Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Para Bhikkhu Jalan Kaki 11 Hari Sejauh 220 Kilometer, Dari Jepara Menuju Candi Sewu Klaten untuk Merayakan Waisak

Fikri Thoharudin • Rabu, 20 Mei 2026 | 19:26 WIB
KHIDMAT: Para umat Buddha dari Jepara hingga Pati, memberikan perbekalan kepada para Bhikkhu yang melakukan Thudong dari Candi Sima, Donorojo, Jepara hingga Candi Sewu Klaten, pada Rabu (20/5). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 
KHIDMAT: Para umat Buddha dari Jepara hingga Pati, memberikan perbekalan kepada para Bhikkhu yang melakukan Thudong dari Candi Sima, Donorojo, Jepara hingga Candi Sewu Klaten, pada Rabu (20/5). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

Dari pelataran Candi Sima di Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Jepara, belasan bhikkhu memulai perjalanan spiritual thudong sejauh sekitar 220 kilometer, menuju Candi Sewu di Klaten, dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE. 

Dengan berjalan kaki selama setidaknya sebelas hari melintasi sejumlah daerah di Jawa Tengah, para bhikkhu membawa pesan perdamaian, kesederhanaan, dan persaudaraan lintas umat. 

FIKRI THOHARUDIN, Radar Kudus, Jepara

LANGKAH pelan para bhikkhu mulai meninggalkan kawasan Candi Sima, Kecamatan Donorojo, Jepara, pada Rabu (20/5) menjelang siang. 

Dengan jubah sederhana, bersandal, dan membawa niat perjalanan spiritual, rombongan itu memulai perjalanan kaki. Sejauh sekitar 220 kilometer menuju Candi Sewu, Klaten. 

Di tengah terik yang mulai naik perlahan, para bhikkhu terus melangkah, bertolak dari Jepara. Melakukan perjalanan setidaknya 11 hari. Membawa pesan damai, menyusuri jalan panjang, menuju Kota Seribu Candi, Klaten.

Ratusan warga, utamanya umat Buddha juga menyambut di sejumlah titik. Di antaranya di perbatasan-perbatasan desa di Kecamatan Donorojo-Keling-Kembang. Termasuk di sebelum dan sesudah hutan karet di sepanjang Jalan Provinsi, Jepara-Kelet.

TEGUH: Para Bhikkhu tengah melakukan Thudong, Walk for Peace 2026, dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Klaten, pada Rabu-Sabtu (20-30/5).
TEGUH: Para Bhikkhu tengah melakukan Thudong, Walk for Peace 2026, dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Klaten, pada Rabu-Sabtu (20-30/5).

Tradisi Thudong, yang identik dengan perjalanan spiritual para bhikkhu itu, mulai hidup kembali di Bumi Jepara. 

Sebanyak 16 bhikkhu dari berbagai daerah di Indonesia ikut dalam perjalanan tersebut, ditambah satu bhikkhu dari Semarang. 

Mereka berasal dari Medan, Mojokerto, Banyumas, hingga Papua. Sebagian di antaranya bahkan merupakan putra asli Jepara.

Ketua Panitia, Soendoko (58), mengatakan Jepara dipilih menjadi titik awal karena adanya inisiatif dari umat Buddha, dan berbagai elemen masyarakat. Untuk menghadirkan tradisi Thudong di daerah ini. 

Menurutnya, perjalanan kali ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga membawa pesan kedamaian dan toleransi.

“Ini menjadi momentum Waisak sekaligus menebarkan kedamaian. Perjalanan ini tradisi para bhikkhu, dan hari ini kami mulai lagi,” ungkapnya di sela-sela istirahat selama perjalanan, Rabu (20/5).

Selama perjalanan menuju Candi Sewu, rombongan akan berjalan kaki melintasi berbagai daerah. Dengan dukungan kendaraan logistik, tenaga medis, hingga tenda darurat apabila tidak menemukan tempat singgah. 

Umat Buddha di sepanjang jalur perjalanan, juga diberi kesempatan untuk berdana atau memberikan bantuan kebutuhan para bhikkhu.

Ratusan umat Buddha di Jepara, juga antusias di tepian jalan. Melepas para Bhikkhu dengan doa keselamatan, sembari mengharap berkah.

“Kalau tidak ada tempat istirahat kami memakai tenda darurat. Ada mobil pendukung dan tenaga medis juga,” tegasnya.

Puncak perjalanan dijadwalkan berlangsung pada Minggu (31/5) di Candi Sewu, Klaten.

Rombongan ditargetkan tiba pada Sabtu (30/5) malam, sebelum mengikuti rangkaian perayaan Waisak bersama para bhikkhu lainnya dari berbagai daerah. 

Soendoko menyebutkan, di Jepara sendiri, jumlah umat Buddha diperkirakan mencapai sekitar 6.000 orang. Paling banyak tersebar di Kecamatan Donorojo. Sementara Bhikkhu yang menetap di Jepara hanya sekitar lima orang. 

Selain Thudong, umat Buddha Jepara juga akan menggelar perayaan Waisak tingkat kabupaten pada Minggu (21/6) mendatang. Dengan berbagai kegiatan seremonial dan seni bernuansa Buddhis.

Salah satu bhikkhu peserta Thudong, Nyanakaruno Mahathera (62) menuturkan, perjalanan itu sejak awal membawa misi perdamaian dan kepedulian antarsesama. 

Ia merasa pelaksanaan Thudong di Jepara mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan, termasuk umat Muslim, Kristen, Hindu, dan Katolik.

“Kami lebih cenderung membawa misi perdamaian, kepedulian, dan toleransi. Kami bersyukur banyak elemen yang mendukung, termasuk penganut agama lain,” tuturnya.

Menurutnya, dukungan lintas agama tersebut, menjadi gambaran bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Kebersamaan, sambungnya, harus terus dirawat di tengah dunia yang saat ini banyak diwarnai konflik dan perselisihan.

“Indonesia negara yang damai. Kebersamaan ini harus terus dibangun dengan spirit budaya dan toleransi,” katanya.

Di antara kerumunan pelepasan, Yuni Aditha (27), tampak sumringah. Matanya berkaca-kaca. Senyumnya mekar. Ia yang merupakan umat Buddha asal Cluwak, Pati, tampak sibuk menyerahkan berbagai kebutuhan, yang diharapkan dapat membantu para bhikkhu. 

Ia bersama umat lainnya membawa makanan, obat-obatan, sandal, hingga perlengkapan perjalanan, untuk memastikan para bhikkhu dapat berjalan dengan baik.

“Selama Bhante (Bhikkhu, red) berjalan, kebutuhan makan berasal dari umat. Kami berdana untuk membantu kebutuhan mereka. Ada keberkahan tersendiri,” ujarnya sumringah.

Menurut Yuni, antusiasme masyarakat terhadap Thudong tahun ini sangat tinggi, karena menjadi pengalaman yang terbilang baru bagi banyak orang di Pantura Jawa Tengah. 

Yuni pun terpukau dengan laku spiritual dan sosial yang dilakukan para Bhikkhu. Menurutnya para Bhikkhu adalah manusia mulai.

Ia pun berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun.

“Kami nanti juga akan bertemu lagi di Candi Sewu tanggal 30 Mei, untuk perayaan Waisak tanggal 31 Mei,” imbuhnya.

Di Candi Sewu sendiri, diperkirakan, nantinya akan berkumpul lebih dari 50 bhikkhu. Bagi Yuni hal tersebut menjadi sebuah persinggungan menuju'revolusi spiritual' tersendiri.

Dukungan lintas agama terhadap perjalanan itu juga datang dari komunitas pengawal Thudong asal Cirebon. 

Salah satu relawan Muslim asal Cirebon, Prabu, ikut mengawal perjalanan, mengatakan pihaknya sejak 2023 telah beberapa kali membantu pengamanan perjalanan bhikkhu dari Thailand, Malaysia, Singapura hingga menuju Borobudur. Termasuk pembersamaan di Api Abadi Mrapen.

“Tahun ini kami mengajak kolaborasi untuk menyukseskan Indonesia Thudong 2026. Kami ingin menunjukkan Indonesia sangat toleran dan menjunjung tinggi persaudaraan,” katanya.

Menurutnya, para relawan pengawal terdiri dari berbagai latar belakang agama, mulai Muslim, Katolik, hingga Kristen. Mereka bersama-sama mengawal perjalanan tanpa kepentingan politik.

“Kami hanya ingin menjaga perjalanan ini sampai finish, sebagai bentuk pengabdian dan menjaga perdamaian,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh perwakilan dari Paroki Santo Yusuf Cirebon, Lingga. Pihaknya berharap kehadiran Thudong mampu menumbuhkan semangat kebersamaan, utamanya di daerah-daerah yang dilalui rombongan Bhikkhu.

Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo menilai kegiatan tersebut menjadi gambaran wajah Jepara yang harmonis, serta menjunjung tinggi keberagaman.

“Inilah wajah Jepara, bahwa keharmonisan sangat terjaga dengan baik. Jepara adalah rumah besar yang damai, penuh akan toleransi, serta menghargai dalam keberagaman,” pungkasnya.(*)

Editor : Admin
#Walk for Peace 2026 #Candi Sewu Klaten #thudong #Candi Sima Donorojo Jepara #waisak