RADAR KUDUS - Peringatan Hari Hepatitis Sedunia (HHS) tahun ini menjadi momen strategis bagi Indonesia untuk memperkuat komitmen dalam memutus rantai penyebaran virus hepatitis, khususnya tipe B dan C.
Mengangkat tema internasional “Let’s Break It Down” dan tema nasional “Bergerak Bersama, Putuskan Penularan Hepatitis”, kegiatan utama HHS diselenggarakan secara daring dalam bentuk temu media, Selasa (22/7).
Acara ini bertujuan memperluas pemahaman masyarakat tentang bahaya hepatitis, mengajak seluruh elemen bangsa terlibat, serta mempercepat pencapaian target eliminasi hepatitis pada 2030.
Beban Global dan Nasional Hepatitis
Hepatitis B dan C kronis menjadi penyebab utama kanker hati, penyakit yang menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia. Berdasarkan data WHO, diperkirakan terdapat 254 juta orang dengan infeksi hepatitis B dan 50 juta orang mengidap hepatitis C secara global.
Di Indonesia, hasil Survei Kesehatan 2023 menunjukkan bahwa sekitar 6,7 juta penduduk terinfeksi hepatitis B, dan 2,5 juta lainnya terinfeksi hepatitis C.
Komitmen Indonesia Dalam Eliminasi Hepatitis
dr. Ina Agustina Isturini, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, menyampaikan bahwa Indonesia telah berperan aktif dalam gerakan global penanggulangan hepatitis, antara lain melalui inisiatif resolusi virus hepatitis yang diadopsi dalam World Health Assembly ke-63 tahun 2010.
Capaian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup signifikan. Prevalensi hepatitis B menurun dari 7,1% (2013) menjadi 2,4% (2023). Pada 2024, sekitar 89,6% ibu hamil telah menjalani skrining hepatitis B, dan lebih dari 93% bayi dari ibu HBsAg reaktif telah menerima vaksinasi hepatitis B dosis nol (HB0) serta imunoglobulin (HBIg) dalam waktu 24 jam setelah lahir.
Cakupan vaksinasi juga diperluas ke kelompok rentan lain, seperti tenaga kesehatan. Sejak Oktober 2023, sekitar 58% dari mereka telah menerima vaksin hepatitis B. Sementara itu, pemberian antivirus Tenofovir untuk ibu hamil dengan infeksi hepatitis B juga terus ditingkatkan, dengan fasilitas layanan yang kini tersebar di 206 kabupaten/kota.
Penanganan Hepatitis C: Terapi dan Deteksi Dini
Untuk hepatitis C, Indonesia telah menggunakan terapi Direct Acting Antiviral (DAA) yang memiliki tingkat kesembuhan lebih dari 95%. Layanan ini telah tersedia di 71 rumah sakit yang tersebar di 56 kabupaten/kota di seluruh provinsi.
dr. Ina menegaskan bahwa eliminasi hepatitis tidak akan berhasil tanpa kerja sama lintas sektor. “Seluruh elemen bangsa—pemerintah pusat dan daerah, lembaga swasta, akademisi, komunitas, dan media—harus terlibat untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan eliminasi hepatitis,” tegasnya.
Tantangan dan Strategi Lokal
Prof. David H. Muljono, anggota Komite Ahli Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Kemenkes RI, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa Indonesia, bersama Tiongkok dan India, menanggung lebih dari setengah beban hepatitis B dunia.
Oleh karena itu, keberhasilan Indonesia dalam mengatasi hepatitis akan berkontribusi besar terhadap kesehatan global.
Ia mencatat bahwa setiap tahun terjadi lebih dari dua juta kasus baru dan 1,4 juta kematian akibat hepatitis di dunia. Di Indonesia, masih banyak daerah yang tergolong kantong prevalensi tinggi, seperti wilayah Papua dan Maluku.
Prof. David juga menyoroti bahwa sekitar 60% masyarakat Indonesia belum memiliki imunitas terhadap hepatitis B, menjadikan mereka kelompok yang rentan terinfeksi. Oleh karena itu, imunisasi massal dan skrining dini menjadi prioritas utama.
“Strategi penanganan tidak bisa seragam untuk semua wilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik unik, sehingga perlu pendekatan berbasis lokal dengan melibatkan tokoh adat, agama, dan komunitas setempat,” ujarnya.
Desentralisasi Layanan dan Akses Terjangkau
Salah satu tantangan besar dalam eliminasi hepatitis adalah akses terhadap layanan kesehatan.
Menurut Prof. David, tes diagnosis dan terapi hepatitis harus tersedia hingga tingkat puskesmas, agar pasien di wilayah terpencil pun dapat menjangkau pengobatan secara cepat dan tepat.
Upaya desentralisasi menjadi penting untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat.
Dengan demikian, ibu hamil, tenaga kesehatan, maupun warga umum bisa mendapatkan akses imunisasi, skrining, dan pengobatan tanpa harus menempuh jarak jauh.
Langkah Bersama Menuju 2030
Melalui berbagai program imunisasi, pemberian antivirus, penyediaan terapi DAA, dan kampanye edukasi yang masif, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mencapai target eliminasi hepatitis pada 2030.
Kementerian Kesehatan RI juga mendorong empat aksi strategis yang dirangkum dalam gerakan “Atasi”, yaitu:
-
Atasi ketidaktahuan melalui edukasi dan penyebaran informasi yang benar,
-
Atasi keterlambatan diagnosis dengan memperluas program skrining,
-
Atasi akses terbatas dengan memperluas jangkauan layanan gratis,
-
Atasi stigma dengan mendorong empati dan solidaritas masyarakat.
Ajak Masyarakat Aktif Cegah Penularan
Kemenkes RI mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk segera memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), melengkapi imunisasi anak-anak, serta ikut dalam edukasi dan monitoring kesehatan di lingkungan masing-masing.
Hari Hepatitis Sedunia 2025 bukan hanya momen seremonial, melainkan panggilan untuk bertindak. Dengan dukungan penuh semua pihak, Indonesia optimistis bisa mewujudkan cita-cita menjadi negara bebas hepatitis pada 2030.
Editor : Mahendra Aditya