Prosesi penjamasan, kali pertama pusaka dikeluarakan dari tempat penyimpanan yang berada di bawah atas Tajug di kompleks Makam Sunan Kudus. Bentuknya kotak terbuat dari kayu. Berisi dua pusaka Sunan Kudus yakni keris Kiai Cinthaka dan tombak trisula.
Dua pusaka yang sudah dikeluarkan itu, kemudian dicelupkan ke dalam sebuah cairan. Air tersebut dinamai banyu londho. Pencelupannya dilakukan tiga kali. Air itu, mempunyai fungsi menjaga warna hitam dan membuat kilapnya keris.
Usai dijamas, keris tersebut ditiriskan di atas tumpukan sekam ketan hitam. Kedua pusaka tersebut, kemudian diberi wewangian sebelum dikembalikan ke tempatnya. Pengembalian keris ini diiringi dengan salawat.
Humas Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Denny Nur Hakim mengatakan, tradisi jamas pusaka Sunan Kudus ini, penjamasan ini bertujuan untuk menjaga warisan benda pusaka Sunan Kudus.
”Kegiatan ini juga sebagai bentuk nguri-nguri budaya. Kedua pusaka tersebut, punya nilai budaya yang sangat tinggi,” katanya.
Acara jamasan tersebut, ditutup dengan pembacaan doa dan tahlil bersama dengan tamu undangan. (gal/lin) Editor : Ali Mustofa