawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudrustek), jadi untuk pembangunan museum folklor itu sendiri merupakan hasil pengajuan program dana hibah. Pihaknya mengusulkan untuk membangun Museum Folklor, karena dirasa di Indonesia belum ada yang membuat.
"Nah untuk membangun museum Folklor membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun, langkah pertama yang akan kami lakukan tentu diawali dengan fokus pembinaan internal, mengadakan workshop, kelas, maupun research," ujarnya.
Selain itu, kata dia, karena museum folklor merupakan museum yang menampilkan budaya dan warisan folklor, pihaknya juga perlu memanggil para pihak pepunden, karena kaitannya erat dengan menampilkan kehidupan lokal dalam masyarakat pedesaan. "Jadi ya tak benda pun juga tak wujud, namun berbentuk nilai," jelasnya.
Perihal lokasi, pihaknya baru memapping tiga titik lokasi yang berada di Desa Lau, Dawe, Kudus. Di antaranya di Desa Lau bagian selatan, di belik, maupun pun di punden. Tiga titik itu masih di dalami.
Rencananya, pembangunan museum tersebut akan fokus pada satu desa itu sendiri. Proses pembentukannya pun memang membutuhkan waktu yang cukup lama, karena pihaknya menata mulai dari internal terlebih dahulu. "Nanti ketika sudah berjalan, baru dapat dievakuasi kelebihan dan kekuranggannnya museum folklor tersebut," ungkapnya. (ark) Editor : Ali Mustofa