Plh Kepala DKK dr Andini Aridewi melalui Sub Koodinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Nuryanto menjelaskan, sosialisasinya dengan cara membuat pamflet yang isinya ”Jangan Lengah, Waspada DBD”.
”Ya di dalamnya juga dijelaskan siklus pelana kuda fase kritisDBD. Inilah yang perlu diketahui masyarakat. Biasanya kalau tiga hari demam tinggi sampai 39 derajat celsius, tiba-tiba hari ke empat sampai lima demam turun drastic. Jangan sampai terkecoh, justru itu memasuki fase kritis. Memang seolah terjadi kesembuhan,” jelasnya.
Kalau sudah demam tidak turun-turun langsung saja cek laboratorium atau rapid DBD. ”Sekarang ini di puskesmas sudah ada rapid DBD, sehingga hasilnya valid dan langsung ada penanganan lebih cepat,” ujarnya. ”Untuk kasus sekarang ini, dari awal Januari 2022 ada 25 kasus,” imbuhnya.
Dia menuturkan, curah hujan masih ada sampai Februari mendatang. ”Tetap waspada dan tetap gencarkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” ungkapnya.
Pihaknya mengimbau kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di desa-desa rajin melakukan penyuluhan. Sekarang juga sudah berjalan puskesmas di wilayah kerja masing-masing keliling membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Terpisah, Direktur RS Mardi Rahayu Kudus dr Pujianto menjelaskan, DBD sebenarnya tidak ada obatnya. Pasien hanya dirawat secara intensif. Tiga hal penting yang perlu ditekankan, tanda-tanda kekurangan cairan, muntah-muntah sampai lemas, dan tanda-tanda pendarahan seperti mimisan serta berak darah dengan berwarna hitam karena ada pendarahan saluran pencernaan di bagian atas. ”Ini perlu ada penanganan cepat dan rawat inap,” terangnya.
Dia menambahkan, melihat kegawatdaruratan itu, terjadi ketika mulai hari ketiga atau keempat dari demam. ”Kasus kegawatdaruratan tidak perlu rujukan. Bisa langsung dibawa ke RS dan masuk IGD,” imbuhnya. (san/lin) Editor : Abdul Rokhim