JEPARA — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jepara, kini sedang menghadapi jalan buntu. Hal ini diakibatkan karena persoalan anggaran.
Persoalan klasik, yang gagal diatasi pemerintah selaku penyelenggara negara dan program.
Setidaknya 25 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga saat ini, belum mendapat pencairan dana dari Badan Gizi Nasional (BGN). Operasional mandek.
Dampak dari kendala sistemik ini sangat masif. Di mana sedikitnya 64.000 siswa sekolah, serta kalangan masyarakat kategori bumil, busui dan balita (B3) gagal mendapatkan haknya. Berupa asupan pemenuhan gizi mereka, dari program MBG.
Koordinator SPPG Jepara, M. Musthofa Wildan, mengungkapkan bahwa dinamika data di lapangan terus bergerak tidak stabil.
Berdasarkan laporan yang dihimpunnya secara berkala, semula tercatat ada 30 SPPG yang pencairan anggarannya mandek.
Meskipun 10 satuan pelayanan di antaranya sudah berhasil mencairkan dana secara bertahap sejak Senin-Jumay (8-12/6), masalah baru muncul dengan adanya tambahan 5 SPPG yang ikut mengalami kemacetan serupa.
Kondisi ini menyisakan sekitar 25 titik yang berhenti operasi sementara. Diperparah dengan ditutupnya sementara 7 titik SPPG lain, akibat masalah teknis pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Jika 7 dapur ini masing-masing SPPG melayani 2000-an penerima manfaat, 14 ribu orang gagal mendapatkan haknya.
Wildan menyebut, ada setidaknya 199 titik dapur MBG, yang kini telah memiliki kepala SPPG.
165 di antaranya telah beroperasi dan sempat beroperasi. Dikurangi 25 dapur yang mandek akibat pencairan dana, serta 7 dapur yang ditutup akibat IPAL tak standar. Bermasalah.
Meskipun saat ini program sedang didera krisis, rencana jangka panjang pemerintah tampak tetap dijalankan. Bahkan, Wildan menyebut sudah ada 40 calon titik dapur baru.
“Kami belum tahu, semua akan cair kapan. Tapi yang jelas bertahap,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin