Bupati Kudus Hartopo menyebut memang tidak mudah untuk membuat setiap rumah bersedia menyalur air dari PDAM. Sebab biaya penyaluran PDAM jauh lebih mahal, sehingga membuat masyarakat enggan memasangnya.
Sementara upaya PDAM terus menambah pelanggan demi menaikkan pendapatan daerah mendapat tantangan dengan keberadaan Pamsimas.
"Untuk itu kami akan membuat peta pelanggan untuk dikoordinasikan bersama agar tidak saling rebutan pelanggan. Harapannya keduanya sama-sama produktif. Terlebih tujuannya sama, yakni memenuhi kebutuhan masyarakat soal air bersih," jelasnya.
Direktur Teknik PDAM Kudus Yan Laksmana menyampaikan akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Karena dalam jangka dekat ada rencana penambahan Pamsimas yang bakal dibangun di enam titik.
“Tiga titik di antaranya yang akan dibangun masuk ke wilayah PDAM. Jadi ini harus kami koordinasikan agar bisa bersinergi satu sama lain,” tambahnya.
Bila tidak, hal ini dapat mempengaruhi upaya menambahkan pelanggan baru PDAM yang ditargetkan sebesar 2.900 SR pada tahun ini.
Yan Laksmana menyadari jika harga Pamsimas yang lebih murah menjadi alasan mayarakat lebih memilih Pamsimas dibandingkan PDAM. Hal ini dinilai menjadi tantangan bagi pihaknya untuk mencapai target.
"Namun perlu diketahui bahwa kualitas air PDAM lebih bersih. Kami optimistis target pemasangan baru 2.900 SR pada 2022 dapat tercapai," tambahnya.
Terlebih menurutnya sekarang seiring bertambahnya jumlah penduduk yang menimbulkan kepadatan, membuat banyak rumah warga semakin berhimpitan, sehingga septic tank juga berdekatan. Hal ini membuat kualitas air tanahnya juga tidak sebaik PDAM yang memiliki sumber air baku. (mal) Editor : Ali Mustofa