Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ancaman Stroke Mengintai Usia Muda, RS Kemenkes Surabaya Terapkan 'Code Stroke' dan Teknologi Neuro Restorasi

Alfian Dani • Sabtu, 20 Desember 2025 | 14:13 WIB
Foto ilustrasi/visualpoint/freepik/Elderly woman with severe headache.
Foto ilustrasi/visualpoint/freepik/Elderly woman with severe headache.

RADAR KUDUS – Anggapan bahwa hipertensi dan stroke hanya menyerang kaum lanjut usia kini terpatahkan. Fenomena serangan stroke pada usia produktif (30-an tahun) semakin marak terjadi akibat gaya hidup yang abai terhadap tekanan darah.

Mengantisipasi lonjakan kasus dan risiko fatalitas, RS Kemenkes Surabaya kini memperketat sistem penanganan melalui metode Code Stroke dan teknologi pemulihan saraf canggih.

Kasus fatal akibat pengabaian hipertensi menjadi sorotan medis global. Sebagai contoh kasus ekstrem yang disorot ahli medis, seorang pria berusia 33 tahun di Vietnam harus mengalami kerusakan otak permanen dan kelumpuhan karena mengabaikan diagnosis hipertensi.

Kebiasaan lembur, konsumsi kopi berlebih, dan stres dianggap hal lumrah, hingga akhirnya pembuluh darah di otak pecah.

Dokter spesialis saraf RS Kemenkes Surabaya, dr. Chandrawati Widya, Sp.N, menjelaskan bahwa hipertensi yang tidak terkontrol secara perlahan merusak lapisan dalam pembuluh darah.

Foto Ilustrasi Types Of Ttroke (Shutterstock)
Foto Ilustrasi Types Of Ttroke (Shutterstock)

"Masyarakat harus waspada. Tekanan darah tinggi bisa memicu terbentuknya plak (stroke iskemik) atau membuat pembuluh darah rapuh dan pecah (stroke perdarahan).

Gejala awalnya sering diabaikan, padahal pusing hebat, kesemutan mendadak, hingga nyeri kepala adalah sinyal bahaya," ujar dr. Chandrawati dalam temu media di Surabaya, Jumat (19/12/2025).

Kejar "Golden Period" dengan Minimal Invasif

Menghadapi tren kenaikan pengidap stroke di Jawa Timur, RS Kemenkes Surabaya memangkas birokrasi penanganan lewat sistem Code Stroke.

Sistem ini mengintegrasikan dokter saraf, radiologi, dan laboratorium dalam satu komando cepat untuk mengejar golden period (periode emas)—maksimal dua jam setelah gejala muncul—agar kerusakan otak tidak permanen.

Pakar bedah saraf, dr. M. Wildan Hakim, Sp.BS, menambahkan bahwa intervensi medis kini tidak selalu memerlukan bedah terbuka.

Pihaknya mengandalkan metode minimal invasif menggunakan teknologi endoskopik dan mikroskopik.

"Teknologi ini memungkinkan kami menjangkau sumbatan atau perdarahan di otak dengan sayatan sangat kecil (minimal), sehingga jauh lebih aman dan presisi," jelas dr. Wildan.

Dokter spesialis saraf dr Cindy Cecilia, Sp.N. memaparkan perketat prosedur Code Stroke guna mengejar golden period atau periode emas penanganan medis.(Alfian/RadarKudus)
Dokter spesialis saraf dr Cindy Cecilia, Sp.N. memaparkan perketat prosedur Code Stroke guna mengejar golden period atau periode emas penanganan medis.(Alfian/RadarKudus)

Neuro Restorasi: Harapan Baru Pemulihan

Tantangan terbesar pasca-stroke adalah mengembalikan kualitas hidup pasien. Dokter spesialis saraf dr. Cindy Cecilia, Sp.N menegaskan bahwa pemulihan harus dimulai sejak dini.

Keterlambatan penanganan sering kali membuat sel saraf mati permanen, sehingga pemulihan tidak maksimal.

Untuk mengatasi hal ini, RS Kemenkes Surabaya memperkenalkan layanan Neuro Restorasi menggunakan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS).

"TMS bekerja menggunakan medan magnet untuk menstimulasi saraf otak, mempercepat neuroplasticity atau kemampuan otak menata ulang fungsinya. Ini solusi tanpa operasi agar pasien tidak hanya bertahan hidup, tapi bisa kembali mandiri," papar dr. Cindy.

Ia juga menyoroti masih banyaknya stigma di masyarakat yang menganggap stroke sebagai "penyakit kutukan" yang tidak bisa sembuh, sehingga pasien sering terlambat dibawa ke rumah sakit.

Padahal, dengan kontrol rutin, gaya hidup sehat (kurangi garam, stop merokok, olahraga), dan penanganan medis yang cepat, risiko disabilitas permanen dapat diminimalisir. (ade)

 

Editor : Ali Mustofa
#info kesehatan #Waspada Stroke #rs kemenkes surabaya #kesehatan otak