Ratusan Siswa-Guru di Jepara Alami Gangguan Pencernaan Usai MBG, Ini Temuan di SPPG

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 15:02 WIB
Ilustrasi keracunan makanan (ai)
Ilustrasi keracunan makanan (ai)

JEPARA – Sebanyak 118 penerima manfaat, yang terdiri dari 106 siswa dan 12 guru, mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara Mlonggo Sekuro 01.

Menu tersebut dibagikan pada Senin (7/9/2026) kepada sejumlah sekolah penerima manfaat. Keluhan mulai muncul pada Senin malam dan baru dilaporkan kepada pihak SPPG pada Selasa (8/9) pagi.

Laporan awal diterima sekitar pukul 07.45 WIB dari pihak sekolah. Kendati demikian, distribusi menu MBG pada Selasa tetap berlangsung.

Berdasarkan laporan kejadian yang diterima Radar Kudus, SPPG Jepara Mlonggo Sekuro 01 pada Senin menyediakan 1.650 paket MBG yang kemudian didistribusikan ke 11 sekolah penerima manfaat.

Dari total tersebut, 556 paket dikirim ke tiga sekolah, yakni SMK Nawa Kartika, MA Nawa Kartika, dan SD Negeri 1 Srobyong.

Menu yang diberikan terdiri dari nasi putih, ayam bakar taliwang, sambal terasi, saus tomat Del Monte sachet, tahu goreng, serta lalapan berupa timun dan kemangi.

Menu serupa juga diberikan kepada penerima manfaat non-peserta didik atau kelompok 3B.

Keluhan mulai diketahui pada Senin malam. Pada Selasa pagi, pihak SPPG mendapatkan laporan dari PIC sekolah mengenai sejumlah siswa yang mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi makanan MBG yang diterima pada Senin siang.

SPPG kemudian melakukan observasi bersama Puskesmas Kecamatan Mlonggo ke tiga sekolah yang melaporkan adanya keluhan.

Hasil pendataan awal menunjukkan terdapat 33 siswa dan empat guru yang mengalami keluhan di SMK Nawa Kartika.

Di MA Nawa Kartika, terdapat 13 siswa yang terdampak. Sementara di SD Negeri 1 Srobyong, jumlah penerima manfaat yang mengalami keluhan mencapai 60 siswa dan delapan guru.

Dengan demikian, total penerima manfaat yang terdata mengalami gangguan pencernaan mencapai 118 orang.

Keluhan yang dilaporkan terutama berupa sakit perut dan diare.

Meski demikian, berdasarkan pendataan tersebut, seluruh penerima manfaat tidak menjalani rawat jalan maupun rawat inap di puskesmas ataupun rumah sakit.

Selain kondisi penerima manfaat, proses produksi dan penyajian makanan juga menjadi perhatian dalam laporan khusus kejadian tersebut.

Penyiapan menu pada Senin dilakukan sejak malam hari. Bahan baku ayam diterima pada Minggu (6/9) pukul 19.45 WIB dalam kondisi beku dan kemudian disimpan di freezer.

Proses pencairan atau thawing ayam dimulai sekitar pukul 00.15 WIB. Sementara persiapan bumbu telah dimulai sejak pukul 20.00 WIB.

Ayam kemudian menjalani proses pengungkepan hingga sekitar pukul 22.35 WIB.

Setelah itu, ayam ungkep kembali dimasukkan ke freezer hingga pukul 02.24 WIB sebelum dikeluarkan untuk proses pembakaran.

Pembakaran ayam dilakukan dalam tiga batch. Tahap pertama berlangsung pukul 02.52–04.06 WIB, tahap kedua pukul 04.21–06.18 WIB, dan tahap ketiga pukul 06.37–08.55 WIB.

Untuk nasi, proses penataan ke dalam rice steamer dimulai sekitar pukul 03.04 WIB dan nasi matang sekitar pukul 04.36 WIB.

Sementara sambal terasi mulai dimasak pukul 03.02 WIB dan selesai sekitar pukul 05.12 WIB.

Makanan kemudian diporsikan dalam tiga sesi. Sesi pertama berlangsung pada 05.32–07.49 WIB, sesi kedua 08.43–09.41 WIB, dan sesi ketiga 10.40–11.15 WIB.

Pengiriman pertama dimulai sekitar pukul 07.52 WIB, sedangkan distribusi berikutnya dilakukan mulai sekitar pukul 11.05 WIB.

Dalam pemeriksaan fasilitas SPPG, tim menemukan sejumlah hal yang masih perlu dievaluasi.

Salah satunya adalah keberadaan tempat sampah kecil yang tidak tertutup di samping wastafel ruang produksi.

Laporan tersebut juga mencatat adanya potensi kontaminasi silang yang berkaitan dengan proses persiapan ayam ungkep yang dilakukan terlalu awal.

Secara umum, laporan menyebut proses produksi telah berjalan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Namun, masih ditemukan persoalan pada tata letak loading in dan loading out yang berada di lokasi yang sama.

Jeda waktu dalam proses persiapan makanan serta kemungkinan terjadinya kontaminasi silang ketika proses loading in dan loading out juga dinilai sebagai faktor yang perlu diperhatikan.

Meski demikian, laporan khusus tersebut belum menetapkan penyebab pasti gangguan pencernaan yang dialami para penerima manfaat.

Salah satu dugaan sementara berkaitan dengan sumber air yang digunakan, yakni air keran, bukan air galon. Namun, dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Sampel makanan telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Hasil uji tersebut nantinya menjadi salah satu dasar untuk mengetahui apakah gangguan pencernaan berkaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, mengatakan kondisi setelah kejadian tersebut kini sudah terkendali.

"Sudah terkendali dan Alhamdulillah tidak ada yang serius," ujarnya, Rabu (9/9).

Meskipun situasi telah terkendali, pemantauan terhadap kondisi penerima manfaat tetap dilakukan. Tim dari puskesmas melakukan monitoring secara rutin sebanyak dua kali dalam sepekan.

Hadi menjelaskan, jadwal pemantauan tidak diberitahukan sebelumnya kepada pihak SPPG. Menurutnya, cara tersebut dilakukan agar pengawasan dapat berjalan secara objektif.

"Kalau mendampingi setiap hari ya tidak mungkin, karena sudah ada pengawas gizinya sendiri," ucapnya.

Penanganan kasus saat ini masih berlanjut melalui pengawasan, evaluasi, serta penelusuran terhadap kemungkinan penyebab gangguan pencernaan.

Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan menjadi bagian penting dalam proses tersebut untuk memastikan keterkaitan antara makanan MBG dengan keluhan yang dialami penerima manfaat.

Dalam laporan khususnya, pihak SPPG juga memberikan sejumlah rekomendasi tindak lanjut.

Di antaranya pemeriksaan terhadap kepala SPPG dan sumber daya manusia terkait, evaluasi SOP, infrastruktur, serta proses produksi.

Selain itu, diperlukan pengamanan dan penelusuran terhadap sampel makanan atau batch yang berkaitan dengan kejadian, kemudian dilanjutkan dengan tindakan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi. (fik)

Editor : Ali Mustofa
sppg jepara menu program nbg distribusi menu mbg penerima manfaat