JEPARA — Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) di Kabupaten Jepara terus berjalan. Meluas dari satu desa ke desa. Mendekatkan layanan kepada masyarakat.
Sejak diluncurkan pada 4 Maret 2025 lalu, lokus layanan pemeriksaan dokter spesialis tersebut telah menjangkau 47 desa.
Sementara itu di tahun 2026 ini, per Jumat (30/10) sudah terlaksana 40 desa. Dengan kata lain, masih kurang 7 desa hingga akhir Desember 2026 mendatang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara Diyar Susanto melalui Sekretaris Dinas Kesehatan (Sekdin) Hesti Prihandari menegaskan, dari total 47 desa yang menjadi lokus Speling sejak 2025, masih terdapat tujuh desa yang belum mendapatkan layanan. Pelaksanaan sisanya ditargetkan rampung hingga akhir Desember 2026.
"Launching perdana pelaksanaan Speling di Kabupaten Jepara pada 4 Maret 2025 di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, dan Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo. Kegiatan masih berlanjut sampai sekarang," sebutnya, pada Jumat (30/10).
Untuk tahun 2027, sudah ada alokasi lokus desa Speling prioritas 1 dan prioritas 2 dari dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Menurutnya, penentuan desa yang menjadi lokus Speling merupakan kewenangan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Sementara itu, penjadwalan setiap bulannya dilakukan DKK Jepara dengan berkoordinasi bersama rumah sakit, puskesmas pengampu, serta pemerintah desa terkait kesiapan pelaksanaan.
Dalam pelaksanaannya, Speling wajib menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam dan obstetri-ginekologi (obgyn). Sebagaimana instruksi Gubernur Jawa Tengah.
Kehadiran dua dokter spesialis ini bertujuan untuk mendukung deteksi dini dan pelayanan dasar penyakit tidak menular. Selain itu, pemeriksaan juga diarahkan untuk mendeteksi kelainan dan gangguan pada ibu hamil, guna menekan angka kematian ibu melahirkan.
Di luar dua spesialisasi tersebut, dokter spesialis anak juga menjadi salah satu layanan yang banyak dibutuhkan masyarakat, meskipun belum diwajibkan dalam program Speling.
Hesti menerangkan, sasaran utama program ini adalah masyarakat berisiko, yang belum pernah berkonsultasi atau mendapatkan pemeriksaan dokter spesialis.
Karena itu, calon pasien terlebih dahulu menjalani skrining oleh puskesmas melalui bidan desa. Penentuan peserta disesuaikan dengan kondisi medis warga yang memiliki risiko tinggi dan membutuhkan konsultasi dokter spesialis.
Syaratnya mudah. Warga yang mengikuti pemeriksaan cukup membawa identitas berupa KTP atau kartu keluarga (KK), untuk dimasukkan ke dalam sistem.
Terkait tindak lanjut pemeriksaan, pasien yang membutuhkan rujukan dalam kondisi tidak gawat darurat akan diberikan surat rujukan ke rumah sakit.
Bagi peserta yang memiliki kartu BPJS Kesehatan aktif, mereka diarahkan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), untuk mendapatkan rujukan ke rumah sakit.
Sementara itu, apabila kartu BPJS mengalami kendala, puskesmas pengampu akan membantu berkoordinasi dengan DKK Jepara untuk menyelesaikan persoalan tersebut sebelum pasien mendapatkan rujukan dari FKTP.
Jika dalam kondisi gawat darurat, pasien akan distabilkan terlebih dahulu di lokasi pemeriksaan. Selanjutnya, pasien dirujuk menggunakan ambulans puskesmas pengampu.
Mengenai pelaksanaan di wilayah dengan keterbatasan jaringan internet, Hesti menyebut selama ini kegiatan Speling ditempatkan di balai desa atau gedung fasilitas umum yang memiliki akses internet maupun Wi-Fi.
Namun, Kecamatan Karimunjawa belum masuk dalam lokus pelaksanaan Speling.
Wilayah ini tidak tercantum dalam daftar lokus terpilih yang ditentukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Meski demikian, desa di luar lokus yang telah ditentukan tetap diperbolehkan mengajukan pelaksanaan Speling. Pengajuan dapat disampaikan kepada DKK Jepara untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan puskesmas terkait dan rumah sakit yang bertugas.
Hesti menyebut, tujuh rumah sakit di Kabupaten Jepara telah berkolaborasi dalam pelaksanaan program tersebut.
Rumah sakit yang terlibat yakni RSUD dr. Rehatta Provinsi Jawa Tengah, RSUD RA Kartini, RS PKU Muhammadiyah Mayong, RSI Sultan Hadlirin, RS Graha Husada, RS PKU Aisyiyah Jepara, dan RSI NU Cakra Medika Mayong.
“Dokter spesialis yang pernah memberikan layanan dalam program Speling meliputi spesialis obgyn, penyakit dalam, anak, jiwa, paru, bedah, dan saraf,” ucapnya.
Di samping itu, masih dibutuhkan sarana prasarana dan konsumsi selama kegiatan masih ditanggung oleh pemerintah desa dan puskesmas. Termasuk belum semua rumah sakit bersedia menyediakan atau mendistribusikan obat-obatan spesialistik untuk kegiatan Speling.(fik)
Editor : Mahendra Aditya