JEPARA — Serambi kelas hingga halaman Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Jepara berubah wajah, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, pada Sabtu (2/5).
Area yang biasanya lengang itu menjelma menjadi ruang hidup penuh kreativitas, laboratorium terbuka sekaligus galeri karya siswa.
Bukan sekadar seremoni, peringatan tahun ini diisi dengan unjuk karya lintas kelas. Sudah kali keempat, Hardiknas dikemas sarat dengan semangat akademik seperti ini.
Mulai dari pertunjukan seni, riset sederhana, hingga inovasi berbasis kebutuhan sehari-hari dipamerkan.
Di tengah semarak karya dan ide yang dipamerkan, Hardiknas di MTsN 1 Jepara terasa lebih hidup.
Bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum menyalakan gairah berkarya, langkah kecil menuju peradaban yang lebih maju.
Setiap serambi kelas menjadi cermin, penuh cerita. Tentang ide, gagasan, proses, dan keberanian siswa dalam berkarya.
Di mata Kepala MTsN 1 Jepara, Tafrikan, Hardiknas ialah momen sakral. Sehingga tidak boleh berhenti pada upacara dan dokumentasi semata.
“Kami punya komitmen, hari ini bukan hanya seremoni. Ini harus menjadi cermin kreativitas. Anak-anak kami beri panggung, kami fasilitasi agar mereka berani berkarya,” ungkapnya, Sabtu (2/5).
Menurutnya, pendidikan tidak hanya soal capaian akademik, tetapi juga pembentukan mental, keterampilan, dan karakter.
Pihaknya menyebut menyebut, tokoh-tokoh dengan sumbangsih besar, seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Jabir bin Hayyan, Abbas bin Firnas, Al-Jazari, Thomas Alva Edison, hingga Ki Hajar Dewantara, Sosrokartono hingga Kartini sering dikenalkan. Tujuannya adalah menggerakkan batin para siswa, agar menuntun proses pencarian ilmu.
“Beliau adalah orang-orang besar yang lahir dari proses panjang. Lewat para guru, anak-anak dikenalkannya. Sehingga dapat termotivasi dan tergerak untuk berkarya,” imbuhnya.
Di momen ini, siswa bebas menampilkan karya terbaiknya. Ada yang mengolah bahan alami menjadi produk kesehatan seperti sari daun kelor untuk membantu keluhan asam urat dan tekanan darah. Ada pula inovasi ramah lingkungan seperti sabun cuci berbasis eco-friendly, paving dari sampah, hingga pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk bernilai guna.
Tak sedikit pula karya kreatif berbasis teknologi sederhana. Mulai dari tempat sampah otomatis, brankas digital, hingga sistem hidrolik mini untuk jembatan dan tempat cuci mobil.
Di sisi lain, kreativitas kuliner juga tampil lewat permen pepaya, kopi kurma, hingga lip oil berbahan jeruk nipis dan madu.
Kegiatan dibagi dalam tiga titik utama sebagai representasi tiap jenjang.
Siswa kelas VII menampilkan seni pertunjukan seperti drama, musik, dan olah vokal. Kelas VIII mengusung kombinasi kreativitas dan keterampilan praktis.
Sementara kelas IX, fokus pada mini riset dan proyek inovasi dari sebelas kelas yang terlibat.
Selain itu, madrasah juga mengintegrasikan pembelajaran demokrasi, melalui pemilihan ketua OSIS. Siswa diajak menyusun visi-misi dan berkompetisi secara sehat.
Pada saat yang sama para siswa juga belajar mencipta usaha, dari kreasi makanan hingga minuman. Termasuk pesta demokrasi, pemilihan ketua OSIS.
“Kami ingin mereka punya mental demokrasi yang kuat dan berpikir untuk kemaslahatan bersama,” sebutnya.
Salah satu karya yang menarik perhatian datang dari Elsa, siswi kelas IX J. Ia merancang tongkat pintar untuk penyandang tunanetra.
Tongkat tersebut dilengkapi sensor, yang mampu mendeteksi halangan di depan dengan jarak sekitar setengah meter. Menariknya, alat ini dapat dibuat dengan biaya relatif terjangkau, sekitar Rp 200 ribu.
“Tongkat ini bisa menjadi navigasi sederhana agar mereka lebih aman saat berjalan,” ujar Elsa.
Bagi pihak sekolah, seluruh rangkaian ini adalah bagian dari upaya membangun generasi masa depan.
Tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, kreativitas, dan keberanian untuk berkontribusi.
“Madrasah ini harus menjadi wadah lahirnya pemimpin masa depan. Pendidikan itu mutlak, dan harus dibarengi dengan penguatan iman serta karakter,” sambung Tafrikan memberi pungkasan.(fik)
Editor : Admin