RADAR KUDUS - Fenomena ini sering dijadikan bahan tertawaan di media sosial.
Lelaki yang terluka dengan darah atau mengalami kecelakaan kecil masih bisa santai dan berjalan seperti biasa, tapi kalau suhu tubuhnya naik sedikit saja, tiba-tiba dunia terasa seolah-olah akan kiamat.
Istilah ini secara ilmiah disebut sebagai "man flu" — dan justru bukan hanya mitos atau dramatisasi semata.
Apa itu man flu dan mengapa hal ini sedang dibicarakan secara ilmiah?
Istilah "man flu" bahkan sudah resmi terdaftar di dalam Kamus Oxford dan Cambridge, yang menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada reaksi berlebihan yang dialami pria terhadap gejala flu dan demam yang mereka rasakan.
Penelitian yang sering disebut soal ini adalah studi dari British Medical Journal (BMJ) tahun 2017 dengan judul "The Science Behind Man Flu" yang ditulis oleh dokter. Kyle Sue adalah asisten profesor klinis di Memorial University of Newfoundland, Kanada.
Gejala itu bisa lebih parah pada pria karena pengaruh hormon.
Penjelasan utama terletak pada perbedaan hormon.
Penelitian dari Harvard Health Edu menemukan bahwa hormon estradiol pada wanita justru membuat sistem imunnya merespons lebih lemah ketika sel di hidung terinfeksi virus flu, sehingga gejala yang muncul pada wanita cenderung lebih ringan dibandingkan pria.
Hormon testosteron pada pria justru bisa melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan virus, sehingga gejala seperti demam dan flu terasa lebih parah dan bertahan lebih lama.
Bukan hanya perasaan, pria memang membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Fakta ini bukan sekadar klaim tanpa dasar. Penelitian yang mengamati kondisi ini selama enam tahun menunjukkan bahwa pria membutuhkan rata-rata tiga hari untuk sembuh dari flu, yang dua kali lebih lama dibandingkan wanita yang hanya membutuhkan sekitar satu hari setengah.
Tingkat pasien rawat inap karena flu pada pria lebih besar dibandingkan wanita.
Pola ini bahkan terlihat konsisten dalam skala pandemi.
Ada bukti jelas bahwa pria lebih rentan terhadap gejala berat dibanding wanita saat awal wabah virus corona, di mana laki-laki lebih sering dirawat di rumah sakit dan lebih tinggi angkanya meninggal.Pola ini mirip dengan yang terjadi pada wabah flu 1918.
Bukan hanya karena faktor biologi, tetapi juga ada pengaruh dari cara berperilaku.
Menariknya, penelitian juga menemukan aspek lain dari cerita ini.
Peneliti utama dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases AS, Matthew Memoli, menjelaskan bahwa secara umum pria cenderung kurang memperhatikan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan atau menggunakan masker, serta lebih sering melakukan kebiasaan buruk seperti merokok dan minum alkohol.
Selain itu, mereka juga cenderung enggan mencari bantuan medis, kombinasi yang bisa membuat kondisi semakin parah ketika sakit.
Ironisnya, beberapa penelitian tentang infeksi pernapasan ringan justru menunjukkan hasil yang berlawanan.
Dalam sebuah eksperimen, orang-orang muda yang sehat sengaja tertular virus flu, hasilnya menunjukkan bahwa wanita melaporkan lebih banyak gejala dan merasa lebih sakit dibandingkan pria.
Hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh wanita lebih kuat, sehingga cenderung memicu gejala yang lebih terasa meskipun penyakitnya hanya ringan. Ini menunjukkan bahwa gejala man flu masih rumit dan tidak sama di semua situasi.
Maka, mengapa reaksinya berbeda saat terjadi kecelakaan atau cedera fisik?
Fenomena "cowok santai kalau kecelakaan tapi lebay kalau demam" ini lebih dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya daripada faktor biologis sendiri, dan belum ada penelitian khusus yang membandingkan keduanya secara langsung.
Salah satu penjelasan yang sering dibahas adalah faktor konstruksi sosial terkait maskulinitas.
Konstruksi sosial sering menyebarkan gambaran bahwa pria harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah ketika sedang sakit ringan, sehingga pria biasanya menahan diri dan tidak langsung istirahat, berbeda dengan wanita yang biasanya berhenti beraktivitas segera setelah menunjukkan tanda-tanda flu ringan.
Luka fisik seperti lebam atau benturan bisa dilihat, terjadi cepat, dan bisa ditunjukkan sebagai bukti bahwa seseorang kuat.
Namun demam adalah kondisi yang membuat seseorang merasa lelah dan tidak bisa tampil gagah di depan orang lain.
Kombinasi dari respons imun yang secara biologis lebih kuat pada pria, ditambah dengan norma sosial mengenai maskulinitas, membuat fenomena ini terasa sangat nyata.
Meski sebagian besar penjelasannya masih bersifat campuran antara sains dan budaya, bukan hanya disebabkan oleh satu faktor saja. (wa)
Editor : Ali Mustofa