Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Doom Scrolling dan Dampaknya: Ketika Konsumsi Berita Buruk Menggerus Kesehatan Mental

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 9 Desember 2025 | 16:35 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS- Fenomena mengonsumsi rangkaian kabar buruk di media sosial tanpa henti kini dikenal sebagai doom scrolling.

Istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang terus menggulir layar meski merasa takut, cemas, marah, atau terbebani oleh konten yang dilihat.

Di era ketika ponsel menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, perilaku ini bukan lagi dianggap sebagai kebiasaan kecil, melainkan ancaman serius bagi kesehatan mental masyarakat.

Walaupun terlihat sederhana, dampak psikologis dari doom scrolling cukup rumit. Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan ini dimulai tanpa niat.

Awalnya hanya ingin mengecek pesan atau membaca informasi singkat, tetapi akhirnya terjebak dalam aliran berita negatif—mulai dari isu politik, bencana, kriminal, hingga konflik sosial.

Semakin sering seseorang membaca konten yang bernada muram, semakin besar dorongan untuk mencari lebih banyak, sehingga memperkuat rasa cemas yang berulang.

Beberapa faktor membuat perilaku ini begitu mudah terjadi. Pertama, desain platform digital memang dibuat untuk mempertahankan perhatian pengguna.

Algoritma mengamati interaksi dan menghadirkan konten yang dianggap relevan. Jika seseorang sering berinteraksi dengan berita bernada negatif, sistem akan menampilkan lebih banyak konten serupa.

Tanpa disadari, laman media sosial berubah menjadi ruang yang dipenuhi kekhawatiran.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Sepele yang Diam-Diam Merusak Kesehatan Mental dan Hidupmu

Kedua, manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih peka terhadap informasi negatif. Ini merupakan mekanisme evolusi yang dulunya membantu manusia mengenali bahaya.

Namun di dunia digital, sensitivitas tersebut menjadi kontra produktif. Paparan ancaman yang terus menerus justru memicu kecemasan, kelelahan emosional, pikiran berulang, sampai gangguan tidur.

Selain mempengaruhi kondisi psikologis, doom scrolling juga mengubah cara masyarakat melihat dunia. Ketika publik lebih sering menerima kabar buruk, persepsi kolektif menjadi lebih pesimistis.

Konflik terlihat semakin intens, kriminalitas tampak lebih tinggi, dan masalah sosial seolah tidak memiliki solusi. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mendorong sikap apatis, menurunkan kepercayaan pemerintahan, dan memperkuat polarisasi sosial.

Dari sisi produktivitas, doom scrolling menyebabkan berkurangnya fokus dan energi. Banyak orang memulai hari dengan membuka media sosial, dan jika yang pertama dilihat adalah berita negatif, suasana hati serta motivasi kerja ikut menurun.

Meski sudah menutup ponsel, efek emosional dari kabar buruk tetap tersisa, mengakibatkan rasa lelah meski belum memulai aktivitas fisik apa pun.

 

Baca Juga: Mengapa Gen Z Lebih Rentan Terhadap Gangguan Kesehatan Mental?

Kebiasaan ini juga banyak terjadi pada malam hari. Orang sering berniat “sekadar melihat perkembangan” sebelum tidur, tetapi paparan informasi yang menegangkan membuat otak tetap aktif.

Akibatnya, jadwal tidur berantakan, kualitas istirahat menurun, dan hormon stres meningkat, yang pada jangka panjang dapat memicu kecemasan kronis atau depresi ringan.

Fenomena ini perlu dipahami sebagai persoalan bersama, bukan semata masalah individu. Ruang digital adalah bagian dari ruang publik.

Ketika ruang ini didominasi konten negatif, ketahanan mental masyarakat ikut tergerus. Oleh sebab itu, upaya perbaikan perlu dilakukan secara menyeluruh.

Strategi mitigasi dapat dimulai dengan membangun literasi digital emosional. Masyarakat perlu dilatih untuk menyadari bagaimana jenis konten tertentu mempengaruhi perasaan dan tubuh mereka.

Tanda seperti gelisah, pikiran yang terus memutar, perubahan mood mendadak, atau dorongan menggulir layar meski lelah menandakan seseorang perlu berhenti sejenak.

Selanjutnya, membatasi waktu penggunaan media sosial menjadi langkah penting. Menentukan jadwal khusus, mengaktifkan pengingat waktu, atau menggunakan fitur “istirahat” dapat membantu.

Konten yang diikuti juga perlu dikurasi agar algoritma tidak hanya memunculkan berita muram, tetapi juga perspektif yang edukatif, inspiratif, atau menenangkan.

Platform digital juga memegang peran besar. Algoritma sebaiknya tidak semata mengejar keterlibatan pengguna, tetapi juga mempertimbangkan aspek kesehatan mental.

Konten sensitif perlu diberi konteks, sementara literasi digital dan edukasi mengenai kesehatan emosional harus diperluas.

Pada akhirnya, doom scrolling adalah cerminan hubungan manusia dengan teknologi yang berkembang lebih cepat daripada kemampuan adaptasi kita.

Untuk menjaga kesehatan mental publik, diperlukan kerja sama antara individu, masyarakat, penyedia platform digital, dan pemerintah.

Dunia digital semestinya menjadi ruang yang mendukung ketahanan sosial, bukan melemahkannya.

Dengan kesadaran bersama dan pengelolaan yang lebih manusiawi, fenomena ini dapat ditekan agar teknologi tetap menjadi manfaat, bukan sumber tekanan.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#kesehatan mental #Dampak Media sosial #Algoritma digital #Doom Scrolling #Kecemasan Psikologis