Sejumlah produk dihasilkan oleh UMKM di Desa Dukuhwaringin. Seperti sirup dan sari buah parijoto, teh daun kopi, daun binahong atau piahong, jahe, daun salam, daun alpukat dan lainnya. Rata-rata tanamannya hasil budidaya Marlan (kecuali parijoto) diambil dari petani Desa Colo, Kecamatan Dawe.
”Ya, Desa Dukuh Waringin paket lengkap ada wisata air terjun Kedung Gender dan olahan produk hasil alam. Kalau ada wisatawan yang ziarah ke Makan Sunan Muria dari biro wisata diarahkan ke kedai saya untuk melihat langsung produksi sekaligus produk jadinya,” jelasnya.
Baru-baru ini Marlan mengikuti pameran Kudus Festival di Jakarta. Seluruh produk yang ia bawa dari Kudus ludes terjual. Di antaranya sirup, sari buah parijoto, dan sirup binahong. Ia terheran-heran, ternyata produk yang ia paparkan sudah familiar di masyarakat kota besar seperti Jakarta.
Ia mengaku, selama ini pemasaran produknya sekitar Jawa Timur dan luar Jawa. Kemungkinan masyarakat Jakarta dan sekitarnya tahu produk itu, lantaran beberapa produknya dibawa peziarah sebagai oleh-oleh. Mereka menjadi tahu produk tanamana dari lereng Gunung Muria.
Desa Dukuh Waringin juga punya wisata alam. Yakni Air Terjun Kedung Gender. Kawasannya masih asri dan udaranya sejuk, membuat suasana pengunjung di lokasi wisata lebih syahdu.
Hampir setiap weekend warga lokal desa itu maupun luar daerah itu berkunjung ke air terjun Kedung Gender. Mereka bisa duduk-duduk di bebatuan besar sambil menikmati gemericik air dengan udara yang segar. Cocok untuk wisata keluarga.
Lokasi menuju Kedung Gender ditempuh dari balai desa itu sekitar 15 menit. Sebelum sampai ke lokasi air terjun juga terdapat gentong suruh yang konon katanya bisa bikin awet muda.
Untuk tiket masuk hanya dikenai biaya retribusi Rp 2.000 dan parkir roda dua Rp 2.000 untuk Senin hingga Jumat. Sedangkan untuk di akhir pekan biayanya Rp 5.000. Buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00.
Plt Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah mengatakan, Desa Dukuhwaringin sekarang ini menjadi sasaran objek wisata, semenjak air terjun Kedung Gender dikenal. Masih alami dan aliran air terjunnya juga deras.
”Pokdarwis desa setempat yang mengelola. Ini menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kecamatan Dawe. Selain air terjun Montel di Desa Colo,” terangnya.
Ia menambahkan spot-spot foto yang dihasilkan juga tidak kalah dengan air terjun yang lain. Berswafoto di kolam, di atas bebatuan, di sungai bahkan di aliran air bawah tebing. Namun, pengunjung tetap berhati-hati, sebab kalau musim hujan kondisi bebatuan licin.
”Jadi, kalau berwisata di Desa Dukuwaringin, tidak hanya air terjun Kedung Gender, tapi juga ada kampung lebah dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang menyuguhkan produk unggulan yang unik,” jelasnya.
Mutrikah menjelaskan, seperti sirup parijoto, teh daun kopi, menikmati kopi muria di kedai sekitar objek wisata. Menurutnya, Desa Dukuhwaringin, destinasi wisata yang patut dikunjungi dan dieksplor lebih detail lagi, karena masih banyak spot-spot wisata di wilayah tersebut. (san/zen/lid/adv)
Editor : Kholid Hazmi