Staf Konservator Museum Patiayam Jamin mengatakan Balai Konservasi Borobudur salah satu UPT dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mempunyai tujuan melestarikan cagar budaya di seluruh wilayah Indonesia. Balai tersebut satu-satunya yang mempunyai laboratorium dan alat khusus menangani fosil purba di Jawa Tengah.
Menurutnya, tidak semua fosil masuk dalam tahap laboratorium seperti itu, apalagi menempuh waktu bertahun-tahun. Tahap tersebut hanya diperuntukkan untuk fosil manusia purba saja. “Dari 2017 hingga 2022 memang lama. Karena harus melalui uji tim ahli dan laboratorium dulu," katanya.
Jamin menjelaskan, posisi kaki manusia purba yang ditemukan pada 2017 itu posisinya sekarang masih di Sangiran.
Fosil yang mempunyai nama ilmiah Femur Sinistra (paha kiri) yang ditemukan pada 2017, temuan dari Warga Desa Terban yang bernama Sutopo di wilayah Desa Gondoharum, di tanah Perhutani yang berada di Kecamatan Jekulo.
"Setelah melalui tahap laboratorium dan posisi masih di Sangiran, maka kami pun belum mengetahui kapan fosil tersebut akan dikirim ke Kudus," terangnya. (ark/mal) Editor : Ali Mustofa