RADAR KUDUS - Seorang ahli jantung olahraga, dr. Dwita Rian Desandri, menjadi perhatian publik setelah memberikan penjelasan di platform X bahwa GERD tidak berhubungan dengan terjadinya henti jantung mendadak, serta dipisahkan oleh otot diafragma.
Pernyataan ini menjadi viral seiring dengan kabar meninggalnya influencer Lula Lahfah, tetapi malah menuai kritik dari pengguna internet dengan sebutan "bodoh" oleh akun @nrsbniaa.
Dr. Tirta Mandira Hudhi merasa marah dan mengunggah video emosional di X, mengecam ejekan yang tidak berdasar terhadap rekan sejawatnya, yang juga merupakan seorang senior serta dosen di bidang kardiologi.
Ia menyatakan, "Saya sangat terpaksa membuat video ini dengan agak ngegas gara-gara apa? Gara-gara rekan sejawat saya...dihina dengan kata-kata yang tidak layak."
Dr. Tirta juga menulis di Twitter untuk membela dr. Dwita, yang menegaskan bahwa ia adalah dokter jantung spesialis kardiologi olahraga dan menanggapi penghinaan tersebut dengan sindiran.
Dari sisi medis, GERD, yang merupakan asam lambung yang naik ke kerongkongan, tidak secara langsung berhubungan dengan serangan jantung mendadak, yang biasanya disebabkan oleh gangguan ritme jantung tanpa gejala sebelumnya.
Rasa berdebar saat mengalami GERD biasanya disebabkan oleh nyeri atau ketidaknyamanan, bukan merupakan indikasi masalah jantung.
Meskipun ada gejala seperti nyeri dada yang mirip, kematian mendadak lebih sering berkaitan dengan jantung atau otak, dan bukan disebabkan oleh GERD.
Peristiwa ini menyoroti risiko pengguna internet yang merasa menjadi pakar hanya berdasarkan artikel di dunia maya, yang bisa menimbulkan ketakutan yang tidak beralasan.
Dr. Tirta mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap ini karena dapat menyesatkan masyarakat. Sementara dr. Dwita dikenal sebagai satu-satunya dokter kardiologi olahraga yang memiliki sertifikasi di Indonesia. (Anita F)
Editor : Mahendra Aditya