JEPARA — Lengking suara sinden bersahutan dengan merdunya langgam gamelan, mengalun dari Kawasan Pecinan Welahan, Selasa-Rabu (3-4/3) malam-pagi.
Sumbernya dari serambi Kelenteng Hok Tek Bio Welahan yang temaram oleh cahaya lampion merah.
Di bawah gantungan lampion yang berderet rapi, seperangkat gamelan ditata berhadap-hadapan dengan kelir.
Wayang-wayang kulit berjajar di sisi kanan dan kiri kotak kayu. Aroma dupa tipis, menciptakan suasana khidmat sekaligus hangat.
Pukul 21.00 WIB, warga mulai berdatangan. Turut duduk lesehan di pelataran Kelenteng. Menyatu dengan barisan para penabuh gamelan.
Malam kian larut, beberapa warga memilih beranjak pulang. Namun sang dalang, terus melanjutkan lakon yang dibawakannya.
Pagelaran wayang kulit semalam suntuk itu digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan Cap Go Meh.
Tradisi Tionghoa yang menandai hari ke-15 setelah Imlek tersebut. Di Welahan, dirayakan dengan sentuhan budaya Jawa.
Ketua Yayasan Pusaka Kelenteng Welahan, Dicky Sugandhi, menyebut pagelaran wayang menjadi simbol harmoni yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat.
“Wayang ini bukan hanya tontonan, tapi tuntunan. Di kelenteng ini, budaya Jawa dan Tionghoa tidak dipisahkan. Justru saling menguatkan,” ujarnya di sela pertunjukan.
Malam itu, lakon yang dibawakan Ki Dalang Waroto adalah Wahyu Sawah Sandang Pangan, yang kerap pula disebut Wahyu Sandang Pangan atau Sri Mulih/Sri Boyong.
Cerita tersebut mengangkat tema kemakmuran, kesejahteraan, dan kelestarian pertanian. Tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat agraris.
Dalam kisah itu, wahyu atau anugerah kesejahteraan digambarkan tidak turun begitu saja.
Melainkan hadir melalui laku, kesabaran, kejujuran, serta kepemimpinan yang berpihak pada rakyat kecil.
Ada pesan bahwa sandang dan pangan bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan simbol keadilan dan keseimbangan hidup.
Di tengah dominasi warna merah dan ornamen khas Tionghoa, kisah tentang Dewi Sri—lambang kesuburan dalam tradisi Jawa—seakan menemukan rumah keduanya.
Gamelan berpadu dengan arsitektur kelenteng, menciptakan lanskap budaya yang tak biasa namun terasa akrab.
Bagi warga, pagelaran ini bukan sekadar hiburan tahunan. Ia menjadi ruang temu lintas generasi.
Para orang tua mengenang masa kecil ketika wayang menjadi tontonan utama. Sementara anak-anak belajar memahami bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan.
Filosofi yang mengalir dari malam itu sederhana namun mendalam. Harmoni lahir dari penerimaan. Seperti halnya gamelan yang terdiri dari beragam instrumen dengan bunyi berbeda, namun menyatu dalam satu irama.
Wayangan semalam suntuk di serambi kelenteng itu bukan lagi sekadar pagelaran. Namun satu napas kebersamaan, sebagai Tionghoa, maupun sebagai masyarakat Jawa.
Dicky menyebut, hal itu dapat menjadi cermin kehidupan. Bahwa kemakmuran dan kedamaian tumbuh ketika budaya saling merangkul, bukan saling meniadakan.
“Gamelan dan wayangnya ini milik Kelenteng. Kami setahun bisa menggelar pertunjukan hingga tujuh kali. Semalam suntuk, mulai pukul 10.00 hingga 16.00 serta 22.00 hingga 04.00 dini hari,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya