RADAR KUDUS - Diabetes kini menjadi salah satu penyakit yang mengancam masyarakat global, karena jumlah penderitanya terus meningkat dari waktu ke waktu.
Berdasarkan informasi dari International Diabetes Federation (IDF), pada tahun 2021 terdapat sekitar 537 juta orang di seluruh dunia yang hidup dengan penyakit ini.
Jumlah tersebut diproyeksikan akan terus bertambah hingga mencapai 643 juta pada 2030 dan meningkat menjadi 783 juta pada tahun 2045.
Baca Juga: Tiga Pilihan Camilan untuk Menambah Rasa Bahagia, Menurut Pakar Nutrisi
Di antara semua negara, Indonesia menempati posisi kelima dengan jumlah penderita diabetes terbanyak pada tahun 2021.
Saat itu, diperkirakan terdapat sekitar 19,5 juta penderita diabetes di Indonesia. Angka tersebut diprediksi akan naik menjadi 28,6 juta pada tahun 2025.
Kementerian Kesehatan RI bahkan menyebut diabetes sebagai "induk dari berbagai penyakit", karena dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan lain, selain hanya berkaitan dengan tingginya kadar gula.
Diabetes sendiri merupakan kondisi gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa akibat tubuh tidak dapat mengatur produksi atau penggunaan insulin dengan baik.
Bagi penderita diabetes tipe 2, mengontrol kadar gula darah menjadi tantangan utama.
Selain menjaga pola makan, waktu makan terutama waktu sarapan juga turut berpengaruh terhadap kadar gula dalam darah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews pada tahun 2024, sarapan setelah pukul 09.00 dapat mengurangi lonjakan gula darah secara lebih efektif dibanding sarapan pukul 07.00 pagi.
Baca Juga: Perhatikan, 7 Perilaku Tidak Sehat di Malam Hari yang Bisa Menyulitkan Bangun Pagi
Peneliti dalam studi ini menyatakan bahwa *menunda sarapan dapat membantu menurunkan lonjakan glukosa darah setelah makan secara signifikan.
Mengapa demikian? Studi ini berangkat dari fenomena yang dikenal sebagai “Dawn Phenomenon”, yaitu kondisi meningkatnya kadar gula saat seseorang baru bangun tidur.
Karena itu, peneliti ingin mengetahui apakah mengatur waktu sarapan, dikombinasikan dengan aktivitas fisik, dapat memengaruhi lonjakan gula darah.
Riset ini menggunakan metode uji silang terkontrol secara acak dengan melibatkan 14 partisipan dari Australia berusia antara 30 hingga 70 tahun yang sudah terdiagnosis menderita diabetes tipe 2.
Peneliti memastikan peserta tidak sedang mengonsumsi insulin, sulfonilurea, atau kombinasi obat penurun gula lainnya.
Selain itu, peserta juga dipilih berdasarkan kriteria seperti:
- Tidak sedang menjalani diet ketogenik.
- Tidak melakukan puasa berselang.
- Tidak menerapkan diet dengan batasan waktu makan.
- Tidak melakukan aktivitas fisik melebihi 150 menit per minggu, sesuai dengan pedoman di Australia
Para peserta juga dinilai menggunakan Eating Attitudes Test (EAT-26) untuk mengukur risiko gangguan makan.
Selain itu, fungsi sel beta pankreas dan komposisi tubuh diperiksa melalui tes darah serta pemindaian DXA.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan waktu sarapan, yaitu:
- Pagi (07.00)
- Pertengahan (09.30)
- Siang (12.00)
Setelah sarapan, mereka diminta untuk berjalan cepat selama 20 menit dengan jeda antara 30 hingga 60 menit.
Selama masa studi, makanan yang dikonsumsi serta pola tidur peserta dicatat melalui aplikasi Research Food Diary atau menggunakan catatan manual.
Untuk memantau kadar gula darah, digunakan perangkat Continuous Glucose Monitor (CGM), dan aktivitas fisik dipantau dengan alat khusus.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode iAUC (incremental Area Under the Curve), yang mengukur total lonjakan gula darah pasca makan.
Apa hasilnya? Dari 14 peserta awal, satu orang mengundurkan diri secara sukarela, dan dua lainnya dikeluarkan karena tidak mengikuti aturan penelitian.
Dari 11 peserta yang tersisa, diketahui bahwa pergeseran waktu sarapan tidak mempengaruhi total asupan energi harian maupun frekuensi makan secara signifikan.
Namun, dari segi nilai iAUC, ditemukan bahwa:
- Sarapan pukul 09.30 menurunkan iAUC sebesar 57 mmol/L×2h dibanding sarapan pukul 07.00.
- Sarapan pukul 12.00 menurunkan iAUC sebesar 41 mmol/L×2h dibanding sarapan pukul 07.00
- Tidak ada perbedaan mencolok antara kelompok 09.30 dan 12.00
Untuk aktivitas fisik, hasil menunjukkan bahwa berjalan cepat setelah makan hanya memberikan efek perbaikan kecil pada kelompok sarapan pagi dan siang.
Sementara itu, bagi kelompok sarapan 09.30, aktivitas tersebut tidak memberikan dampak berarti.
Kesimpulannya, waktu sarapan berpengaruh terhadap respons gula darah setelah makan, dan menunda sarapan dapat menjadi strategi yang sederhana namun efektif untuk membantu mengelola kadar gula pada penderita diabetes tipe 2.
Meski manfaat berjalan cepat tidak terlalu besar, tetap bisa dijadikan pelengkap dalam pengelolaan gula darah.
Walaupun studi lebih lanjut masih diperlukan, kebiasaan menunda sarapan secara konsisten berpotensi mengurangi risiko komplikasi jangka panjang pada penderita diabetes. (Octa Afriana A)
Editor : Ali Mustofa