RADAR KUDUS - Duduk terlalu lama disebut memiliki dampak kesehatan yang tidak kalah berbahaya dibandingkan kurang berolahraga.
Hal ini diungkapkan oleh dokter dan edukator kesehatan, dr. Tirta, dalam pembahasan seputar mitos dan fakta kesehatan yang banyak beredar di masyarakat.
Menurut dr. Tirta, tubuh manusia pada dasarnya dirancang untuk bergerak. Duduk dalam waktu lama dapat menimbulkan tekanan berlebih pada panggul dan tulang belakang, khususnya pada area lumbal dan leher.
Kondisi ini banyak ditemukan pada pekerja kantoran yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop, sehingga meningkatkan risiko nyeri punggung bawah dan gangguan tulang belakang.
Namun, kurang olahraga juga bukan pilihan yang lebih baik. Tubuh yang jarang digerakkan akan mengalami penurunan fungsi otot dan sendi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat munculnya penyakit degeneratif seperti osteoartritis.
Meski demikian, olahraga yang dilakukan secara berlebihan tanpa diimbangi nutrisi dan pemulihan yang cukup juga berisiko menimbulkan cedera.
Dr. Tirta menekankan pentingnya keseimbangan.
Aktivitas duduk sebaiknya diselingi dengan berdiri dan peregangan setiap 30 menit, sementara olahraga dianjurkan minimal 150 menit per minggu sesuai rekomendasi kesehatan, kecuali bagi atlet dengan program khusus.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Tirta juga menjelaskan sejumlah mitos kesehatan lain.
Salah satunya adalah rasa mengantuk setelah olahraga. Kondisi ini bukan tanda olahraga yang baik, melainkan sinyal bahwa tubuh mengalami kelelahan berat akibat intensitas latihan yang terlalu tinggi, kurangnya asupan energi, atau dehidrasi. Olahraga yang tepat justru membuat tubuh terasa lebih segar.
Ia juga mengingatkan bahaya konsumsi antibiotik tanpa resep dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dosis atau tidak dihabiskan dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit di kemudian hari.
Mitos lain yang diluruskan adalah anggapan bahwa jarang berkeringat menandakan tubuh terhidrasi dengan baik.
Faktanya, berkeringat dipengaruhi suhu dan lingkungan. Seseorang bisa mengalami dehidrasi ringan meski tidak berkeringat, terutama saat berada di ruangan ber-AC.
Terkait masalah pencernaan, dr. Tirta menjelaskan bahwa kebiasaan minum air sambil makan sebenarnya boleh dilakukan, asalkan makanan dikunyah dengan baik.
Makanan yang ditelan dalam kondisi belum halus dapat membebani sistem pencernaan dan meningkatkan risiko gangguan lambung.
Ia juga menjelaskan mengapa gejala gangguan asam lambung atau GERD sering disalahartikan sebagai serangan jantung.
Sensasi nyeri dada dan rasa panas yang muncul memang mirip, namun penyebab dan penanganannya berbeda.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak panik dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk memastikan diagnosis.
Secara keseluruhan, dr. Tirta mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada mitos kesehatan yang tidak berbasis medis.
Gaya hidup seimbang, aktivitas fisik teratur, manajemen stres, serta kecukupan cairan menjadi kunci menjaga kesehatan jangka panjang. (Ghina)
Editor : Ali Mustofa