Mendikdasmen Soroti “Schooling Without Learning”, Dorong Deep Learning dan Pendidikan Bermakna

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Rabu, 4 Maret 2026 | 14:14 WIB

APRESIASI: Rektor Unisnu Jepara Abdul Djamil (kedua dari kanan) serta Ketua Yaptinu Shodiq Abdullah (kanan) memberikan kenang-kenangan kepada Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti usai Seminar Nasional (4/3).
APRESIASI: Rektor Unisnu Jepara Abdul Djamil (kedua dari kanan) serta Ketua Yaptinu Shodiq Abdullah (kanan) memberikan kenang-kenangan kepada Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti usai Seminar Nasional (4/3).

JEPARA — Rabu (4/3) siang, tidak seperti hari biasa pada umumnya. Terutama bagi civitas akademika di lingkungan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, termasuk Kepala Sekolah Madrasah, SMA atau SMK sederajat di Jepara.

Mereka mengikuti Seminar Nasional, dengan tema Pembelajaran Mendalam Menuju Generasi Berkualitas di Era 5.0.

Agenda yang terselenggara di Auditorium Lantai IV Perpustakaan Unisnu Jepara tersebut, dihadiri oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu'ti.

Di awal paparannya, Mendikdasmen memantik dengan membahas kesenjangan antara kelompok tradisionalis dan modernis, termasuk konvergensi abangan dan santri hingga konvergensi politik, yang kini semakin menipis. 

Menurutnya, hal itu tidak lepas dari pengaruh pendidikan.

“Gap antara tradisionalis dan modernis hampir tidak ada. Itu terjadi karena pendidikan. Pendidikan agama diajarkan di semua jenjang,” sebutnya.

Ia menekankan pentingnya visi pendidikan bermutu bagi semua, melalui pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam. 

Konsep tersebut, katanya, bukan sesuatu yang baru. Namun perlu diperkuat dengan perubahan strategi mengajar dan pembenahan dari dalam sistem pendidikan.

“Deep learning bukan hal baru. Tapi kita perlu memperbaiki dari dalam. Mengubah (strategi mengajar) guru dan isi pembelajaran,” tegasnya.

Abdul Mu'ti turut menyoroti fenomena schooling without learning, yakni kondisi ketika peserta didik bersekolah namun tidak benar-benar memahami apa yang dipelajari. 

Gejala ini, menurutnya, terlihat dari kemampuan literasi dan numerasi siswa.

“Anak bisa membaca, tapi tidak paham yang dibaca. Bisa berhitung, tapi tidak punya logika numerasi. Menghafal itu tidak salah, tapi kalau menghafal tanpa memahami maknanya, itu yang menjadi masalah,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembelajaran selama ini cenderung menekankan ulangan reproduktif dan mengejar ketuntasan minimal (KKM). Sehingga siswa sekadar mengejar nilai tanpa makna. 

Ke depan, materi pelajaran akan disederhanakan menjadi yang paling esensial (most essentials).

"Tidak perlu banyak-banyak. Sedikit yang dipelajari, tapi bermakna,” katanya.

Pendekatan baru ini mengedepankan prinsip mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menyenangkan), serta aplikatif dalam kehidupan nyata.

Lebih lanjut dijelaskan, dalam konsep deep learning, proses belajar ditentukan oleh tiga hal. 

Pengalaman awal yang dibawa siswa (prior knowledge), proses pembelajaran, dan produk atau hasilnya. Kunci utamanya adalah perhatian (attention).

“Proses mental itu yang kita fokuskan. Bagaimana siswa memahami informasi, menyimpannya dalam memori jangka pendek dan panjang, lalu menggunakannya,” paparnya.

Ia juga menyoroti tantangan era digital. Di mana anak-anak terbiasa terpapar konten singkat seperti short video. Hal ini disebutnya berdampak pada rentang perhatian yang semakin pendek. 

Kondisi ini memunculkan cultural lag, yakni ketertinggalan perilaku di tengah kemajuan teknologi.

“Teknologinya canggih, tapi perilakunya belum siap. Karena itu, kita perlu membangun keadaban digital,” katanya, seraya menyinggung negara seperti Finlandia dan Norwegia yang dinilai berhasil membangun budaya belajar dan karakter peserta didik.

Abdul Mu'ti menekankan bahwa tugas guru tidak berhenti pada menyiapkan, mengajar, dan menilai. 

Guru juga harus membimbing serta meningkatkan kualitas peserta didik.

“Tugas guru itu ada lima: menyiapkan, mengajar, menilai, membimbing, dan meningkatkan kemampuan. Tidak boleh berhenti di tiga yang pertama,” tegasnya.

Ia mendorong pendekatan humanistik yang memuliakan peserta didik. 

Setiap anak, sambungnya, memiliki kemampuan dan fitrah akliyah yang berbeda-beda.

“Apapun keadaan dan kemampuan intelektualnya, harus kita muliakan. Kuncinya di situ,” ujarnya.

Selain itu, ia menyoroti lemahnya kepemimpinan generasi muda yang ia istilahkan dengan “3L: lemot, lelet, loyo”. 

Untuk mengatasinya, diperlukan pembiasaan, yang membentuk kepribadian dan akhirnya melahirkan budaya belajar yang kuat.

Sementara itu, Rektor Unisnu Jepara Abdul Djamil menyampaikan bahwa kampus yang dipimpinnya terus berupaya mengembangkan berbagai program studi, mulai dari ekonomi, sains dan teknologi, hingga hukum Islam. 

Saat ini, jumlah mahasiswa tak kurang dari 8.000. Berasal dari Kabupaten Jepara dan sekitarnya. “Ini bagian dari ikhtiar mencerdaskan bangsa,” tanggapnya.

Pada saat yang sama, Ketua Umum Yayasan Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Jepara (YAPTINU) Jepara, Shodiq Abdullah, menambahkan bahwa Unisnu bukanlah universitas tradisional yang tertinggal zaman. 

Menurutnya, pembelajaran mendalam dalam konsep pendidikan Islam, harus mampu diimplementasikan secara progresif dan luas. Utamanya di Unisnu yang memiliki visi jangka panjang.

“Menghafal data harus disertai pemaknaan dan dihubungkan dengan kehidupan nyata. Unisnu dapat menjadi pilihan untuk menimba ilmu jenjang S1 maupun S2,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Deep Learning madrasah unisnu bermakna sekolah abdul mu'ti mendikdasmen pembelajaran