JEPARA - Ziarah ke makam Mbah Sayid Abdullah di Legon Kluwak menjadi pembuka seluruh rangkaian Festival Thothok Terusan di Kecamatan Karimunjawa tahun ini.
Perwakilan Panitia, Moh Sofi'i menyampaikan bahwa tradisi ziarah yang digelar pada Kamis malam (30/10) menjadi langkah awal, yang tidak terpisahkan.
Dengan maksud mendekatkan diri kepada leluhur, memohon restu dan berkah agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, mendapat rida Allah SWT.
Ziarah dipimpin oleh Mbah Sapuan, sang juru kunci makam, diikuti oleh 25 orang panitia dan penggerak kegiatan.
Seusai doa bersama, mereka menggelar manganan atau makan bersama di tempat itu juga, nasi putih dengan lauk dekem ayam yang disajikan secara sederhana, penuh makna kebersamaan.
Kemudian, pada Jumat (31/10) malam dilanjutkan dengan sarasehan bersama warga sekitar. Khususnya terkait dengan area konservasi yang kini menjadi lokasi utama pencarian thothok, sejenis kerang khas laut Karimunjawa.
Jagongan ini menjadi ruang komunikasi penting agar pemanfaatan kawasan tersebut dilakukan secara bijak dan gotong royong, tanpa merusak keseimbangan alam.
Sofi'i melanjutkan, festival dan lomba mencari thothok yang ketiga kalinya ini diselenggarakan secara meriah.
Untuk kategori pencarian thothok terbanyak diikuti setidaknya 22 tim, masing-masing beranggotakan tiga orang.
Mereka beradu banyak-banyakan hasil tangkapan di pesisir konservasi yang sudah disepakati bersama. Disebutkan, panitia akan menimbang dan memberi hasil tangkapan dari tiap tim untuk menentukan pemenang.
"Selain kategori jumlah terbanyak, ada pula kategori nak-nakan, atau memilih thothok terbesar yang berhasil ditemukan," tuturnya Jumat (31/10).
Sofi'i menyebut, hal itu lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi cara warga menjaga hubungan dengan laut, mencari rezeki tanpa merusak, dan menegaskan identitas masyarakat pesisir Karimunjawa sebagai penjaga alam.
Usai lomba, siang harinya panitia membuka dapur umum. Hasil tangkapan dari peserta dibeli oleh panitia dan kemudian dimasak bersama-sama menjadi hidangan matang.
Aroma khas laut, santan, dan bumbu tradisional menguar dari tungku-tungku yang menyala. Warga bergotong royong menyiapkan makanan untuk disantap bersama, mempererat rasa kekeluargaan di tengah festival.
Puncak acara akan dilakukan pada Sabtu (1/11) malam dengan kirab Thothok. Dalam arak-arakan itu, thothok hasil olahan dibawa menuju Alun-Alun Kemujan.
Di sana, prosesi sakral dilakukan, thothok diserahkan oleh para tetua kepada Petinggi Kemujan, sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur kepada alam Karimunjawa.
Tak hanya itu, juga diadakan dolanan tradisional, barongan bocah, hingga pencak silat, menjadi hiburan rakyat yang penuh warna.(fik)
Editor : Mahendra Aditya