Peci itu berwarna cokelat. Bahannya terbuat dari karung goni. Terdapat tulisan semboyan ”Jolo Sutro” yang berada di sisi kanan peci. Semboyan tersebut merupakan pemersatu sekaligus identitas khas masyarakat Desa Jurang. Selain berpeci itu, tamu undangan mengenakan baju putih dan bawahan sarung.
Dalama cara ini, diisi khotmil Quraan, tahlil, doa bersama, dan pemotongan tumpeng. Syukuran tersebut dihadiri Kepala Desa (Kades) Jurang Mohammad Noor, ketua BPD, ketua RT dan RW, dan Babin Kamtibnas. ”Mengingat masih ada wabah Covid-19 Kudus, tamu undangan yang hadir dibatasi hanya 50 persen dari kapasitas aula serta menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata kades.
Acara diawali dengan khotmil Quran. Setelah itu, pembacaan tahlil dan doa bersama. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari kadesa Jurang.
Muhammad Noor mengatakan, dalam menyambut hari yang sakral ini, harus dengan penuh hikmat dan rasa syukur serta diiringi doa. Berdasarkan tema ”Kudus Bangkit”, harapannya semoga menjadi awal kebangkitan rakyat kudus setelah beberapa tahun terkena dampak pandemi.
”Mari kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunianya. Semoga ini awal titik balik kebangkitan rakyat Kudus, sehingga ke depan bisa lancar melakukan kegiatan setelah beberapa tahun terkendala. Semangat untuk terus bangkit, bangkit, dan bangkit rakyat Kudus,” ucapnya.Usai sambutan dilanjutkan acara tumpengan. Noor menuturkan, filosofi tumpengan dari kalimat ”yen metu kudu mempeng” dalam bahasa Indonesia berarti ”ketika keluar harus sungguh-sungguh”.
Untuk itu Noor berpesan kepada masyarakat Kudus, baik dari Desa Jurang maupun sekitarnya. Diawali dengan rasa syukur, harus diimbangi dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam menghadapi permasalahan. Tidak abai terhadap prokes di mana pun berada. Harapannya, Covid-19 segera hilang, sehingga perekonomian dan pendidikan dapat berjalan normal seperti sedia kala.
Pada akhir acara, nasi tumpeng bewarna putih dan bertumpuk empat tingkat dipotong Ketua BPD Desa Jurang Haris Hidayah untuk diberikan kepada kades Jurang. Pemotongan tumpeng ini, sebagai wujud rasa syukur serta doa untuk kebangkitan Kota Kretek. (ayu/lin) Editor : Saiful Anwar