Jelang Tutup Permanen Manajemen PT Samwon Buka Suara, Ternyata Ini Alasannya 

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 15:05 WIB
HR Manajer PT Samwon Busana Indonesia, Taufan Adi Susilo. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
HR Manajer PT Samwon Busana Indonesia, Taufan Adi Susilo. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Manajemen PT Samwon Busana Indonesia buka suara terkait keputusan menutup operasional pabrik di Jepara. 

Perusahaan memastikan, hak semua karyawan yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) akan dipenuhi sesuai ketentuan.

Pembayaran dijadwalkan pada Jumat (31/7), bertepatan dengan hari terakhir operasional perusahaan.

HR Manajer PT Samwon Busana Indonesia, Taufan Adi Susilo, menjelaskan keputusan menutup pabrik di Jepara diambil setelah perusahaan mengalami kerugian secara terus-menerus sejak pandemi Covid-19. 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat perusahaan tidak memiliki pilihan selain melakukan PHK terhadap seluruh karyawan.

"Pasca-Covid perusahaan mengalami kerugian terus-menerus. PHK memang tidak bisa dihindari. Kami harus mengambil langkah itu," ujarnya, saat ditemui pada Selasa (21/7).

Saat ini jumlah karyawan yang masih bekerja di pabrik Jepara sekitar 680 orang. 

Seluruhnya akan mengakhiri masa kerja pada Jumat, 31 Juli 2026.

Kemudian mulai Sabtu, 1 Agustus 2026, perusahaan resmi menghentikan seluruh aktivitas operasional di Jepara.

Taufan memastikan perusahaan akan memenuhi seluruh hak pekerja yang terdampak. Hak tersebut meliputi pesangon, uang penghargaan masa kerja, serta penggantian sisa cuti tahunan yang belum diambil.

"Hak mereka akan kami bayarkan pada 31 Juli, hari terakhir mereka bekerja. Kami bayarkan sesuai ketentuan. Untuk uang penghargaan masa kerja sudah ada ketentuannya, sedangkan pesangon karena perusahaan merugi dibayarkan sebesar 50 persen sesuai aturan yang berlaku," terangnya.

Selain itu, gaji terakhir karyawan akan dibayarkan pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Terkait aset perusahaan setelah penutupan, Taufan mengaku hingga kini belum ada keputusan dari manajemen pusat mengenai pemanfaatannya.

"Untuk aset, sementara belum tahu akan kami apakan," imbuhnya.

Ia menjelaskan penurunan kinerja perusahaan mulai terasa signifikan pada periode 2023 hingga 2024. 

Turunnya permintaan dari para pembeli (buyer), terutama dari Amerika Serikat yang menjadi pasar utama perusahaan, menjadi penyebab terbesar. 

Bahkan sejumlah buyer memutuskan menghentikan kerja sama dengan Samwon.

"Order turun sekitar 30 sampai 40 persen. Bahkan ada buyer yang menghentikan order kepada kami," sebutnya.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan operasional, termasuk melalui tim pemasaran yang terus mencari dan melobi buyer baru. Namun upaya tersebut belum mampu mengembalikan volume pesanan.

"Tim marketing sudah berupaya melobi buyer, tetapi order tetap tidak mencukupi untuk menjalankan operasional perusahaan," ujarnya.

Samwon sendiri selama ini berfokus memproduksi kemeja untuk pasar ekspor. 

Selain Amerika Serikat, produk perusahaan juga dipasarkan ke Korea Selatan hingga Jepang.

Perusahaan juga sempat mencoba mengembangkan produk blus, namun tidak berhasil meningkatkan permintaan pasar.

Sebelum akhirnya memutuskan tutup, perusahaan juga telah melakukan sejumlah langkah efisiensi. 

Pada awal 2026, perusahaan melakukan efisiensi terhadap 120 karyawan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, perusahaan juga tidak lagi mengganti karyawan yang mengundurkan diri.

Taufan menegaskan keputusan menutup pabrik murni dipengaruhi faktor bisnis.

Ia menampik anggapan bahwa penutupan dipicu aksi demonstrasi pekerja maupun serikat butuh di Jepara.

"Itu hanya opini dari luar. Secara internal kami tidak menganggap demo sebagai hambatan, itu bagian dari dinamika (hubungan industrial)," tegasnya.

Menurutnya, iklim investasi di Kabupaten Jepara justru masih sangat baik. 

Ketersediaan tenaga kerja juga melimpah dan kualitas pekerja lokal dinilai memadai. Bahkan sekitar 80 persen tenaga kerja Samwon Jepara merupakan warga asli Jepara.

"So far tidak ada faktor dari daerah yang memberatkan. Iklim investasi di Jepara bagus, tenaga kerjanya juga banyak. Persoalannya kalau order tidak ada, perusahaan memang tidak bisa berjalan," jelasnya.

PT Samwon Busana Indonesia mulai beroperasi di Jepara pada 2015. 

Sebelumnya perusahaan telah membuka pabrik di Semarang sejak 2006. Pada masa sebelum pandemi Covid-19, jumlah pekerja di pabrik Jepara sempat mencapai sekitar 2.200 orang. 

Rekrutmen besar-besaran juga dilakukan pada periode 2017 hingga 2018.

Sementara itu, operasional pabrik Samwon di Semarang hingga kini masih berjalan normal. Taufan memastikan belum ada rencana penutupan untuk fasilitas produksi tersebut.

“Hanya di Jepara (penutupan, red). Di Semarang belum ada rencana penutupan,” pungkasnya.(fik) 

Editor : Ali Mustofa
Pabrik Samwon tutup permanen Pabrik garmen Jepara tutup Perusahaan merugi Order turun pt samwon busana indonesia