Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jelang Nyepi 2026, Ratusan Umat Hindu se-Karesidenan Pati Sembahyang dan Larung Sesaji di Pantai Bandengan

Fikri Thoharudin • Minggu, 15 Maret 2026 | 16:59 WIB
LARUNG: Perwakilan dari umat Hindu melakukan larung banten atau sesaji dari Dermaga Pantai Bandengan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
LARUNG: Perwakilan dari umat Hindu melakukan larung banten atau sesaji dari Dermaga Pantai Bandengan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Deru ombak Pantai Bandengan mengiringi langkah ratusan umat Hindu se-Karesidenan Pati. Mereka berjalan perlahan, melakukan kirab menuju tepi laut, pada Minggu (15/3) pagi menjelang siang.

Dengan mengenakan pakaian adat serba putih dan membawa beragam sesaji, mereka mengikuti prosesi pemujaan dan persembahyangan melasti, mecaru hingga larung sesaji.

Suasana persembahyangan berjaan khidmat. Tua, muda hingga anak-anak tampak hadir. Mengikuti acara yang dipandu oleh pemimpin keagamaan.

Upacara melasti di Jepara, dilakukan empat hari sebelum Nyepi. Nyepi tahun 2026 ini, jatuh pada Kamis (19/3).

Persembahyangan ini menjadi ritual sakral, dalam rangkaian menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. 

Sejak pagi hari, umat telah berkumpul di sejumlah pura di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji. 

Prosesi diawali dengan atur piuning, doa permohonan izin kepada Sang Hyang Widhi. Dilaksanakan di Pura Dharma Loka, Pura Puser Bumi, Pura Giri Tungka, dan Pura Manggala Dharma. 

Sekitar pukul 07.00, rombongan kemudian bergerak menuju Pantai Tirta Samudra Bandengan, untuk melaksanakan ritual penyucian diri dan alam.

Sesampainya di pantai, umat mengikuti kirab dari area parkir hingga bibir laut. Di sana, rangkaian upacara dilanjutkan dengan mecaru dan persembahyangan Melasti yang berlangsung khidmat hingga sekitar pukul 11.45. 

Suasana khidmat tampak ketika doa-doa dipanjatkan, dengan latar hamparan laut utara Jawa yang berombak.

KHIDMAT: Prosesi persembahyangan Melasti di Pantai Bandengan Jepara pada Minggu (15/3). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
KHIDMAT: Prosesi persembahyangan Melasti di Pantai Bandengan Jepara pada Minggu (15/3). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jepara, Ngarbianto, mengatakan upacara melasti merupakan simbol penyucian diri dan alam semesta. 

Sebelum umat menjalani Catur Brata Penyepian saat Nyepi. 

Dalam prosesi ini, berbagai perlengkapan persembahyangan dari pura juga disucikan, yang diyakini sebagai tirta amerta atau sumber kehidupan.

“Tahun ini umat yang mengikuti melasti sekitar 700 orang. Dari wilayah eks-Karesidenan Pati, meliputi Jepara, Kudus, Pati, Blora, Grobogan, hingga Rembang. Semuanya tersentral di Jepara,” ujar Ngarbianto usai menjalani persembahyangan.

Menurutnya, banyak umat Hindu dari daerah sekitar memilih bergabung di Jepara, karena jumlah umat di daerah masing-masing relatif sedikit. 

Dengan berkumpul di satu lokasi, prosesi melasti dapat dilakukan lebih khidmat, sekaligus mempererat kebersamaan antarumat dari berbagai daerah.

MENDALAM: Umat tampak berdoa menghadap ke samudera luas. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
MENDALAM: Umat tampak berdoa menghadap ke samudera luas. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Setelah persembahyangan selesai, prosesi dilanjutkan dengan larung banten atau pelarungan sesaji. 

Sesaji tersebut berisi berbagai unsur kehidupan seperti buah-buahan, sayuran, hasil bumi, serta ayam dan bebek.

Ini dilakukan sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada alam semesta serta Dewa Baruna, penguasa lautan.

Satu per satu banten yang telah didoakan kemudian dilepas ke laut. 

Beberapa umat terlihat menangkupkan tangan di dada, memejamkan mata, dan menundukkan kepala ketika sesaji itu hanyut bersama arus. 

ANTUSIAS: Para umat tengah mengikuti prosesi persembahyangan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Para umat tengah mengikuti prosesi persembahyangan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Momen ini menjadi pengingat. Tentang hubungan manusia dengan alam yang harus dijaga dalam keseimbangan.

Menjelang tengah hari, umat juga mengikuti prosesi nunas nugraha atau memohon berkah.

Umat melakukan perebutan gunungan lanang dan gunungan wadon, yang melambangkan keseimbangan alam. 

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan dan makan bersama, yang mempererat kebersamaan umat.

Menurut Ngarbianto, rangkaian menyambut Nyepi sebenarnya telah dimulai sejak beberapa waktu sebelumnya. 

Umat lebih dulu melakukan kegiatan kebersihan lingkungan di rumah ibadah dan kediaman masing-masing. 

Selain itu, mereka juga melaksanakan Saka Boga Sevanam, kegiatan sosial seperti pembagian takjil kepada umat Muslim. Serta penyaluran paket sembako kepada sesama umat Hindu.

Momentum Nyepi tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan Ramadan. 

Namun bagi masyarakat Jepara, perbedaan itu justru menjadi penguat harmoni. 

Ngarbianto menilai toleransi antarumat beragama di daerah tersebut telah terbangun dengan baik, bahkan Desa Plajan dikenal sebagai kampung moderasi beragama.

“Kami sangat menghargai saudara-saudara Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Selama ini tidak ada persoalan, semuanya saling menghormati,” tanggapnya.

Ia menambahkan, nilai kebersamaan itu sejalan dengan semangat Melasti yang tidak hanya dimaknai sebagai penyucian diri secara spiritual. 

Akan tetapi juga sebagai momentum memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, serta dengan alam sekitar.

Rangkaian Nyepi berikutnya akan dilanjutkan dengan mecaru pada Rabu (18/3) di Pura Puser Bumi Desa Plajan. 

Upacara ini merupakan persembahan kepada Bhuta Kala, yang melambangkan kekuatan alam semesta dan energi yang perlu diseimbangkan agar kehidupan tetap harmonis.

Selanjutnya, pada Kamis (19/3) pukul 06.00 hingga Jumat (20/3) pagi, umat Hindu akan menjalani Catur Brata Penyepian. Yakni amati geni, amati karya, amati lelungan, amati lelangunan.

Empat pantangan utama tersebut artinya, tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. 

Setelah itu dilanjutkan dengan Ngembak Geni, atau penanda berakhirnya Catur Brata Penyepian dan dimulainya kembali aktivitas normal.

Ngembak Geni menjadi simbol menyalakan kembali ‘api kehidupan’ sebagai awal yang baru.

“Menghidupkan api kembali dalam diri manusia. Baik api pribadi ataupun api secara nyata,” imbuhnya.

Melasti tahun ini mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju.” 

Membawakan pesan, jika seluruh manusia adalah satu keluarga besar yang hidup di bumi yang sama.

Bagi umat Hindu yang hadir di Pantai Bandengan pagi itu, Melasti bukan sekadar ritual tahunan. 

Di tengah debur ombak dan semilir angin laut, mereka memaknai prosesi ini sebagai upaya membersihkan diri dari segala kotoran batin. Sekaligus memohon keseimbangan alam semesta menjelang pergantian Tahun Baru Saka.

Sesaji-sesaji yang telah dilarung perlahan menjauh dari dermaga, terbawa arus laut utara. 

Sementara para umat kembali melangkah pulang dengan harapan baru. Memasuki Nyepi dengan hati yang lebih bersih, damai, dan penuh penghormatan kepada alam serta sesama manusia.

“Kita semua bersaudara, kami tetap menghormati saudara Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Begitupun sebaliknya,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#Melasti Jepara #Nyepi 2026 #PHDI Jepara #Ngarbianto #Tahun Baru Saka 1948 #Umat Hindu Karesidenan Pati #Toleransi Beragama Jepara #Kampung Moderasi Plajan #Mecaru Nyepi #Catur Brata Penyepian #Tradisi Hindu Jawa Tengah #Upacara Keagamaan Jepara #Larung Banten Bandengan #umat hindu jepara #hari raya nyepi #ritual melasti #larung sesaji #ngembak geni #pantai bandengan